Izin

311 16 4
                                        

“Kita punya kendala, Allah punya kendali. Disaat kita memiliki banyak masalah, serahkan semuanya kepada Allah. Karena Allah yang memegang kendali atas alam semesta.”

°°°


Sudah berhari-hari semenjak kejadian dimana Sakilah terciduk oleh Gusnya. Ia justru merayu sang Papa agar dikembalikan ke pondok pesantren At Taqwa. Gadis itu memang sempat pulang beberapa hari yang lalu, disaat Gus Abhizar memberikan perintah untuk kembali ke rumah selama satu bulan. Namun, dengan kuasa sang Papa ia jadi hanya beberapa hari saja di rumah. Setelahnya ia kembali ke pesantren. Dan saat ini, gadis itu kembali membuat masalah.

Bagaimana tidak, ia datang ke ndalem untuk menemui Ning Saffa, entah apa yang ingin ia bicarakan.

“Ning, saya tau Ning Saffa perempuan yang kemungkinan besar tidak akan bisa hamil, kan?” tanpa berpikir perkataannya menyakiti hati Ning Saffa atau tidak. Sakilah justru berucap seperti itu.

Mendengar perkataan dari Sakilah hati Ning Saffa mencelos, hatinya sakit. Bagai ditusuk belati tajam. Rasanya sakit sekali ada perempuan yang berkata seperti itu, bahkan rasanya tidak pantas untuk mengatakan itu.

“Maksud kamu apa Sakilah?” tanya Ning Saffa kebingungan. Sakilah datang tiba-tiba, dan menanyakan pertanyaan hal yang membuat hatinya sakit. Apakah Sakilah tidak berpikir bahwa perkataannya ini menyakiti hati Ning Saffa.

Sakilah memegang kedua tangan Ning Saffa seperti memohon. “Saya minta izin, tolong restuin Gus Abhizar nikahin saya!” ucapnya memohon.

Tak terasa air mata Ning Saffa membasahi pipinya. Dengan gerakan cepat ia menghapus air matanya. “M-maksudnya apa kamu bicara seperti ini Sakilah? Apa pantas kamu memohon untuk di nikahkan suami saya? Saya rasa suami saya yang tidak ridho dengan ini,”

“Tolong Ning, saya mohon izinkan Gus Abhizar poligami. Saya akan jadi madu yang baik buat Ning, saya hanya ingin dinikahin sama Gus Abhizar,”

“Saya tidak bisa! Saya permisi dulu, Assalamualaikum ” tanpa menunggu jawaban dari Sakilah, Ning Saffa berjalan dengan langkah cepat menuju kamarnya.

Di ndalem memang tidak ada siapa-siapa, sebab Abi dan Umi sedang ada acara di pondok pesantren temannya, sedang suaminya mengajar di asrama putra.

°°°

Sepulangnya Gus Abhizar dari asrama putra, ia langsung menemui istrinya. Melihat tidak ada di ruang tengah, Gus Abhizar menyusul ke kamarnya, dan ternyata istrinya tidak ada, namun ia mendengar suara gemericik air di dalam kamar mandi. Itu artinya istrinya sedang mandi.

Gus Abhizar berjalan mendekati pintu kamar mandi, kemudian memanggil istrinya. “Sayang?”

Panggilan pertama belum ada jawaban, Gus Abhizar kemudian memanggil kembali istrinya, dan barulah mendapatkan sahutan dari dalam kamar mandi.

Tak lama setelah itu, pintu tersebut terbuka dengan pemandangan ning Saffa yang tengah memakai jilbab bergo menutup dada dan gamis berbahan rayon.

“Udah pulang mas?” suaranya terdengar serak, seperti habis menangis.

“Kamu abis nangis?” tebak Gus Abhizar.

Benar, Ning Saffa habis menangis sejak perkataan yang keluar dari mulut Sakilah. Rasanya masih membekas, bahkan jika diibaratkan dengan luka yang menganga disiram air garam. Perih.

Keikhlasan Cinta {Slow Update}Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang