“Kalau takdirnya dan takdirmu terikat, maka siapapun tidak akan bisa memisahkan, kecuali Allah.”
—Muhammad Abhizar Al Birru
•
•
•
Setiap helaan nafas panjangnya menyiratkan bahwa ia tidak bisa berbuat apa-apa selain pasrah. Lelaki berjubah putih itu tunduk begitu dalam. Untuk kali ini, ia kalah dengan ego sang Abi. Harusnya dia tidak setuju dengan hal konyol seperti ini. Harusnya ia sedang bahagia bersama istri tercintanya.
“Dek ... Maafin mas ya, dek? Maaf, mas udah ngelanggar janji mas waktu itu ...” lirih Gus Abhizar yang tengah tertunduk lemah.
Tinggal menghitung hari pernikahannya dengan Sakilah akan terlaksana. Menolak pun ia tidak bisa, karena ini semua menyangkut pesantren dan juga keluarganya. Andai saja ia tidak mengikuti permintaan sang Abi, mungkin saat ini ia sudah menjemput sang istri di rumah mertua nya. Sudah dua Minggu istrinya itu tidak pulang ke pesantren, dari menenangkan diri karena masalah yang ada. Gus Abhizar memang mengizinkan istrinya menenangkan dirinya, mungkin itu yang terbaik.
Namun, di satu sisi ia juga tidak tega melihat sang istri yang begitu rapuh. Pasti istrinya membutuhkan dirinya sebagai suami. Gus Abhizar sudah gagal menjadi suami yang baik untuk Saffa. Lelaki itu sudah melanggar aturan yang sudah mereka buat untuk tidak berpoligami.
Tenda sudah terpasang dengan rapi, lampu-lampu yang sudah terpasang juga sudah menyala dengan sangat terang. Rumahnya pun sudah di hias dengan sebegitu indah oleh tukang dekor. Persiapan ini begitu matang, namun hatinya justru tidak bisa menerima ini.
Tidak bisa menerima takdir konyol seperti ini. Mengapa harus dia? Kenapa tidak kakaknya saja? Lagi-lagi Gus Abhizar berpikir bahwa dia sajalah yang selalu di kekang oleh abinya. Yang selalu dituntut untuk menuruti perintah sang Abi.
***
“Mas ...” lirih Ning Saffa menatap dalam mata suaminya.
“Iya habibaty? Kenapa sayang?”
“Aku takut mas ...” tiga kata itu yang keluar dari bibir mungil Ning Saffa. Kembali air matanya mengalir.
Gus Abhizar merengkuh tubuh kecil istrinya, mengusap bahunya lembut guna menenangkan hati Ning Saffa.
“Selama mas ada di samping adek, kamu ngga usah takut. Mas akan selalu melindungi istri mas ini, mas akan selalu menjadi suami yang siaga, adek nggak perlu takut yah? Ada mas kok,”
“Aku takut kalau nanti kita nggak punya anak, terus nanti kamu poligami aku, aku takut ...” racau Ning Saffa masih dalam pelukan hangat suaminya.
“Astaghfirullahal’adzim ... Kenapa adek berpikir seperti itu? Wallahu, mas ngga akan poligami adek, dan kalaupun nanti kita belum bisa memiliki keturunan, mungkin Allah punya rencana yang terbaik buat kita. Mas ngga papa, kok, ngga punya anak. Yang penting mas selalu bisa sama kamu berduaan, nggak ada yang lain.”
Hatinya berdesir mendengar perkataan suaminya. Selembut inikah hati suaminya? Maka Ning Saffa sangat beruntung bisa memiliki suami seperti Gus Abhizar.
“Dengar mas yah dek, nggak akan ada istri kedua, ketiga dan seterusnya. Hanya adek satu-satunya istri mas, dan cukup kamu istrinya mas. Mas bahagiaaa banget bisa menikah sama kamu, mas juga bersyukur sama Allah telah menyatukan kita berdua. Tetap sama mas yah dek? Apapun yang terjadi nanti didalam rumah tangga kita, harus dihadapi berdua,”
KAMU SEDANG MEMBACA
Keikhlasan Cinta {Slow Update}
EspiritualTentang keikhlasan hati seorang istri yang ingin mendapatkan surga-Nya. Padahal, meraih surga dalam rumah tangga bukan hanya merelakan suami saja. Ada banyak cara untuk meraih surga bersama-sama. Namun, apakah langkah Ning Saffa ini sudah tepat? Dia...
