Wedding Syar'i

459 16 0
                                        

“Saat saya menjabat tangan papamu, maka disitulah tanggung jawab papamu beralih pada saya, dan saya akan menjaga dan mencintaimu dengan ikhlas.”
-Gus Abhizar

----------------

Suasana rumah keluarga Anwar sudah rapi dengan dekorasi pelaminan yang terpisah. Dan juga para tamu laki-laki dan perempuan pun terpisah, sengaja Gus Abhi mengambil konsep syar’i, pernikahan yang sesuai syariat Islam. Beberapa menit lagi ijab qobul akan dilaksanakan, hanya ada keluarga Saffa, Gus Abhi sekeluarga dan juga sahabat terdekatnya yang menyaksikan ijab qobul tersebut. Sedangkan untuk acara resepsi akan diadakan ba’da Maghrib nanti, karena Gus Abhi yang meminta supaya waktu sholat nya tidak tertinggal. Karena banyak sekali orang-orang yang lalai dalam sholat ketika mereka mengadakan acara pernikahan. Makanya mengapa Gus Abhi ingin pernikahan ini syar'ii. Agar berkahnya sampai kepada mereka.

Saffa sudah siap dengan gaun pengantin warna putih tulang, kerudung yang menutup dada senada dengan gaunnya, diatas kepalanya terhias mahkota yang membuat seorang Saffana Nasha Fawzia bak seorang bidadari surga, MaasyaaAllah. Cantik dan anggun saat Saffa memakai gaun tersebut, mungkin nanti saat Gus Abhi menjemput lelaki itu akan terpesona dengan kecantikan yang dimiliki oleh Saffa.

Ditemani oleh dua sahabatnya, yakni Qia dan Zaara. Mereka saling berpelukan melepaskan sahabat yang selalu ada untuknya, sahabat dikala sedih, ia selalu ada untuk membantunya. Kini, Qia dan Zaara melepaskan Saffa untuk suaminya, mereka juga bahagia karena Saffa sudah menemukan pendamping hidupnya. Tersisa mereka berdua yang nantinya akan menyusul Saffa ke pelaminan.

“Aku masih nggak nyangka loh, kamu udah mau jadi istri orang,” ucap Zaara yang masih dalam pelukan. Ia sangat terharu, ia bahkan sempat tidak suka kepada Saffa karena Arkan yang selalu saja mendekati Saffa, Zaara cemburu.

“Iya, Saf, aku terharu huhuu...” sambung Qia penuh haru. Mereka sudah seperti keluarga sendiri, bahkan Qia dan Zaara menganggap Saffa ini saudara kandung nya sendiri.

“Semoga kalian cepat nyusul yah,” ucap Saffa lalu melepas pelukannya.

“Jangan nangis dong,” kata Saffa sambil mengelap air mata kedua sahabatnya.

“Hmm terharu, masih nggak nyangka aja,” sahut Zaara.

“Semoga kelak, rumah tanggamu Allah jadikan sakinah mawadah warahmah, yang membawamu ke Surganya Allah Subhanahu wata’ala. Aamiin ya rabbal ’alamin,” Zaara mendoakan Saffa. Kemudian mereka pun mengaminkan.

Sedangkan di luar rumah, sudah ada mempelai pria yang sudah siap menjabat tangan Anwar–Papa Saffa. Gus Abhi dan keluarganya menginap di salah satu hotel yang ada di Jakarta, karena agar tidak terlalu jauh dengan jarak rumahnya. Semua keluarga Gus Abhi ikut menyaksikan ijab Kabul yang nantinya akan diucapkan oleh lelaki yang kini sedang duduk dihadapan wali dan saksi. Banyak pasang mata yang memandang ketampanan Gus Abhi, sebab beliau memakai jubah putih, diatas pecinya terpasang rapi sorban putih. Hidung mancungnya, bola mata yang berwarna kecoklatan, membuat Gus Abhi semakin ganteng, seperti orang Arab.

“Ya Ananda Muhammad Abhizar Al Birru, bagaimana sudah siap untuk mengucapkan ijab qobul?” tanya petugas KUA.

“Bissmillah, siap, pak!” ucapnya yakin. Bahkan sangat yakin.

Anwar sebagai wali dari mempelai wanita itu sudah siap dan menggenggam tangan Gus Abhi. Begitupun dengan Gus Abhi, tangannya sudah menggenggam tangan lelaki yang sebentar lagi akan menjadi mertuanya.

Keikhlasan Cinta {Slow Update}Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang