“Ujian dalam rumah tangga itu akan selalu ada. Allah yang memberikan, pun Allah yang akan membantu kita untuk melewati ujian ini.”
•Keikhlasan Cinta•
•
•
•
•
“Kila?! Apa yang kamu ucapkan barusan?” ucapnya tak percaya. Sakilah yang tadinya fokus teleponan dengan sang papa, matanya membelalak, kaget. Melihat kedatangan teman sekamarnya yakni Risa.
“Ica?! Sejak kapan Lo ada disitu?” kagetnya.
“Sejak kamu bilang Ning Saffa menginginkan Gus Abhizar menikah dengan kamu, jangan terlalu mengkhayal, Kil. Gus Abhizar nggak mungkin mau nikah sama kamu!” ucapnya sambil bersedekap didepan pintu.
“Kenapa nggak mungkin? Ning Saffa aja udah ngizinin Gus Abhizar buat nikahin gue, kyai sama Bu nyai juga udah restuin gue, kok!” ia mengelak dari ucapan Risa.
Risa hanya bisa menggeleng kepalanya, melihat kelakuan temannya itu membuat Risa banyak-banyak istighfar. Tapi untuk kali ini, sikap Sakilah sudah keterlaluan. Bisa-bisanya dia nekad untuk menjadi istri kedua Gus nya. Lagipula, istri mana yang ikhlas suaminya menikah lagi? Tidak ada. Kalau pun ada, mungkin memang itu sudah takdirnya.
“Aku nggak habis pikir sama kamu, Kil. Bisa-bisanya merusak rumah tangga Gus kita, jadi ini yang kemarin kamu bahas dengan Ning Saffa di danau?”
“Kan gue udah bilang, apapun pasti bakalan gue dapetin. Seorang Sakilah akan selalu mendapatkan apa yang dia mau!” ia tersenyum miring.
Sakilah menyelonong pergi meninggalkan Risa yang masih berdiri didepan pintu.
***
“Rencananya kami dan sekeluarga akan bertamu esok lusa, pak,” ucap Kyai Helmy barusan membuat sang istri mengernyitkan keningnya, heran. Menatap suaminya dengan tatapan bertanya-tanya.
“Baik, pak Rudy, saya akan menepati janji saya,” setelah mengucapkan kata itu, Kyai Helmy memutuskan sambungan teleponnya. Seketika beliau menghela nafas panjang.
“Abi..., apa yang abi lakukan?” tanya umi Farah meminta penjelasan.
“Mi .., mungkin ini yang terbaik buat kita dan juga pesantren kita, mi,” jawab kyai Helmy. Sejujurnya, beliau juga belum sepenuhnya ikhlas tentang hal ini, namun tidak ada yang bisa beliau lakukan selain cara ini.
“Tapi, Bi .., Abi tega sama anak-anak kita? Saffa, baru aja kena musibah abis operasi, apa Abi nggak kasihan sama mereka? Belum lagi, Abhi keliatan nggak setuju banget sama keputusan Abi, dia kelihatan lebih pendiam seperti biasanya, Umi hanya kasihan pada mereka bi, menjalani rumah tangga belum ada satu tahun, tapi Abi sudah mengambil keputusan yang membuat mereka merasakan sakit,” panjang lebar sang istri menasihati suaminya, namun kyai Helmy hanya diam dan kembali menghela nafas panjang.
Umi Farah benar, Ning Saffa baru saja mendapatkan ujian dengan kondisi kesehatannya, belum lagi ucapan santri-santri yang membuat mentalnya drop, bahkan pikirannya saat ini sudah tidak tenang akibat masalah yang datang bertubi-tubi dalam hidupnya. Menenangkan diri dari pesantren memang hal yang tepat yang diambil oleh Ning Saffa.
“Umi cuma nggak mau ngeliat Abhi terus murung di dalam kamar, nggak mau makan setelah Saffa izin buat pulang ke Jakarta untuk nenangin dirinya, hiks ...,” akhirnya air matanya tidak bisa ditahan. Umi Farah terisak di hadapan suaminya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Keikhlasan Cinta {Slow Update}
SpiritualTentang keikhlasan hati seorang istri yang ingin mendapatkan surga-Nya. Padahal, meraih surga dalam rumah tangga bukan hanya merelakan suami saja. Ada banyak cara untuk meraih surga bersama-sama. Namun, apakah langkah Ning Saffa ini sudah tepat? Dia...
