Berpisah Untuk Kembali

332 14 2
                                        

“Disaat Allah memberikan kepadamu ujian yang bahkan orang lain nggak bisa jalaninnya, sedang kamu mampu melewatinya, maka percayalah, Allah memang memilihmu untuk menjadi hamba yang kuat.”

•Keikhlasan Cinta•



Setiap orang menginginkan kebahagiaan dalam rumah tangganya, namun ketika dia diuji dengan rumah tangga itu, terkadang ia lupa bahwa yang memberikan ujiannya adalah Allah. Dia marah, dia kecewa, dia ingin protes terhadap kehendak Tuhan, namun jika diingat kembali siapa yang memberikan ujian itu, bukan semata-mata untuk menjadikan dia lemah, melainkan menjadikan dirinya kuat.

Saffa, meratapi nasibnya sendiri yang entah kapan akan berakhir ujian rumah tangganya. Kapan ia akan mendapatkan kebahagiaan itu? Kenapa Allah terus mengujinya? Kenapa bukan yang lain? Dia ingin marah, dia ingin protes terhadap kehendak Tuhan. Kenapa harus dia yang terus diberikan ujian? Pikiran itu terus bersarang.

Namun,

Ketahuilah, bahwa ketika Allah menguji seorang hamba, disitulah letak keimanan kita akan diuji. Bukan semata Allah tidak sayang, justru itu Allah peduli, Allah tengah memperhatikan kita. Dia ingin kita bersabar atas apa yang Allah berikan.

Saffa sempat marah terhadap takdir Tuhan, namun lagi-lagi orang-orang di sekitar mengingatkan bahwa jangan pernah marah terhadap takdir Tuhan. Bukan tanpa sebab Allah memberikan ujian kepadanya. Justru dengan adanya ujian, kita lebih dekat kepada Allah.

“Ya Allah .., sungguh, inikah ujian yang engkau berikan kepada rumah tangga hamba?” perempuan itu menengadahkan tangannya. Berdoa kepada sang pencipta.

“Jika memang engkau memberikan ujian ini kepada hamba, maka kuatkan lah hati hamba, berikan kesabaran serta keikhlasan hati untuk menghadapi semua ini,”

Terkadang kita butuh seseorang untuk berkeluh-kesah, mengeluarkan semua unek-unek yang terpendam dalam hati. Butuh pendengar yang setia dan baik, yang mau menemani hingga akhir. Namun, Saffa memilih untuk menjauh sementara, bukan untuk berpisah. Melainkan untuk menenangkan dirinya agar tak bersedih terlalu lama. Mungkin ini jalannya, mungkin ini pilihan yang tepat untuknya. Berpisah untuk kembali.

“Kakak!” panggil seseorang dari luar kamarnya, kemudian Saffa langsung beranjak untuk membuka percakapan pintu.

“Kenapa dek?” tanyanya ketika melihat Ilham yang berada di depan pintu kamarnya. Ilham mengamati wajah sang kakak. Terlihat sembab.

“Kakak nangis, lagi?” entah yang ke berapa kali pertanyaan lagi itu dari bibir Ilham. Sebab, semenjak sang kakak sampai di rumahnya terus saja menangis.

“Nggak papa, kamu ada apa manggil kakak?” tanyanya dengan suara seraknya, seperti sehabis menangis, tapi memang Saffa habis menangis.

“Dibawah ada kak Qia sama kak Zaara, samperin gih,” ujar Ilham, kemudian setelah mengatakan itu Ilham meninggalkan sang kakak yang masih mematung di depan pintu.

Sedang, Saffa buru-buru memperbaiki penampilannya. Menghapus air mata yang masih tersisa, ia sedikit memoles wajahnya dengan bedak dan memakai lipstik yang tak terlalu merah, hanya terlihat natural. Supaya tidak terlihat pucat. Namun tetap terlihat cantik.

Setelahnya, ia memutuskan untuk keluar dari kamar. Menuruni anak tangga, sampai di anak tangga terakhir matanya melihat kedua sahabatnya yang sudah lama tidak bertemu. Semenjak dirinya menikah dan diboyong oleh suaminya, hampir tidak pernah ia bertemu kedua sahabatnya itu. Terakhir bertemu saat dirinya wisuda tahfidz dan hari ulang tahunnya, mereka datang untuk memberikan surprise untuknya.

Keikhlasan Cinta {Slow Update}Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang