"Semua takdir Allah pasti akan indah, meskipun ada banyak air mata untuk menjalaninya."
-Keikhlasan Cinta
°°°
Dibalik tembok pesantren ada dua orang yang wajahnya tertutup masker hitam. Semuanya laki-laki yang berbadan besar dan tegap. Entah apa yang akan mereka lakukan, yang pasti mereka akan melakukan hal yang sudah menjadi kehendak pesuruhnya.
Salah satu laki-laki yang memegang dirijen putih yang berisi bensin, sedangkan satunya lagi sudah menyiapkan korek api dan kertas untuk menjadi bahan bakarnya.
Lingkungan di pesantren sangat sepi disaat malam hari, sehingga memudahkan aksi mereka berdua tanpa ada yang melihat, mungkin sudah ada yang beristirahat dari pekerjaan atau bahkan para santri sedang berada dalam kamar masing-masing. Biasanya memang di jam sebelas malam seperti ini, santri diberikan waktu istirahat dan akan beraktivitas kembali di jam tiga pagi untuk melakukan ibadah-ibadah wajib lainnya. Seperti sholat tahajud diwajibkan bagi santri pesantren At Taqwa, jika tidak mengerjakan maka akan dikenakan takzir atau hukuman.
Sedangkan di dalam kamar Gus Abhizar dan Saffa, mereka masih terjaga. Kantuknya tak kunjung datang, membuat Saffa masih terjaga dan alhasil Gus Abhizar pun ikut terjaga.
"Mas ..." panggil Saffa lirih, Gus Abhizar menatap lekat wajah teduh istrinya.
Posisi Saffa kini duduk di kepala ranjang, sedang Gus Abhizar berbaring menghadap ke istrinya. "Kenapa dek?" tanyanya seraya mengubah posisinya menjadi duduk sejajar dengan Saffa. Tangan lelaki itu menggenggam tangan istrinya.
"Mas, gimana kalau nanti mas beneran menikah sama Sakilah? Apa aku bisa seikhlas istri Nabi, mas?"
"Hiks ... Hiks ... Aku bukan perempuan yang kuat seperti istri-istri Nabi yang dipoligami, mas. Aku bukan perempuan sekuat itu ..."
Pernyataan yang keluar dari bibir mungil Saffa lantas membuat Gus Abhizar merengkuh tubuh kecilnya. Ia juga tidak ingin hal itu terjadi. Dia menginginkan rumah tangga yang utuh, rumah tangga yang tanpa ada makmum lainnya, hanya Saffa istrinya sebagai makmum saat ini dan selamanya.
"Sayang... Dengerin mas, ya?" Saffa masih sesenggukan, ia berusaha tenang.
"Apapun yang terjadi nanti, mas akan tetap setia sama kamu, mas akan selalu menjadi suami idamannya Saffa, mas akan menjadikan kamu satu-satunya pendamping hidup mas, tolong percaya sama mas ya, sayang?" kini Gus Abhizar menggenggam erat tangan istrinya, diusapnya pelan punggung tangan itu.
"Mas janji ya, apapun yang akan terjadi nanti tetap jadi suaminya Saffa?" Gus Abhizar mengangguk berkali-kali.
"Janji, mas janji akan menjadi suaminya Saffa, dan nggak ada yang lain,"
***
Kebakaran terjadi di Pesantren At Taqwa saat malam hari, dengan api yang sangat besar membuat gedung-gedung pesantren hangus terbakar. Di sisi kanan api sangat besar, sehingga membuat bangunan itu ambruk seketika, habis dibakar api.
Asap tebal membubung tinggi, menyelimuti langit malam yang biasanya tenang. Jeritan dan tangisan memecah kesunyian, mengiringi kepanikan para santri yang berhamburan menyelamatkan diri. Kobaran api menjilat dinding bangunan kayu, mengeluarkan bunyi retakan yang menakutkan. Bau asap menyengat menusuk hidung, membuat sesak napas. Para santri berlari tunggang langgang, membawa apa saja yang mereka bisa.
KAMU SEDANG MEMBACA
Keikhlasan Cinta {Slow Update}
SpiritualTentang keikhlasan hati seorang istri yang ingin mendapatkan surga-Nya. Padahal, meraih surga dalam rumah tangga bukan hanya merelakan suami saja. Ada banyak cara untuk meraih surga bersama-sama. Namun, apakah langkah Ning Saffa ini sudah tepat? Dia...
