Kenangan

299 10 2
                                        

Karena yang menjadi takdirmu, akan menemukan jalannya sendiri.”

—Keikhlasan Cinta

Cek typo!!


Flashback beberapa Minggu lalu...

Sebuah bangunan bertingkat nan mewah itu terlihat indah. Bangunan yang tinggi menjulang itu bisa dikatakan sebuah kantor pusat PT. Gautama Corps. Seorang perempuan dengan hijab pashmina nya dilengkapi dengan celana kulot berwarna hitam tengah berdiri di depan bangunan tersebut.

“Non Kila?” ucapan seorang membuat Sakilah menengok ke sumber suara.

“Eh, Pak Asep! Apa kabarnya?” Sakilah menyengir, kemudian bertanya kabar kepada satpam yang baru saja memanggilnya.

Satpam yang bernama pak Asep ini memang sudah mengenal Sakilah. Karena sejak Sakilah kecil, ia selalu dibawa ke kantor sang Papa.

“Baik, non. Bukannya non Kila Pesantren? Kok bisa ada disini?” tanya pak Asep terlihat bingung. Yang dia ketahui, anak majikannya ini memang pesantren karena dikirim oleh sang papa.

“Aku izin pulang, pak. Kangen Papa sama Ibun,” ucap Sakilah berbohong.

Sakilah tidak izin untuk pergi keluar pondok, perempuan itu diam-diam memisahkan diri dari teman-temannya.

Pak Asep hanya mengangguk mengerti, percaya saja pada Sakilah.

***

“Papa!” teriak perempuan itu menghampiri pria paruh baya yang masih terlihat gagah dan tampan.

“Ya ampun, anak papa kok bisa sampai sini? Sama siapa?” pertanyaan demi pertanyaan ia lontarkan kepada sang anak. Masih dalam pelukan kerinduan itu, Sakilah masih diam tak menjawab.

Sang papa membiarkan anaknya itu memeluknya erat. Setelah beberapa menit, Sakilah melepaskan pelukannya.

“Kamu kenapa pulang?” tanyanya lagi. Sakilah menggelengkan kepalanya.

“Ada masalah di pondok? Kenapa bisa sampai sini?” dengan lembut sang Papa bertanya sembari memegang kedua pipi sang Anak.

“Pokoknya Kila harus nikah sama Gus Abhizar, Pa!” ucapnya sedikit meninggi.

“Papa harus lakuin sesuatu biar Kila bisa menikah sama Gus Abhizar! Kalo tidak, Kila akan nekat bunuh diri!”

“Sayang... Papa sudah berbuat sesuatu untuk bisa menikahkan kamu dengan Gus Abhizar, ayo kamu ikut papa ke ruangan,” sang Papa mengajak Sakolah ke dalam ruangannya.

Disinilah mereka duduk di sofa yang berada di sudut ruangan. Ruangan yang sangat luas dan ber-AC ini berhadapan langsung dengan gedung-gedung pencakar langit. Jendela kaca yang besar langsung memperlihatkan betapa indahnya kota Jakarta jika dilihat dari atas.

“Beneran papa sudah melakukan sesuatu untuk Kila?” tanyanya untuk meyakinkan.

“Benar, sayang. Papa nggak bohong. Dan Papa juga sudah menyuruh orang untuk membuat pesantren kacau.”

Rudy Gautama akan nekat melakukan apapun demi sang anak. Karena dia tahu, bahwa anaknya pun akan nekat melakukan hal yang di luar dugaannya. Dulu, Sakilah sering balapan liar. Bahkan hampir seminggu tidak pulang ke rumah karena di larang untuk balapan lagi, dan akhirnya Rudy memutuskan untuk memasukkan anaknya ke pesantren milik temannya yang tak lain adalah Kyai Helmy.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jul 07, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Keikhlasan Cinta {Slow Update}Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang