"Aku akan berusaha untuk ikhlas, meskipun ikhlas itu berat."
-Saffana Nasha Fawzia
•
•
•
•
Mentari pagi bersinar begitu cerah, cahaya nya memasuki celah jendela kamar yang terbuka sedikit dengan gorden putih yang menjuntai. Seseorang yang masih berselimut tebal itu masih menutup matanya, enggan untuk membuka mata. Padahal sejak subuh tadi ia sudah melaksanakan shalat, tapi setelahnya ia memutuskan untuk tidur lagi, karena merasa tubuhnya kurang sehat. Demam yang ia rasakan saat ini, bahkan tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan melihat seseorang yang sangat dicintainya menikahi perempuan lain.
Hari ini seharusnya Saffa sudah bersiap-siap untuk pulang ke rumah suaminya, yaitu ke pondok pesantren At Taqwa.
Namun badannya justru terasa panas dingin, kepalanya juga terasa pusing dan mual. Mungkin ini akibat ia jarang makan dan asam lambungnya kambuh lagi.
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan pintu membuat Saffa menggeliat, ia membuka matanya perlahan.
"Kak, Mamah masuk ya?"
"Iya, Mah," jawabnya dengan suara parau. Seperti habis bangun tidur.
Tak lama lagi, sosok perempuan paruh baya itu muncul dibalik pintu kamarnya. Berjalan mendekati sang anak, dengan memegang nampan berisi sarapan pagi. Tadi, setelah subuh Mama Fairuz berinisiatif membangunkan Saffa. Akan tetapi, Saffa mengeluh kepada sang Mama karena badannya demam.
"Ayo sarapan dulu, kak! Mamah udah masakin kamu bubur," Mama Fairuz menyimpan nampan diatas nakas yang berada di samping tempat tidur Saffa.
"Mah, hari ini aku harus balik ke Jombang," katanya sembari merubah posisinya menjadi duduk.
"Kak, kamu lagi kurang sehat loh, mamah nggak kasih izin kamu pulang hari ini, ya. Nanti aja kalau kamu udah sehat," omel sang Mama.
"Tapi, mah ... Aku harus segera balik. Lusa mas Abhi kan mau nikah," ujarnya.
Keluarga Saffa sudah tahu kalau Gus Abhizar akan menikah lagi. Ya, Saffa menceritakan semuanya kepada keluarganya tanpa harus ia tutup-tutupi. Mamah dan Papanya juga sangat kaget ketika mendengar keputusan sang anak, namun Saffa memberikan pengertian kepada mereka bahwa ini memang kemauannya.
"Iya, mamah tahu, tapi bagaimana kita mau kesana? Kalau kamu aja sakit begini," protes sang Mama.
"Aku baik-baik aja, Mah. Cuma sedikit pusing, tapi beneran aku nggak papa," pungkasnya.
"Yaudah, kamu sarapan dulu gih, nanti kita berangkat bareng yah, Arham sama Ilham juga katanya mau ikut," Saffa mengangguk menanggapi perkataan sang Mama.
***
Perjalanan dari Jakarta ke Jombang, Jawa Timur menempuh waktu berjam-jam untuk sampai di Pesantren At Taqwa. Saat ini, Keluarga Saffa sedang berada di satu mobil, dengan sopir pribadi Papahnya yang mengendarai mobil. Sang Papah berada di samping sopir, Mamah dan Saffa duduk dibelakang kemudi, sedang Arham dan Ilham duduk di paling belakang dekat bagasi mobil.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang, melewati berbagai kota besar. Melewati pegunungan yang sejuk dan segar, membuat mata serasa tak ingin menoleh ke arah lain. Saffa fokus menatap pandangan melalui jendela mobilnya, namun pikirannya justru berada di tempat lain. Ia memikirkan sang suami yang hanya menghitung hari pernikahan itu segera terlaksana. Memang ini maunya, namun mengapa hatinya begitu remuk?
KAMU SEDANG MEMBACA
Keikhlasan Cinta {Slow Update}
SpiritualTentang keikhlasan hati seorang istri yang ingin mendapatkan surga-Nya. Padahal, meraih surga dalam rumah tangga bukan hanya merelakan suami saja. Ada banyak cara untuk meraih surga bersama-sama. Namun, apakah langkah Ning Saffa ini sudah tepat? Dia...
