“Jangan pernah berhenti untuk berjuang, sebab dari awal aku sudah yakin bahwa kamu memang jodohku. Aku akan berjuang sampai akhir.”
•
•
•
Cinta. nyatanya cinta akan membuat seseorang menjadi terlihat seperti orang bodoh. Boleh kita mencintai, namun sewajarnya. Jangan sampai rasa cinta itu melebihi cinta kita kepada Allah. Jangan menjadi bodoh hanya karena cinta. Allah tidak melarang kita untuk mencintai seseorang, namun Allah memberi peringatan bahwa jangan terlalu mencintai seseorang hingga kamu lupa, bahwa yang sebenarnya kamu cintai itu bukan makhluknya, melainkan yang menciptakan makhluk itu sendiri.
“Saf, aku kok, kayak ngeliat kamu tuh dari tadi sedih gitu wajahnya, kenapa?” tanya Zaara yang sedari tadi memperhatikan wajah Saffa. Sedang, Saffa membuyarkan lamunannya.
“Eh, kenapa Zaa?” tanyanya bingung.
Zaara berdecak, “tuhkan, kamu pasti lagi ngelamun, ada masalah ya sama Gus Abhizar?” tanya Zaara penuh telisik.
“Cerita aja Saf, kamu tuh kayak sama siapa aja. Aku, Zaara itu sudah seperti saudara kamu, tau nggak! Coba ceritakan masalahnya,” ujar Qia meyakinkan Saffa untuk bercerita.
Mungkin memang sudah saatnya, kedua sahabatnya itu tahu akan masalah apa yang dia hadapi saat ini. Bukan untuk mendapatkan rasa belas kasihan, melainkan ia hanya ingin berbagi sedikit keresahannya selama ini. Sebab, pertemanan mereka sudah bertahun-tahun, dari dulu tidak ada yang di tutup-tutupi dari mereka. Semuanya akan bercerita ketika ada masalah. Saffa menceritakan bagaimana awal masalah rumah tangganya mulai tergoncang. Dari Sakilah yang meminta izin kepada Saffa agar suaminya diberikan izin untuk menikah dengan gadis itu. Sampai dia yang menyuruh suaminya untuk menikah lagi, semua dia ceritakan.
“Astaghfirullah, Saf! Kamu yang bener aja, masa nyuruh Gus Abhizar nikah lagi!” protes Qia pada Saffa. Gadis itu tahu, Saffa tidak akan sekuat itu ketika di poligami. Bertahun-tahun lamanya ia tentu tahu bagaimana sifat sahabatnya itu.
“Saf, lebih baik kamu pikirkan lagi tentang permintaan kamu itu, jangan sampai kamu menyesal nantinya, meskipun aku sama Qia belum ada pengalaman berumah tangga, tapi aku tahu. Poligami nggak semudah itu, lagipula aku yakin. Kamu nggak benar-benar ikhlas melepas Gus Abhizar untuk menikah lagi, bukan?” tutur Zaara membuat Saffa menundukkan kepalanya. Tanpa disangka air mata yang sedari tadi ia tahan, kini luruh membasahi kedua pipinya.
Melihat keadaan Saffa, kedua sahabatnya itu pun mengerti, mereka menghampiri tempat duduk Saffa, kemudian memeluknya. Memberikan support kepada Saffa. Qia dan Zaara paham bagaimana perasaan sahabatnya. Ya, mereka tengah berada di sebuah Cafe yang tak jauh dari rumah Saffa.
Qia mulai bersuara, “ maaf ya, Saf. Jadi buat kamu nangis, tapi aku nggak bermaksud buat kamu nangis,” ujar Qia yang diangguki Zaara.
“Iya, maafin aku ya, Saf. Karena perkataan aku, kamu jadi nangis begini,” sambung Zaara yang meminta maaf.
Saffa melepas pelukannya perlahan, menghapus air matanya dengan ibu jarinya.
Saffa menggeleng. “Nggak, kalian nggak salah, kok. Aku emang nahan nangis dari tadi. Makasih ya sarannya, aku ngga tahu langkah apa yang harus aku ambil ke depannya, tapi setelah cerita sama kalian, aku jadi jauh lebih tenang,”
“Iya, Saf. Kamu jangan menyerah ya? Perjuangin kisah rumah tangga kalian, aku yakin sekali, Gus Abhizar pasti sedih jauh dari kamu,” ucap Qia.
KAMU SEDANG MEMBACA
Keikhlasan Cinta {Slow Update}
EspiritualTentang keikhlasan hati seorang istri yang ingin mendapatkan surga-Nya. Padahal, meraih surga dalam rumah tangga bukan hanya merelakan suami saja. Ada banyak cara untuk meraih surga bersama-sama. Namun, apakah langkah Ning Saffa ini sudah tepat? Dia...
