Dua Makmum

309 11 5
                                        

“Jangan pernah takut kehilangan apapun, selagi Allah selalu bersamamu.”

—Keikhlasan Cinta




Langit yang terbentang luas menampakkan keindahan warnanya. Awan putih yang mengepul menjadi pasangannya. Hari ini tepat hari Jum'at yang penuh keberkahan, dengan cuaca yang cukup segar nan asri. Akan tetapi, suasana hati Ning Saffa sangat berbeda dengan suasana di luar sana.

Hari ini, suaminya akan mengucapkan ijab kabul atas nama perempuan lain, selainnya. Sakit? Bahkan jika ditanya sakit atau tidak. Sudah jelas Ning Saffa sangat merasakan sakit. Tapi mau bagaimana lagi? Dari awal ia juga yang mengizinkan suaminya menikah lagi. Jadi, jangan salahkan Gus Abhizar yang hendak menikah lagi.

“Sayang, sekali lagi mas minta maaf nggak nepati janjinya mas waktu itu...” entah kata maaf yang ke berapa, Gus Abhizar selalu meminta maaf kepada istrinya.

Ning Saffa memperlihatkan senyuman manis di hadapan Gus Abhizar. “Iya, Mas. Bukan salah kamu, tapi mungkin memang ini sudah menjadi jalan takdirku untuk berbagi suami kepada perempuan lain,” ucapnya berusaha meyakinkan dirinya agar terlihat baik-baik saja.

Kemudian Gus Abhizar meraih kedua pipi istrinya, lalu ia menempelkan keningnya di kening sang istri. Saling menatap satu sama lain. Saling memberikan kenyamanan, dan mungkin ini akan menjadi yang terakhir mereka berduaan sebelum kata sah itu melambung tinggi di hadapan Allah, Rasulullah dan para saksi nanti. Sebelum ada makmum lain, karena beberapa detik lagi, Gus Abhizar memiliki dua makmum.

Gus Abhizar sudah siap dengan jas berwarna hitam, dipadu peci yang senada dengan jasnya. Sarung putih dengan corak seperti batik itu menjadi pelengkap kostum hari ini.

“Mas, aku minta sama kamu, berbuat adil lah kelak jika Sakilah sudah menjadi istrimu...”

“Tapi, aku nggak akan pernah mencintai dia, cuma kamu dek ..., cuma kamu yang mas cintai sampai akhir hayat,” Ning Saffa tersenyum tipis, terlihat matanya berkaca-kaca. Namun, ia akan tahan air matanya.

“Nggak, mas. Kamu bisa mencintai Sakilah, karena mencintai yang dinikahi adalah wajib. Meskipun kamu belum ada perasaan apapun kepada Sakilah, aku minta kamu tetap perlakukan dia seperti mas memperlakukan aku ya, janji?”

Berat untuk menepati janji itu, jika pada akhirnya Gus Abhizar tidak bisa memegang ucapannya sendiri. Seperti... Sejak awal dia berjanji tidak akan pernah menduakan istrinya, namun takdir berkata lain. Kenyataannya, saat ini, beberapa detik lagi. Lelaki itu akan mengucapkan ijab kabul untuk yang kedua kalinya. Ingin rasanya marah terhadap takdirnya, namun ia tidak bisa berbuat apa-apa.

“Bahkan mas sendiri nggak bisa janji sama diri mas sendiri, dek. Mas nggak bisa janji ya, tapi akan mas usahakan,” balas Gus Abhizar seraya mengelus pipi istrinya lembut.

***

Disinilah Gus Abhizar, berhadapan dengan para saksi dan wali dari pihak mempelai perempuan. Suasananya hening, seluruh santrinya menghadiri acara pernikahan kedua Gus mereka. Banyak yang tidak menyangka bahwa Gus Abhizar akan menduakan istrinya. Padahal mereka sangat mengagumi sosok Gus Abhizar dan Ning Saffa. Mereka juga kagum dengan kedua suami-isteri itu yang sangat amat adem dan romantis. Namun, entah mengapa kabar hari ini menjadi kabar yang sangat menyakitkan bagi seluruh santrinya apalagi santriwati. Karena banyak santriwati yang kagum dengan sepasang suami-isteri itu.

Keluarga besar dari kyai Helmy sudah hadir semua, sama halnya dengan keluarganya mempelai perempuan yakni keluarga Sakilah. Biasanya resepsi ataupun akad nikah dilaksanakan di rumah mempelai wanita, namun ini terbalik. Pernikahan itu justru dilaksanakan di kediaman keluarga laki-laki. Yang mana acara digelar di pondok pesantren.

Yang menjadi pertanyaan besar adalah apakah keluarga besar pondok pesantren tidak malu melaksanakan pernikahan kedua dari anaknya? Apakah mereka masih punya muka di hadapan warga pesantren?

Sedang, keluarga Ning Saffa yang datang hanya keluarga inti saja. Kedua adiknya dan kedua orang tuanya. Mereka juga sudah menempati kursinya masing-masing.

Kini, di hari bahagia mereka, Ning Saffa bukan penonton yang terluka, melainkan saksi yang memberikan restu. Setiap kata ijab kabul yang diucapkan Gus Abhizar, setiap senyum lega yang terpancar dari wajah orang tua Gus Abhizar, ah, tidak tapi hanya abinya saja yang tersenyum lega, dan keluarga dari pihak mempelai wanita adalah bukti nyata dari keberanian mereka mengukir takdir yang berbeda.

Tangan Ning Saffa menggenggam erat tangan suaminya sesaat sebelum dia mengucap janji suci itu, sebuah isyarat bahwa Ning Saffa ada di sini, mendukungnya, memberikan ridho sepenuh hati.

Air mata ini bukan air mata kesedihan, melainkan haru. Haru akan kekuatan cinta yang mampu melampaui batas ego, haru akan keikhlasan yang membuka jalan bagi kebahagiaan yang lebih besar. Dia tahu, perjalanan ke depan tidak akan selalu mudah. Akan ada tantangan, akan ada penyesuaian. Tapi ia percaya, dengan landasan restu dan ridho yang tulus, mereka akan mampu melaluinya bersama. Karena cinta sejati, bukan hanya tentang memiliki, tapi juga tentang memberi, tentang berbagi, dan tentang menciptakan kebahagiaan dalam bentuk yang mungkin tak pernah mereka bayangkan sebelumnya.

Bayangan disaat suaminya melafalkan qobiltu lalu semua saksi mengucapkan kata ‘sah’ yang melambung tinggi, saat itu juga air mata Ning Saffa mengalir membasahi kedua pipinya. Bukan tangisan karena ia menyesal telah mengizinkan suaminya menikah lagi, melainkan tangisan bahagia, haru dan bangga. Ternyata, ia bisa berada di posisi ini. Posisi yang mana ketika perempuan lain sangat menolak keras suaminya poligami, tetapi dia dengan ikhlas nya melihat suami yang dicintainya menikah lagi. Adalah hal yang harus Ning Saffa banggakan ketika ia mampu menyaksikan janji suci suaminya. Karena tidak semua perempuan atau bahkan hanya sedikit perempuan yang rela berbagi suami.

Tiba-tiba saja pening di kepalanya mulai terasa, ia memijit pelipisnya pelan. Bertahan untuk tidak tumbang, ia harus kuat. Beberapa detik lagi, suaminya akan mengucapkan ijab kabul. Ning Saffa ingin menyaksikan suaminya menikah lagi.

Ya Allah, aku tahu ini sudah jalan takdir dari-Mu... Maka aku mohon kuatkan hatiku, jangan biarkan hati ini memendam perasaan tak suka terhadap apa yang kau takdirkan. Aku ikhlas jika memang ini adalah takdirku, ya Allah...

Setelah mengucapkan kalimat itu dalam hati, seketika tubuhnya ambruk di hadapan banyak orang.

Maka, jangan pernah takut kehilangan apapun, selagi Allah selalu bersama kita.

***

Hallo, Assalamualaikum 🙏🙌

Apa kabarnya kalian?
Masih nungguin nggak nih aku update cerita ini?

Jangan lupa buat kasih aku semangat yaa meskipun cuma vote atau komen aja. Udah seneng dan semangat walau cuma vote. Aku sedih, yang baca lumayan banyak tapi votenya masih sedikit 😌

Alhamdulillah part-nya udah sampe 40 Bab, itu artinya dikit lagi akan ending. So, ikutin terus cerita ini ya mentemen... Nanti aku bakalan kasih konfliknya and penjelasannya di Ending yaa...

See you next chapter 😍 🙌

Salam sayang,
Aliya Natasya

Keikhlasan Cinta {Slow Update}Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang