Mencari Bukti

258 14 4
                                        

“Jika Allah berkehendak, maka apapun akan dimudahkan jalannya.”

•Keikhlasan Cinta•



Sudah beberapa hari Gus Abhizar terus mencari bukti, namun sampai saat ini ia masih belum bisa menemukan sumber bukti yang kuat. Tidak ada kejanggalan dalam kebakaran pesantren At Taqwa, semuanya nampak seperti kebakaran murni karena konslet listrik.

Serpihan-serpihan kayu atau bekas reruntuhan bangunan pesantren sudah mulai di perbaiki. Banyak warga yang peduli terhadap pesantren, maka dari itu mereka semua bergotong royong untuk kembali membangun pesantren At Taqwa. Pembangunan ini sudah berjalan sejak sehari sesudah kebakaran terjadi.

Ada beberapa santri yang di pulangkan karena memang melihat kondisi pesantren yang tidak memadai untuk saat ini. Tetapi, ada juga santri yang tidak ingin di pulangkan alasannya karena mereka ingin membantu proses pembangunan pesantren At Taqwa. Kyai Helmy pun memberi izin mereka untuk membantu para tukang.

Hanya ada beberapa gedung yang tersisa, membuat santri-santri terpaksa harus di pulangkan.

Sedangkan di asrama putri, santriwati tengah bergotong royong membersihkan bekas reruntuhan. Mulai dari membersihkan halaman depan, sampai ada yang membersihkan kamar-kamar yang ada di asrama putri.

Tak semua gedung hancur, masih ada beberapa gedung yang tersisa termasuk beberapa kamar asrama putri.

“Maaf Ning, lebih baik Ning Saffa istirahat saja, biar kami yang membereskan semuanya.” ujar salah seorang santri. Melihat istri dari Gus nya yang sejak pagi membantu para santriwati, membuat mereka merasa tidak enak.

“Nggak apa-apa, Gina. Saya belum merasa capek, jadi saya masih mau bantu kalian,” kilah Ning Saffa, karena memang dirinya belum merasa lelah.

“Tapi, Ning...” ucapan Gina terputus, ketika melihat Ning Saffa menggeleng lalu tersenyum ke arah Gina dan memberikan isyarat bahwa ia tidak apa-apa.

“Kalian lanjut lagi, saya mau ke kamar Khadijah sebentar,” setelahnya Ning Saffa melangkahkan kakinya menuju asrama Khadijah.

Asrama putri memiliki beberapa kamar, dan mereka menamakan kamarnya dengan nama istri-istri Nabi.

“Assalamualaikum,” sapa Ning Saffa kepada santriwati yang tengah berada di dalam kamar Khadijah.

Semua santriwati bersalaman dengan Ning Saffa, kecuali ada satu santriwati yang tidak menyalami Ning Saffa. Sebenarnya Ning Saffa menolak untuk disalami seperti itu, namun apa boleh buat santriwati tetap kekeuh untuk menyalami nya, karena alasannya ingin menghormati istri dari Gus mereka. Padahal jika dibandingkan ilmu agamanya dengan mereka, Ning Saffa tidak ada apa-apa.

“Sakilah, ada Ning Saffa, kamu nggak mau salaman?” tanya Rika pada Sakilah.

Ya, santriwati yang enggan bersalaman itu adalah Sakilah. Sakilah Nazma Putri, santri yang beberapa waktu lalu telah meminta Ning Saffa mengikhlaskan suaminya —gus Abhizar untuk menikahinya.

“Nggak papa, Rika.” ujar Ning Saffa.

Sakilah menatap Ning Saffa dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Tatapan matanya tajam, tanpa senyuman. Semua santriwati tidak ada yang tahu tentang Sakilah yang ingin meminta suami Ning Saffa itu menikah dengannya.

“Kamu tuh ya, santri baru tapi kelakuannya udah kayak santri lama, udah gitu sering banget buat masalah di pondok!” omel Rika yang memang kurang suka dengan sikap Sakilah. Menurut Rika, Sakilah terlalu angkuh. Sikapnya yang sombong itulah yang membuat santriwati disini tidak menyukainya.

Keikhlasan Cinta {Slow Update}Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang