7. Ninu-ninu-ninuuu

9.3K 146 1
                                        

Yanda yang masih menyetir motor dengan kecepatan rendah kini melambaikan tangan ke arahku. Dia mengabaikan Nayula yang masih memutar-mutar bendera. Aku mengernyit pada cowok itu.

"Ninu-ninu-ninuuu," kata cowok itu sambil cengengesan. Yanda dengan sengaja banget menyetir motornya nemutariku tiga kali.

"Turun lo!" perintahku.

"Oke, Ayang!" sahutnya dengan ceria.

"Jijik!"

Aku hampir lupa kepribadian cowok itu saking banyaknya kejadian malam ini. Dih, amit-amit.

Oh Tuhan, aku tadi belum sempat mempersiapkan diri kalau ini yang terjadi. Sudah disulut jengkel enek sama Nayula, emosiku juga tambah campur aduk karena perkataan Gaib.

Aku jadi belum sempat memikirkan bagaimana kalau misal Miki menang atau malah Yanda yang menang.

Kalau Miki menang, berarti aku harus menghadapi cowok-cowok itu plus Reana dan Nayula yang jelas-jelas punya muka dua di belakangku. Kalau Yanda yang menang ... aku bakal pisah sama teman-temanku, aku harus ninggalin geng yang susah-susah kujaga nama baiknya.

Tapi belum siap mentalku ini, tau-tau mereka berdua sudah wush muncul di garis finish.

Dan ... kenapa sih mesti dia yang menaaang?!

Aku nggak mau! Nggak! Nggak! Nggak mau pokoknya!

Kenapa sih malah Yanda yang menang?!

Para anggota geng Cobalt langsung bersorak-sorai menyelamati ketua geng mereka. Sementara para anggota geng Sakti terlihat kaget karena Miki kalah. Yah, ini kali pertama Miki kalah sejak dua tahun dia menjadi ketua geng. Wajar saja mereka kaget.

Berhubung aku sudah kesal dengan cowok itu, aku sih nggak lagi merasa simpati akan kekalahannya.

Lebih ke jengkel. Siapa coba yang tadi sok-sokan bilang, Lo pikir gue bakal kalah?

Halah nye nye nye!

Sekarang kamu kalah Miki! Kalah! Dan aku yang bakal kena getahnya. Hiih, rasanya pengen kucakar-cakar muka cowok itu. Minimal harusnya kamu menang doong!

"Lo lihat tadi—eh maaf ralat—kamu lihat tadi kan? Aku menang loh!" seru Yanda sambil nyengir malu-malu.

Ngapain kamu malah malu-malu kucing hah? Kamu pikir aku bakal muji-muji kamu gitu?

"Nggak, gue nggak lihat, ulang lagi balapannya," kataku jengkel.

"Eeh masa nggak lihat?" tanya Yanda dengan ekspresi kecewa.

Cowok itu sudah melepas helmnya dan menyugar rambut ke belakang hingga nggak lagi menutupi dahinya.

Hmm aku memang nggak bisa memungkiri kalau sebenarnya cowok itu ganteng. Hidungnya mancung dan kemerahan gara-gara dingin, tapi matanya yang tajam membuat wajah cowok itu punya selling poin yang bagus. Seandainya otaknya nggak sedeng!

"G," ujarku dengan gigi terkatup gemas.

Bibir Yanda monyong, cowok itu lalu berkata, "Yaah, padahal aku kan sudah usaha biar kamu—"

Tiba-tiba Miki membunyikan klakson motor dengan keras dan cukup lama, menginterupsi perkataan Yanda.

"Diem lo bajingan!" sembur Yanda ke Miki. Suaranya begitu keras sampai-sampai aku berjengit kaget. Cowok itu mengacungkan jari pada Miki, yah bisa kalian tebak sendiri jari yang mana itu.

Miki datang menyetir motor dengan pelan ke arah aku dan Yanda. Aku cemberut karena Miki kalah, dan cowok itu membonceng Nayula yang tersenyum penuh kemenangan ke arahku.

Hello, Fifi! 21+ [End]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang