12. TIDAAAAK!

3K 131 8
                                        

Hai, tenang dulu! Gue mau ngasih penjelasan ye:v

Awalnya cerita ini mau gue tulis imut suci dan polos. Tapi jiwa bejat gue menang so yaah bakal ada adegan gitu

••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••

Seumur-umur, aku nggak pernah ciuman. Lebih tepatnya nggak pernah soalnya aku cuma mau nyium Miki. Cowok lain selain Miki sama dengan ENGGAK MINAT! MINGGIR LO!

Ibarat kata, otakku yang moengil ini terlalu penuh sama cowok berkulit sawo matang itu. Aku jadi nggak nafsu sama cowok lain, nggak doyan. Jiwa feminin ini cuma berbunga-bunga sama Miki.

Tapi ...

Ciuman Eka cuma sebatas nempelin bibir gitu. Ya sekadar cup! Udah. Aku melongo, sementara Eka meringis. Kalau ada kata yang tepat buat menggambarkan situasi itu maka aku pilih konyol!

Hasilnya ciuman pertamaku nggak ada romantis-romantisnya. Seakan Eka kesambet terus Halo, Fifi ciuman yuk! Cup muah!

"Sori, aku beneran suka sama kamu, Fifi, udah lama banget sejak kita temenan ... tapi kamu nggak pernah peka."

"Lo-lo mabok ya?!" tanyaku cengo.

"Semoga gitu," kata Eka.

Harusnya ya ... harusnya aku mukul Eka, harusnya kutabok cowok ini keras-keras karena nyium tanpa permisi. Tapi mungkin karena syok, kaget nggak terkira. Tanganku jadi nggak sempat mendorong mundur badan Eka waktu ia kembali merapatkan diri.

Dan kemudian, kecupan singkat itu berubah jadi intens. Maksudnya intens adalah ... Eka menahan tengkukku, cowok itu lalu memiringkan kepala. Posisi mulut kami jadi pas dan ... badanku rasanya meleleh kayak cokelat kepanasan.

Eka menyelipkan lidah masuk. Aku yang kaget mau teriak tapi malah langsung dimanfaatkan Eka. Akhirnya ciuman itu makin dalam dan aku kepayahan menanggapi Eka. Mulutku penuh, lidah ini kebingungan mau lari ke mana karena gimana pun kugerakkan, Eka dengan lihai menjilat dan mengulum lidahku.

Rasanya pengen kusembur cowok ini dengan berkata, WOE! TENGAH HARI BUTA DI TEMPAT UMUM GINI MALAH CIPOKAN!

Tapi nggak bisa, Eka ternyata lebih kuat dari yang kubayangkan. Tenaga kedua tanganku yang mendorong cowok itu cuma sia-sia. Oh ternyata ... bibir cowok kenyal juga.

"TIDAAAAK!"

PLAK!

"Adaw!" seru Eka.

Ciuman itu akhirnya lepas. Aku terengah-engah dan limbung hampir jatuh, tapi Eka lebih sial. Cowok itu ditendang hingga menubruk kursi besi taman.

BRUKK!!

"Ouch! Sialan kamu!" seru Eka.

"LO YANG SIALAN BANGKE! BAJINGAN!"

Cowok yang menyemburkan umpatan itu adalah anak dosenku, Yanda. Aku terbengong-bengong, masih kaget karena ciuman Eka ditambah kemunculan Yanda yang entah dari mana.

"No no nooo! Bibir suci Fitznina ternodaaa!" Yanda berseru dramatis. Cowok itu menyambar bahuku, dan tanpa babibu ia langsung--demi patahnya hatiku karena Miki--menciumku.

Cup!

"Gaah! Lepas--lepasin guee!!" jeritku panik. Takut banget!

Cup! Cup! Cup! Cowok itu terus menciumi bibirku.

"YANDAAA!" raungku. Akhirnya kujambak dengan kasar rambut kepalanya.

Tapi Yanda menolak mendengarkan. Yanda--buset--cowok itu malah nangis, matanya berkaca-kaca tapi penuh amarah. Dengan lengan kemeja, Yanda mengusap-usap bibirku. Enggak peduli lipstikku jadi mengotori bajunya, cowok itu dengan paksa membersihkan mulutku.

Hello, Fifi! 21+ [End]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang