Saat mobil Reana sudah melaju, aku kembali membuka ponsel dan mengecek chat di grup geng Sakti. Tapi meski sudah men-scroll sampai jauh ke atas, aku tetap nggak menemukan chat yang membahas Miki bakal balapan malam ini.
"Nggak ada kok ...," kataku.
Oh, di grup inti kali ya?
Aku lalu membuka grup inti geng Sakti yang berisikan aku dan empat cowok lainnya. Iya, meski aku ini cewek tapi aku anggota inti geng motor. Begini-begini aku tuh lumayan jempolan kalau cuma masalah balapan motor, kan sudah kubilang aku ini memang tomboi.
Bang Sakti, pendiri geng motor Sakti yang menunjuk Miki sebagai ketua, tau bahwa kami berlima sudah berteman sejak SMP. Makanya beliau bilang daripada kami berpisah, dan kebetulan aku toh jago naik motor, dia mengiyakan bahwa aku anggota inti bersama dengan tiga cowok lainnya. Jadilah nggak ada yang berani mendebat posisiku, hehe.
Namun, aku tetap nggak menemukan pembahasan soal balapan ini. Biasanya kalau ada balapan apalagi Miki yang balapan bakal kami bahas dulu di grup. Soalnya Miki sebagai ketua geng kan nggak boleh sembarangan main gas aja.
"Reana, lo tau soal balapan Miki malam ini?" tanyaku.
Reana yang tengah sibuk menyetir di kursi kemudi menjawaku tanpa menoleh dengan berkata, "Iyalah, kan Miki sendiri yang ngasih tau kemarin."
"Kemarin?" tanyaku yang masih belum puas. "Oh, kemarin kalian kumpulnya? Miki ngasih tau pas kalian kumpul?"
Reana membelokkan mobilnya. Kami sudah sampai di arena balapan. Di luar sana sudah banyak orang berkumpul dan dapat dipastikan mereka adalah anggota geng Sakti beserta lawan kami malam ini.
"Nggak kok, Miki ngasih tau cowok-cowok di grup kemarin," jawab Reana. "Mereka ribut banget loh awalnya, tapi Miki ngotot mau balapan."
Aku yang duduk di kursi penumpang depan menatap Reana bingung. "Di grup? Grup yang mana kok aku cek nggak ada, ini aja Gaib kirim pengumuman di grup ngasih tau anggota buat kumpul baru setengah jam lalu."
Reana sepertinya sudah gemas karena aku banyak tanya langsung menjawab, "Itu looh di grup Anti Fifi, yang nggak ada-" Cewek berambut pirang itu tiba-tiba terdiam seakan baru menyadari sesuatu. Reana menoleh ke arahku dengan wajah memucat.
Aku juga menyadari sesuatu itu. Kulepas sabuk pengamanku lalu menatap langsung ke mata Reana. "Grup yang nggak ada Fifi?" tanyaku dengan gigi terkatup.
Reana yang aku tau memang gampang gugup langsung panik, tapi aku nggak peduli. Kubuka pintu mobil lalu berlari keluar.
"Fi-Fifi tunggu!" seru Reana di belakangku.
Miki, Dewa, Eka, dan Gaib sudah berkumpul di dekat jalan aspal arena. Motor mereka diparkir dan helm ditenteng, tiga cowok itu terlihat santai melihat Miki yang tengah memakai sarung tangan. Anggota geng Sakti yang lain juga berkumpul di dekat mereka sambil bercanda.
Melihatku datang, Eka melambaikan tangan padaku dan menyengir jahil seperti biasanya. "Wiih, akhirnya kamu sampai Fi, geng sebelah juga baru datang tuh," kata Eka sembari menepuk bahuku. Saat cowok itu melihat wajahku, cengiran di wajahnya berubah menjadi ekspresi heran. "Eeeh mukamu kok sepet gitu, Fi. Kamu sakit ya? Baru nyadar lagi datang bulan apa gimana-"
"Anti Fifi itu maksudnya apa Ka?" tanyaku pelan hingga mungkin hanya Eka yang mendengarnya.
Cowok itu langsung menarik tangannya dari bahuku. Mata Eka melebar, kaget akan pertanyaanku tapi cowok itu nggak menyangkal kalau dia tau soal grup bernama Anti Fifi. Malahan Eka berekspresi seakan merasa bersalah padaku.
Aku nggak butuh rasa bersalah. Yang kubutuhkan saat ini adalah penjelasan kenapa mereka membuat grup tanpa adanya aku di dalamnya? Kenapa Anti Fifi? Kenapa aku?
"Mana hp lo, Ka. Gue pinjam bentar," pintaku sembari mengulurkan tangan ke Eka.
"Fi, kamu sebentar—"
"Kasih hp lo Ka!" desakku.
"Fi, aku-"
"Laaah parah nih!" Dewa berseru dramatis. "Lu kok ninggalin Reana sih Fi, kasian tuh dia lari-larian di belakang lu."
Reana yang baru sampai langsung menubruk Dewa dan bersembunyi di belakang pacarnya. Dewa terlihat heran dengan tingkah pacarnya yang seakan takut denganku.
"Kenapa nih? Kalian berantem di mobil? Ngeributin apa sih cewek-cewek ni heran gue," gerutu Dewa. "Lo nggak ngapa-ngapain Reana kan Fi? Lo kan kuat banget kek buldoser."
"Dewa," panggil Eka dengan suara menegur.
"Hah kenapa?" Dewa bertanya balik.
Suara knalpot motor yang masuk ke arena semakin ramai. geng lawan telah tiba di arena balap. Puluhan cowok dengan motor gede mereka masing-masing menggeber knalpot dengan suara keras seakan mengejek kami. Semua mengenakan jaket yang sama dengan bordiran gambar api biru membakar ular ouroboros.
Sekarang aku tau siapa lawan Miki malam ini. Kutolehkan kepala ke arah Eka dengan ekspresi sengit. "Kenapa ... geng Cobalt ke arena kita?"
Gaib dan Miki yang melihat keanehan di antara kami juga ikut mendekat. Gaib dengan ekspresi heran sementara Miki memasang ekspresi datar. "Kenapa sih kalian? Reana sakit?" tanya Gaib.
Emosiku tersulut karena banyak alasan. Pertama, aku nggak tau soal balapan Miki padahal biasanya aku yang mengatur soal balapan. Kedua, tentang gru yang dibicarakan Reana. Dan sekarang geberan knalpot dari geng musuh bebuyutan kami membuat urat marahku seakan dipelintir.
"A-aku ... nggak sengaja bilang ke Fifi soal-"
Sebelum Reana selesai berbicara, aku memotong kalimatnya.
"Reana bilang kalau kalian bahas soal balapan malam ini di grup lain," kataku. "Kenapa nggak di grup inti? Kenapa kalian nggak ngasih tau aku seakan balapan ini nggak penting? Kalian bersikap seakan ini cuma balapan biasa padahal lawan kalian Cobalt?!" tanyaku marah.
"Balapan malam ini urusan gue," sahut Miki.
Aku menoleh dari Eka ke Miki. Cowok itu menatap langsung ke mataku, nggak seperti biasanya yang cuek dan enggan. Miki terlihat siap mendebat semua yang akan kuteriakkan padanya.
"Yang kalian tantang itu geng Cobalt! Lo nggak ingat dulu janji kita ke Bang Sakti buat nggak berurusan lagi sama mereka?!" tanyaku ke Miki.
"Gue punya alasan," jawab Miki. "Balapan ini juga nggak penting karena akhirnya gue juga yang bakal menang."
"Sorry to say tapi itu bukan jawaban yang mau gue dengar, Mik. Emangnya alasan lo sepenting apa sampai lo mau ngeladenin Cobalt? Emangnya ada anggota kita yang diserang mereka? Apa anggota kita nyerang mereka?" tanyaku.
"Fi, tenang dulu," bujuk Gaib yang berdiri di sebelah Miki. "Miki nggak punya pilihan lain. Ketua Cobalt sendiri yang nantang kita buat balapan malam ini. Soal kenapa nggak di grup inti itu karena-"
"Dan maksud nama grupnya itu apa?" sengitku ke Gaib.
Cowok itu terdiam dan langsung melirik ke Reana, tapi buru-buru mengalihkan pandangan. Dewa menutupi Reana dari tatapan marahku, ekspresi Dewa nggak bisa kuartikan. Sementara itu Eka masih berdiri diam.
"Kenapa namanya Anti Fifi?" tanyaku. "Kalian punya grup tanpa gue buat apa? Ngomongin gue di belakang? Padahal tiap hari juga kita ketemu di kampus, di tongkrongan, hahahihi nggak ada masalah! Atau gue yang bodoh nggak sadar kalau gue ada salah sama kalian sampai kalian begini ke gue?"
Mereka diam nggak menjawabku. Tapi mereka juga nggak menundukkan kepala sebagai bentuk menyesal padaku. Hanya mengalihkan pendangan seakan pemandangan lain jauh lebih penting daripada protesku.
Hingga kemudian, Miki menghela napas.
"Gue nggak suka lo!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Hello, Fifi! 21+ [End]
RomansaFifi ingin menjadi pacar ketua geng motor yang sudah lama ia puja, Miki. Namun, ternyata Miki sudah menjadi selingkuhan Nayula yang masih berpacaran dengan Yanda, si ketua geng musuh mereka. Demi mencegah kerusuhan antar geng motor, Fifi akhirnya di...
![Hello, Fifi! 21+ [End]](https://img.wattpad.com/cover/368284288-64-k635474.jpg)