Enggak, aku nggak pingsan. Belum sempat sih. Soalnya Dewa buru-buru menyela sebelum aku sempat mencerna pertanyaan Eka.
"Eits topiknya seru banget tapi sori guys. Sekarang udah jam 1, dan kita harus balik ke kampus," kata Dewa sembari menarik lengan kemeja Eka.
"Ya tapi--" Kalimat Eka dipotong.
"Tunda dulu elah, gue tau lo penasaran tapi kuliah lebih penting," cerocos Dewa. "Lagian gue udah bilang kalau Fifi nggak mungkin pacaran sama si biru merah itu."
Biru merah maksudnya si Yanda, ketua geng Cobalt yang ikonik biru tapi rambutnya dicat merah.
"Tumben otak lo bener," cemoohku ke Dewa.
"Fi, mau aku bonceng aja?" tanya Eka.
Owa, Eka tersenyum manis sekali padaku. Aku pasti nggak sengaja nelan narkoba tadi, karena saat ini seakan ada bunga matahari yang segar bersemi di atas kepala cowok itu. Aura Eka jadi bagus dan cerah banget di mata ini. Aku tersipu-sipu sambil membayangkan dibonceng Eka. Namun, Dewa memutuskan buat mencabut kasar bunga matahari di kepala Eka.
"Emangnya Fifi bawa helm?" sahut Dewa lalu menampol kepala Eka. "Enggak boleh. Itu anak skandalnya masih bejibun kocak. Udah Fifi sama Reana aja sana, naik mobil."
Akhirnya kami berempat pergi ke kampus sesuai perintah Dewa. Aku naik mobil bersama Reana, sementara Dewa dan Eka naik motor masing-masing. Pundakku jadi ringan banget sekarang, ya masih ada masalah lain sih tapi nggak apa-apa kan soalnya--
Masalahnya langsung muncul di depan hidungku.
Jadi gini, sebelum semua kekacauan ini. Saat aku dan kawan-kawan masih 'kawan', aku pasti selalu duduk bareng mereka. Aku, Miki, Eka, Dewa, dan Gaib pasti duduk bareng kalau mata kuliah kami sama.
Dan ... canggung, alangkah canggungnya saat ini.
Aku sudah nggak kuliah seminggu, plus kemarin-kemarin duduk sendirian. Sekarang tiba-tiba kami duduk berempat lagi, cuma minus Gaib yang nggak masuk kelas.
Dewa duduk di depanku. Sementara itu, di sebelah kanan dan kiriku adaahahahah coba tebak? Ada Eka dan Miki!
Miki kocak bukannya kemarin dia paham harus pura-pura jauh dulu sama aku? Kenapa malah duduk di sebelah giniii?
Dua sks itu terisi dengan ketegangan. Aku nggak berani menoleh ke Miki maupun Eka. Kepalaku LURUS ke depan selama hampir dua jam. Hingga pukul 15.30, dosen mengakhiri kelas hari ini lalu ... dua cowok itu berdiri nyaris bersamaan.
"Fi, lo harus ikut gue."
"Fi, mau pulang bareng?"
"Gu-gue pulangnya dijemput Papa," sahutku cepat pada Miki dan Eka. Jawaban itu tersembur begitu saja dari mulutku tanpa berpikir.
"Oh iya? Gue kira lo bakal dijemput Yanda terus pulang bareng dia kayak kemarin," ucap Miki padaku.
Ucapan Miki lebih terdengar seperti sarkas. Yaaa kemarin kan aku sengaja mengabaikan Miki demi mengalihkan orang-orang itu dari kasus video. Apa dia salah paham terus marah ya? Aku nggak ngasih tau Miki soal rencana ini kan karena kalau aku kasih tau dia nggak bakal setujuuu! Cuma Yanda yang bisa aku manfaatin!
Tapi-tapi kan aku nggak bisa bilang yang sejujurnya di sini! Masih ada orang-orang lain loh! Kalau aku kelihatan dekat sama Miki sekarang mereka bakal curigaaa!
"Ngg ya itu, soalnya kami--"
"FITZNINAAA!" Suara itu berasal dari seseorang yang tengah kami bicarakan, Yanda. Cowok itu membuka pintu kelas lalu merentangkan tangan lebar-lebar. "Wahai masa depanku ayo pulang bareng!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Hello, Fifi! 21+ [End]
RomanceFifi ingin menjadi pacar ketua geng motor yang sudah lama ia puja, Miki. Namun, ternyata Miki sudah menjadi selingkuhan Nayula yang masih berpacaran dengan Yanda, si ketua geng musuh mereka. Demi mencegah kerusuhan antar geng motor, Fifi akhirnya di...
![Hello, Fifi! 21+ [End]](https://img.wattpad.com/cover/368284288-64-k635474.jpg)