40. Harus Bebas

2.8K 47 0
                                        

***

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

***

Aku anak baik.

Anak baik harusnya nggak suka bohong, kan? Nah, sekarang (untuk Tante Citra) lihat Fifi sudah jujur, loh!

Satu langkah kecilku berani mengakui kalau aku salah! Yippyy!

Sayangnya berbeda dengan Tante Citra, mereka--Mama dan Papa--malah marah. Aku nggak kaget, sih, kalau mereka bakal meledak setelah semua kelakuanku. Sekali lagi, sayangnya meski sudah menduga begitu, aku masih tetap takut menghadapi mereka.

Mama mondar-mandir di ruang tamu, menggigit ujung kuku jempol. Kutek merahnya terkelupas, tapi Mama nggak berhenti menggigiti kuku-kukunya. Papa duduk di sofa dengan tangan terkepal dan rahang mengeras, ekspresi Papa gelap. Aku berdiri di tengah ruangan, menatap mereka, daguku terangkat puas meski rasanya ingin kabur karena takut tiba-tiba ditampar.

Lihat! Aku Fifi dan aku bukan manusia munafik kayak kalian!

"Aku nggak menyesal!" seruku memecah keheningan tegang di ruangan itu, seperti panggung gelap yang seketika diterangi lampu sorot. Mama dan Papa langsung menoleh melemparkan tatapan murka padaku--di bawah topeng orang tua sabar palsu.

"Fifi, kamu gila?!" Jeritan Mama melengking menusuk telingaku. "Kamu sadar nggak apa yang baru aja kamu lakukan?! Mama sama Papa udah mati-matian nutupin masalah ini! Kami sudah beri pernyataan ke media, kami buang-buang uang demi bayar orang bersihin nama kamu! Tapi kamu malah mengaku?! Sengaja kamu mau ngehancurin keluarga ini?!"

"Ngancurin keluarga? Aku udah muak sama keluarga ini, Ma! Fifi udah lama jijik sama cara pikir kalian!" seruku. Nggak kalah mengotot dan melengking dari Mama, biar Mama tau kalau kali ini aku memang nggak mau mengalah. "Terus kenapa kalau hancur? Aku cuma jujur kalau itu emang kelakuanku kok! Aku muak jadi pembohong!"

Papa menggebrak meja begitu keras sampai aku tersentak. "ANAK NGGAK TAU DIRI!" bentaknya. "Kamu pikir ini cuma tentang kamu? Mama kamu itu aktris terkenal! Aku sutradara! Semua kerja keras kita bisa lenyap karena kebodohan kamu!"

"Aktris sutradra blablabla. Kalian malu, ya? Oh, iya, malu dong! Yang Mama Papa peduliin kan cuma karir, nama baik, sama posisi di dunia!" Kupamerkan seringai paling sinis, paling jijik yang bisa kuekspresikan dengan wajah ini. "Kalian takut kehilangan karir kalian? Takut nggak ada yang mau kerja sama kalian lagi? Ya, udah, sekalian aja bilang kalau aku bukan anak kalian."

"Jangan kurang ajar, Fifi!" Mama meraih lenganku dengan cengkeraman kuat.

"Ma!" seruku kaget karena sakit. Kuku-kuku yang bekas digigiti oleh Mama menggores kulit tanganku hingga terasa perih.

"Kamu nggak ngerti gimana dunia ini bekerja! Kamu pikir orang-orang bakal peduli sama kejujuran kamu? Kamu pikir orang-orang bakal muji? Mereka nggak peduli, Fifi! Mereka cuma mau lihat karir Mama dan Papa jatuh karena kamu!"

Hello, Fifi! 21+ [End]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang