"Nggak-nggak, nggak apa-apa sayang, Papa bisa siapkan pengacara buat kamu," ucap Papa.
"Kita lapor ke polisi sayang, tapi kamu nggak perlu ikut ya. Biar Mama sama Papa aja," kata Mama.
Itulah yang mereka katakan minggu lalu waktu aku menangis memohon-mohon. Meminta maaf karena kelakuan nggak senonoh yang kulakukan dengan Miki. Ya benar sih, Papa membayar pengacara mahal buat mewakiliku bicara ke publik, Mama juga mengurus pengajuan ke polisi untuk menarik video nggak senonoh itu. Otomatis aku nggak tersentuh dampak buruk dari tersebarnya video itu, BELUM MERASAKAN TEPATNYA!
Oh, aduh Fifi, gimana kabarmu?
Aku? Sudah seminggu aku dikurung di rumah ini, DI KAMAR SIALAN INI! Benar-benar cuma kamar ini dengan seprai putih yang luar biasa kusut dan boneka-boneka baru yang Mama jejalkan untuk menghiburku.
Aku nggak merasa terhibur. Nggak ada ponsel, nggak ada laptop, nggak ada TV, nggak ada orang lain kecuali Mama dan Papa yang menjengukku bergantian. Bahkan Bu Bella juga nggak. (Terutama nggak ada Miki) Aku adalah Rapunzel yang bahkan nggak punya jendela.
Menurut Mama, menyita ponsel dan semua akses ke dunia luar bakal menyelamatkan mentalku. Nggak salah sih dengan cara itu aku jadi nggak tau dan nggak bisa baca komentar buruk soal video itu. Tapi kan ...
Fase menangis meratapi apa yang terjadi padaku sudah lewat. Lebih cepat daripada yang aku duga. Sekarang aku sudah nggak peduli dengan video itu. Toh nggak terlalu jelas juga. Karena gelapnya mobil, yang terlihat hanya sebagian pinggul dan sisi payudaraku.
Daripada tubuhku yang sebagian terekspos, aku malah terus memikirkan bagaimana Miki mencium dan menjamahku di video itu.
Sulit sekali menyingkirkan pikiran-pikiran kotor itu.
"Fifi mau keluaaaar!" jeritku keras-keras.
Mukaku menempel ke lubang jendela yang ditutup (Mama benar-benar niat menghiburku) papan kayu dengan lukisan pemandangan awan dan gunung cantik.
"Sinar matahari di luar sana pasti kangen banget sama Fifi! Udah cukuuup! Fifi mau keluar! Fifi kan sudah minta maaf ke Mama Papaaa!" jeritku lagi.
Biarin! Biarin tetangga dengar kalau ada anak dikurung di rumah ini. Usaha membobol pintu gagal, memecah jendela gagal, nangis-nangis ke Mama juga gagal. Aaargh! Ya benar sih duniaku kacau balau gara-gara video itu tersebar tapi nggak gini jugaaa!
Akhirnya aku berbalik marah menuju pintu. Berjalan mengentak-ngentak sambil membawa kursi belajar. Kursi itu lalu kupakai buat menahan pintu.
Namun, kursi putih dengan motif cat pita-pita itu terlihat begitu rapuh menahan pintu. Iiih nggak! Ini mah kurang!
"FIFI NGAMBEK! KALAU NGGAK BOLEH KELUAR KAMAR, BERARTI NGGAK BOLEH ADA YANG MASUK KAMAR!" raungku keras-keras.
Kemudian seperti hari-hari jenuh lainnya, aku berbaring di kasur menatap origami warna-warni yang Mama pasang diam-diam waktu aku tidur lima hari lalu. Kamarku yang sebelumnya penuh dengan barang-barang keren, tiba-tiba penuh dengan dekorasi merah muda. Kamarku menjeritkan 'I'm a Princess!' sementara orang-orang di luar sana bakal menunjukku 'Ih lihat! Cewek lacur!'
BRUAK! Pintuku tiba-tiba digebrak keras dari luar.
"EH BUSET!" jeritku kaget.
Di depan pintu kamarku, ada suara Mama dan Papa berdebat tapi nggak bisa kudengar jelas dari sini. Suara-suara di luar lalu berhenti sejenak. Eh enggak, berhenti cukup lama sampai-sampai aku gatal pengen menempelkan telinga buat mengecek apa Mama Papa masih berdiri di depan pintu.
"Fifi? Sayang buka pintunya," ucap Mama dari balik pintu. Terdengar tenang tapi gagang pintu kamarku berkali-kali diputar hingga berbunyi klek-klek-klek keras. Gagang pintu malang itu seakan menjeritkan female RAGE padaku. "Fifi?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Hello, Fifi! 21+ [End]
RomansaFifi ingin menjadi pacar ketua geng motor yang sudah lama ia puja, Miki. Namun, ternyata Miki sudah menjadi selingkuhan Nayula yang masih berpacaran dengan Yanda, si ketua geng musuh mereka. Demi mencegah kerusuhan antar geng motor, Fifi akhirnya di...
![Hello, Fifi! 21+ [End]](https://img.wattpad.com/cover/368284288-64-k635474.jpg)