DOKUMENTASI 2
MIKHAIL SANTANUDI
Ket: Saksi & teman pelaku
(Putra dari Citra Theresia dan Agung Santanudi)
Ya, saya sudah membaca bukunya, Detektif. Entahlah, mungkin tiga kali, mungkin lima belas.
Menurut saya ada beberapa bagian yang terlalu privasi di dalamnya ... saya sendiri terkejut karena Fifi tidak segan menulisnya.
Saya rasa ada beberapa hal yang keliru. Maksud saya, lebih tepatnya banyak hal yang dipelintir dalam buku itu. Banyak kebohongan di sana sini.
Pendapat saya? Sejujurnya cara Fifi menggambarkan saya dalam buku itu membuat saya merasa ... dikuliti hidup-hidup. Kami sudah berteman sejak lama, sembilan tahun mungkin. Hanya saja saya tak mengira bahwa dia memperhatikan saya sedetail itu. Agak merinding setiap membaca bagian yang menggambarkan saya.
Benar, saya memang pemarah, sumbu pendek, kasar, dan saya enggan bersosialisasi kalau tidak perlu. Seperti kata Fifi: galak, nggak humoris, rada sombong, dan hobi ngomong nyelekit.
Saya harus meluruskan beberapa hal, Detektif.
Akan saya jelaskan.
Pertama, pada malam balapan. Agak rumit sebenarnya, tapi alasan sebenarnya adalah Yanda memang sudah lama ingin balapan melawan saya. Saya sebenarnya tidak tau Nayula masih pacaran dengan Yanda waktu perjodohan itu direncanakan orang tua kami. Nayula baru memberitahu saat orang tua kami sepakat dan membujuk saya untuk membantunya keluar dari geng Yanda. Kenapa? Saya tidak tau, sepertinya Yanda tidak mau melepaskan Nayula begitu saja. Tapi Yanda berubah pikiran, katanya terserah Nayula saja kalau mau keluar. Jadi rencana balapan pertama tidak jadi.
Soal perjodohan itu? Ya ... seperti yang Fifi tulis, saya tidak pernah melawan keinginan Mama. Tidak berani mengganggu kesehatan Mama, terlebih sebentar lagi Mama harus operasi. Karena itu saya menurut saja dijodohkan.
Entahlah, mungkin karena dari awal ... saya tidak tau, sedari kecil saya selalu takut kesehatan Mama menurun karena saya. Jadi saya selalu menuruti Mama.
Seminggu sebelum balapan itu, Yanda kembali mendatangi saya dan bersikeras ingin balapan melawan saya. Barulah saya mendapat ide. Sandiwara. Sayalah yang meminta Yanda untuk bersandiwara, supaya Fifi keluar dari geng.
Begini, saya melakukan itu karena saya ketakutan. Takut pada Fifi.
Saya ... ya saya sudah pernah mengatakan sebelumnya, saya mencintai Fifi.
Sebenarnya, Fifi pernah mengakui soal perasaannya pada saya. Waktu itu kami masih SMA kelas 2. Saya juga menyukai Fifi waktu itu ... bahkan kami sempat pacaran selama satu bulan, diam-diam di belakang Dewa, Eka, dan Gaib karena ya kami hanya malu. Tapi kemudian Mama tau dan mendatangi Fifi tanpa sepengetahuan saya.
Karena itu Fifi meminta putus meski saya tidak setuju dan ... saya kira pertemanan kami berakhir. Saya salah, Fifi bersikap seakan tak ada yang terjadi.
Benar-benar seakan tak ada sesuatu di antara kami. Saya ingin marah, maksudnya, kok bisa kamu bersikap begitu? Apa kamu nggak mikir kalau aku masih sayang kamu dan sakit rasanya melihat kamu bersikap seakan kita cuma teman? Tapi ... setiap memandang Fifi, saya sadar masih dicintai. Awalnya saya tak tau harus melakukan apa. Entahlah, mungkin saya senang karena meski kami putus, Fifi masih mencintai saya.
Tapi kemudian saya mengerti bahwa itulah yang Fifi inginkan.
Diam-diam, sembunyi-sembunyi. Itu saja cukup. Saya tidak pernah tau kami sembunyi dari siapa, ternyata dari mama saya.
Mungkin sulit dipahami orang lain tapi ... saya mengerti. Fifi ingin berpura-pura, akting, seakan kami tak punya hubungan apa-apa. Dan saya berhasil melakukannya, bertahun-tahun.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hello, Fifi! 21+ [End]
RomansaFifi ingin menjadi pacar ketua geng motor yang sudah lama ia puja, Miki. Namun, ternyata Miki sudah menjadi selingkuhan Nayula yang masih berpacaran dengan Yanda, si ketua geng musuh mereka. Demi mencegah kerusuhan antar geng motor, Fifi akhirnya di...
![Hello, Fifi! 21+ [End]](https://img.wattpad.com/cover/368284288-64-k635474.jpg)