Fifi ingin menjadi pacar ketua geng motor yang sudah lama ia puja, Miki. Namun, ternyata Miki sudah menjadi selingkuhan Nayula yang masih berpacaran dengan Yanda, si ketua geng musuh mereka.
Demi mencegah kerusuhan antar geng motor, Fifi akhirnya di...
"Bu Bella, Mama pulangnya masih lama ya?" tanyaku.
Sekarang pukul delapan malam. Aku duduk di kursi dapur, makan dimsum dingin dengan saus yang sebenarnya terllau manis. Sementara itu Bu Bella duduk di depanku, memotong-motong wortel untuk food prep masak besok.
"Belum, Non. Kan masih syuting film horor baru," kata Bu Bella dengan senyum. "Sabar ya, nanti jam sembilan katanya sudah pulang kok."
Aku hanya bisa menanggapi penjelasan itu dengan manyun. Yah, sebenarnya sudah biasa, bahkan aku pernah ditinggal Mama selama satu bulan penuh karena syuting di luar pulau. Pekerjaan Papa sebagai sutradara film juga sama aja sih, sibuk, kadang juga pergi lama.
Bu Bella sudah bekerja untuk keluarga kami sejak aku masih kecil. Merangkap sebagai ART dan nanny yang mengurusku. Kadang-kadang kalau perlu, Mama juga membawa Bu Bella ke tempat kerja untuk membantu.
"Kenapa Non? Tumben nanyain Mama pulangnya lama," kata Bu Bella sembari membersihkan pisau dengan serbet.
Kenapa? Hmm ... entahlah, tapi sekarang aku butuh banget Mama. Butuh curhat, butuh ngomel-ngomel soal kelakuan cowok-cowok yang bikin pusing. Aku butuh seseorang yang bakal ikut marah-marah kalau kuceritakan soal Miki, Yanda, dan Eka!
Ah tapi jangan deh, takutnya nanti malah repot Mama pasang ig story nyindir soal itu. Mama kan kadang gitu kadang kalau sudah jengkel malah bawa ke medsos.
Dengan jengkel kutusuk dimsum terakhir dengan ujung sumpit. "Nggak apa-apa sih, cuma mau jalan bareng Mama. Besok kan Sabtu," kataku ke Bu Bella.
"Ooh," sahut Bu Bella. Tangannya kini sibuk memotong buncis dengan cepat.
Ting! Tong!
Kami berdua langsung menoleh ke arah pintu depan. Tamu? Ih siapa sih malam-malam. Ting! Tong! Bunyi bel kembali berbunyi. Bu Bella hendak berdiri tapi aku segera menyela, "Biar Fifi aja, Bu!"
Ting! Tong! Tamu kami, siapa pun itu kayaknya punya kesabaran dan sopan santun tipis. Ting! Tong!
Aagh sabar kek! Aku buru-buru berjalan ke pintu depan dengan jengkel. Saat kubuka pintu putih itu, pundakku rasanya merosot ke dengkul saking kagetnya.
"Mi-Miki?"
Miki berdiri dengan telunjuk masih menempel di tombol bel rumahku. Cowok itu memakai kaus putih lengan pendek bergambar libra di dada dan celana jins hitam, nggak ada jaket Geng Sakti. Aku melirik ke pelataran depan dan ternyata Miki membawa mobil hitam yang jarang kulihat, bukan motor kesayangannya.
"Fi," ucapnya.
Dan ... udah gitu aja, dia cuma nyebut 'Fi' terus diam menatapku. Tapi tatapan Miki kayak gimana bilangnya ya, berbeda. Cowok itu menatap wajahku, cukup lama, baru kemudian menatap turun sampai ujung kakiku.
Barulah kusadari kalau bajuku cuma tank top putih polos dan hot pants. Ditambah cara Miki yang tiba-tiba menatapku begini ...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.