Aku menelan ludah.
"Lo pikir lo siapa berani-beraninya pegang badan gue," desisku ke Yanda.
Yanda langsung cemberut. "Alaaah cuma dikit kok," gerutu cowok itu sebelum berkedip-kedip seakan baru menyadari sesuatu. Yanda lalu berbisik pelan, "Sakit ya? Nggak kan?"
Beberapa waktu lalu, aku cuma dorong cowok ini dan dia langsung teriak-teriak penuh drama. Sekarang dia menarik paksa aku dengan cukup kasar. Tapi aku kan nggak suka dramatis! Masa teriak tolong tolong sih? Enggak ah!
"Woe cowok sialan! Nggak usah deket-deketin muka lo yang bikin mual tuh ke Fifi!" seru Dewa yang berdiri di samping Miki. Cowok itu terlihat nggak terima dengan tingkah Yanda menyentuhku.
Reana yang bersembunyi di balik badan pacarnya memberi kode keras kepadaku untuk lari, atau mungkin buat nendang muka Yanda.
Duh, bukannya kalian nggak suka aku? Kenapa Dewa dan Reana malah bersikap begini coba. Atau Gaib memang nggak bohong soal Dewa, Eka, dan Reana masih peduli denganku.
Ugh, tapi kan aku masih mau mengomel ke mereka soal diam-diam mengucilkanku.
"Hah?! Lo ngomong sama gue?!" seru Yanda ke Dewa dengan nada yang sama marahnya. "Peduli apa lo sama Fitznina?! Kalian semua kan toxic ke dia yang padahal udah baik ke kalian!"
Bentar, apa cowok ini tau kelakuan Miki dan yang lainnya di belakangku?
"Gue berani jamin kalau Fifi nggak Sudi di sentuh sama lo!" seru Dewa. Cowok itu menatapku.
Keyakinan terlihat di matanya seakan berkata, lo jauh lebih kuat daripada itu.
Atau apa pun kalimat yang dipikirkan Dewa. Cowok itu terlihat mendukungku untuk segera menghindari Yanda.
Tanpa pikir panjang kuinjak kaki Yanda, aku mengelak dari cengkeraman tangannya di leherku. Lalu aku melangkah menjauh dari cowok itu.
"Wah," kata Yanda. Cowok itu terkekeh-kekeh. "Boleh juga. Kamu lincah banget ternyata."
Aku mendengus lalu merapikan kerah jaketku.
"Lo dengar omongan cowok itu kan," kata Miki padaku. "Kalau Lo nggak keluar dari geng Sakti, cowok itu bakal bikin keributan di sini."
"Oh? Terus seandainya gue tetap nggak mau dan geng Yanda bakal hajar geng Sakti karena nggak bisa nepati taruhan, emang lo berani hajar gue?" tanyaku.
"Kalau geng Cobalt sampai nyerang geng Sakti sekarang itu salah lo! Lo cuma tinggal nurut keluar dari geng! Lo udah nggak diterima lagi di geng gue!" bentak Miki.
"Seandainya lo nggak bodoh jadi selingkuhan cewek itu! Lo pikir siapa penyebab semua ini hah! Lo yang mancing keributan sama geng lain, sialan!" seruku marah.
Miki jelas tersinggung dengan kalimatku, tapi aku nggak memberi kesempatan untuk cowok itu membentak balik.
Aku segera berkata,"Oke kalau itu mau lo gue bisa apa. Lo mau jadiin gue kambing hitam, silakan. Sorry to say tapi harga diri gue juga tinggi."
Kulepas jaketku secepat mungkin, lalu dengan kasar kulempar jaket itu ke muka Miki. Dewa terlihat kecewa, begitu pun dengan Reana dan Eka. Sementara itu Gaib nggak menunjukkan ekspresi spesial.
"Kamu!" Nayula berseru marah padaku.
"Apa kamu-kamu! Sok akrab banget lo sama gue!" semburku ke cewek itu. Mukaku pasti galak banget sampai Nayula kelihatan kaget dan refleks melangkah mundur.
"Uuwu, nice banget Yang, aku jadi makin suka kamu," kata Yanda.
Di luar dugaanku, alih-alih tersinggung, Miki dengan tenang mengambil jaket yang menutupi wajahnya lalu melipat asal jaketku. Jaket itu lalu diberikan ke Dewa, cowok itu kelihatan nggak terima dengan sikap Miki tapi nggak menyerukan protes apa-apa.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hello, Fifi! 21+ [End]
RomanceFifi ingin menjadi pacar ketua geng motor yang sudah lama ia puja, Miki. Namun, ternyata Miki sudah menjadi selingkuhan Nayula yang masih berpacaran dengan Yanda, si ketua geng musuh mereka. Demi mencegah kerusuhan antar geng motor, Fifi akhirnya di...
![Hello, Fifi! 21+ [End]](https://img.wattpad.com/cover/368284288-64-k635474.jpg)