Papa nggak curiga ketika aku minta dijemput di depan toko kelontong dekat kampus. Tapi waktu melihat tanganku terluka dan dibungkus perban, senyum di wajah Papa seketika berubah menjadi ekspresi panik.
"Kenapa itu? Astaga kamu luka sampai diperban?!" tanya Papa kaget dan segera memeriksa tanganku setelah aku duduk di jok mobil. "Ya ampun Sayang, kok bisa gini? Kenapa tadi nggak telepon Papa?"
Papa terlihat benar-benar khawatir, tapi untungnya perban menutupi lukaku, dan kelihatannya jadi nggak separah saat berdarah tadi.
Ingat, ingat skenario yang kubuat tadi Fifiii. Jujur tapi perhalus semuanya.
"Uhm Papa maaf ...," kataku sedih. Aku harus terlihat malu, menyesal, tapi terpaksa mengakui. "Fi-Fifi tadi nggak sengaja mecahin kaca orang ... terus Fifi disuruh ganti rugi."
"Kaca? Kaca kampus atau gimana?" tanya Papa kebingungan.
Aaargh kalau saja Papa itu gaptek dan nggak bakal ngecek-ngecek info di medsos soal aku pasti kujawab bilang iya kaca jendela kampus, tapi Papa terlalu cerdas buat kutipu. Aku nggak punya pilihan selain jujur tapi ...
"Tadi pagi Fifi sebenarnya nggak langsung masuk kelas tapi ke kafe depan kampus dulu, mau pesan kentang goreng gitu soalnya kelasnya masih setengah jam lagi. Tapi ... itu Pa ... ," kataku menggantung takut.
"Kenapa Sayang? Jujur ke Papa," ujar Papa sembari mengelus sisi kepalaku.
"Fifi berantem .. ," kataku ragu, "sama cewek kampus, namanya Nayula. Papa pasti udah tau siapa cewek itu dan hubungannya sama video aku yang kesebar--"
"Sayang," kata Papa. Papa tersenyum tipis, tanpa keraguan setitik pun. "Cewek dalam video nggak senonoh itu bukan kamu. Anak Papa nggak mungkin ngelakuin hal kayak gitu. Cewek Nayula yang kamu sebut itu nggak punya alasan apa pun buat nyentuh anak Papa, karena kamu nggak salah."
Seketika mulutku terasa pahit. Pahit sekali.
"Kasihan anak Papa sampai berantem sama cewek nggak jelas gara-gara video mesum orang lain," kata Papa sembari mengelus-elus kepalaku.
Diam-diam aku bersandar berat ke jok mobil, merapatkan punggung ke bantalan empuk itu. Kugelengkan kepalaku. "Enggak, cuma kegores dikit tapi orang-orang tadi overreact makanya dibungkus sampai begini," dustaku. "Yang lebih parah kaca pintunya sih ... Fifi nggak ngira bakal pecah semuanya."
Di dalam tasku, ada segepok perban baru dan plaster luka. Kubeli tadi buat jaga-jaga seandainya harus ganti perban sendiri.
"Sedikit? Kamu--beneran cuma sedikit? Kamu sampai dipeban gitu, Sayang, kayaknya parah," sahut Papa.
"Iya dikit aja kok, makanya Fifi nggak langsung telepon Papa tadi. Lagian ... Fifi malu soalnya bikin ribut pagi-pagi," jawabku.
Papa akhirnya menghela napas lalu memutar setir mobil. Perlahan mobil kembali berjalan meninggalkan area kampus.
"Sayang, ini baru hari pertama kamu kuliah dan sudah ada kejadian kayak gini. Kamu luka, berarti si Nayula itu memang kelewatan kan? Kayaknya kamu jangan kuliah dulu, Papa bisa laporkan dia ke polisi--"
"Enggak-enggak! Jangan!" seruku panik. Tapi segera kulemparkan alasan masuk akal ke Papa. "Enggak perlu, Pa. Fifi sebenarnya mau manfaatkan kejadian ini biar Nayula jera."
Senyum tipis Papa tertarik. "Caranya?" tanya Papa.
"Orang-orang kampus pasti udah tau soal kejadian pagi ini," kataku. "Jadi Fifi pikir kalau masalahnya dilempar ke Nayula, Fifi bakal selamat. Kalau Fifi nggak masuk kuliah lagi setelah ini mereka bakal makin curiga kan?" tanyaku ke Papa. "Mereka pasti mikir Fifi malu soalnya dilabrak Nayula. Kalau Fifi tetap masuk kuliah, Fifi bisa akting kalau semua ini memang nggak ada hubungannya sama video itu."
KAMU SEDANG MEMBACA
Hello, Fifi! 21+ [End]
RomanceFifi ingin menjadi pacar ketua geng motor yang sudah lama ia puja, Miki. Namun, ternyata Miki sudah menjadi selingkuhan Nayula yang masih berpacaran dengan Yanda, si ketua geng musuh mereka. Demi mencegah kerusuhan antar geng motor, Fifi akhirnya di...
![Hello, Fifi! 21+ [End]](https://img.wattpad.com/cover/368284288-64-k635474.jpg)