21. Lo Berani, Fi?

6.8K 89 1
                                        

Aku bangga berhasil menolak bujuk rayu Miki buat membersihkan diri bersama. Well, meski sebagian diriku berpikir sayang banget tau! (MANDI BARENG BENERAN NIH?!) Tapi sekarang aku sudah bersih setelah mandi cepat-cepat dan kini menunggu cowok itu selesai.

Namun, saat Miki akhirnya muncul dari balik pintu kamar mandi ... aduh jantungku. Harusnya aku tau Miki plus handuk, tambah rambut dan badan basah itu keterlaluan seksinya. Air yang menetes-netes dari rambut dan dada Miki seakan merayuku. Oh kulit sawo matang cowok itu benar-benar--

"Kedip, kalau lo natap gue kayak gitu terus bisa-bisa gue horny lagi," tegur Miki acuh tak acuh.

Dengan santai ia mengusap kepala menggunakan handuk, dan heiii sengaja banget dia pamer punggung begitu sambil buka lemari. Ada bekas kemerahan memanjang di punggung Miki, pipiku merona sebab akulah tersangkanya.

"Ahem! Jadi lo bilang dijodohin sama Nayula," kataku membuka pembicaraan.

Miki memakai boxer tanpa melepas handuk, lalu mengenakan kaus longgar berwarna abu-abu. Jantungku berdebar keras ketika tangannya melempar handuk ke kursi belajar. Miki lalu berjalan menghampiriku.

"Lo emang nggak suka basa-basi ya," gumam Miki.

Hellow! Terus tadi kita nganu itu juga termasuk basa-basi loh! Aku rela menunda pembicaraan penting dan menyiram air dingin ke emosiku yang terbakar ini demi memuaskan hasrat Miki.

"Udah buruan jelasin!" seruku. Kusilangkan tangan di depan dada, tapi tatapan Miki malah salah fokus ke payudaraku yang membusung. Sumpah aku beneran nggak bermaksud buat pamer nenen ke Miki. Aduh, menyesal diri ini tapi nanti dulu kalau langsung kuturunkan tanganku jadi ketahuan kalau aku malu. "Lo udah janji waktu di mobil tadi!"

Miki akhirnya naik ke kasur lalu duduk di sebelahku. Tangannya memyugar rambut yang masih basah. Cowok itu lalu berkata, "Belum resmi sih."

Doeng!

"Ha?" sahutku refleks.

"Belum resmi," kata Miki lagi, cowok itu menolak menatap mataku dan lebih tertarik buat merapikan sarung bantal, "Kami belum resmi tunangan, tapi Bokap Nyokap gue udah setuju."

Seketika ada dorongan yang luar biasa besar buat teriak ke Mama Papa Miki. "Nggak boleh!" seruku ke Miki. "Nggak boleh tunangan sama Nayula!"

"Kami udah pacaran," sahut Miki.

HAAAAARGH NGGAAAK! AKU NGGAK DENGAR APA-APA!

Dengan mengabaikan informasi barusan, aku turun dari kasur lalu berdiri menghadap Miki.

"Lo nggak ingat dia pacaran sama Yanda tapi malah selingkuh dari cowok itu?" Yang mana Nayula selingkuhnya sama Miki. Aku lalu melanjutkan, "Lo nggak takut diselingkuhin juga? Hah?!"

Kalau aku jadi pacarmu aku nggak bakal selingkuh loooh!

"Gue nggak peduli dia selingkuh apa enggak, gue aja selingkuh sekarang," kata Miki. Senyum miring cowok itu membuatku sadar kalau akulah selingkuhan Miki.

"Oh," ujarku. "Ta-tapi! Ngapain coba lo malah dijodohin sama dia? Emangnya penting banget sampai dijodohin segala, udah zaman kayak gini masa masih main jodoh-jodohin orang."

"Lo mungkin nggak sadar, tapi bisnis ortu gue lagi nggak stabil," jawab Miki. Cowok itu bersandar ke kepala ranjang dengan kaki bersila lalu memangku bantal. "Setahun yang lalu hampir kolaps malah, tapi berhasil selamat berkat kerja sama bareng ortu Nayula. Ortu gue mikir kalau misal gue sama Nayula nikah, mungkin kerja sama perusahaan kami bakal lebih mudah."

Aku mengingat brand makanan milik orang tua Miki, cukup besar dan terkenal. Perusahaan olahan dan pengawetan daging mulai dari produk konsumsi rumahan hingga restoran. Setahun yang lalu Miki pernah membawakan kami satu dus kornet daging sapi untuk dibawa pulang.

Hello, Fifi! 21+ [End]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang