34. Murahan Sekali Hatimu

1.7K 50 0
                                        

"Gue ngancam Miki kalau dia nggak jemput waktu itu bakal gue bakar pabrik dagingnya. Gue mau balas dendam ke Miki!" seruku sembari langsung berdiri, lututku menghantam meja rendah Reana (sakit juga ternyata).

"Dan gua nggak percaya!" seru Dewa sama dramatisnya. Cowok itu lalu lanjut menggigit piza. "Bentar, jangan-jangan aslinya lo malah senang ya dituduh berbuat gitu sama Miki?!"

Dewa bergidik sok jijik, Reana tertawa kecil sembari memperbaiki posisi meja. Aku? Aku sih ... pengen teriak IYA, lagian dari awal kan itu emang aku.

"Gini, gue udah lama pengen nanya ini tapi," kataku menggantung. Kuraih pundak Dewa lalu, "SEJAK KAPAN KALIAN SADAR GUE NAKSIR MIKI?!" semburku ke Dewa.

Sahabatku, atau mungkin mantan sahabat, Dewa mengelap muka yang baru kuteriaki dengan telapak tangan.

"Fi, dari cara natap lo ke Miki itu ... menjijikkan," jawab Dewa. Tanganku langsung lemas melepaskan bahu Dewa. "Kayaknya sejak kita SMA semua udah tau lo suka Miki," tambah Dewa. "Cumaa ya sikap lo kan pura-pura biasa aja ke Miki, jadi kami semua juga otomatis paham kalau lo lagi usaha keras menghindar demi jaga pertemanan. Makanya kami diam-diam aja apalagi Miki juga nggak pernah nyinggung soal itu. Jadi yaa di luar kuasa."

"Jadi?" tanyaku nggak sabar.

"Udah itu aja," dengus Dewa.

"Enggak mungkin cuma sampai situ aja, kalian terlalu julid buat nggak ngomongin gue di belakang. Grup Anti Fifi kemarin buktinya, pasti nggak cuma sekali kan kalian ngomongin kejelekan gue?!" tuntutku ke Dewa.

"Sumpah Fi, cuma sekali itu! Itu pun karena ya ... lo kan mau ultah," bisik Dewa pelan-pelan.

Aku berkedip-kedip. "Ultah? Ul--"

Reana segera mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Sebuah kotak berukuran sedang dengan sampul warna biru metalik, terlihat heboh dihias dengan lipatan kertas.

"Eh maaf kertasnya jadi kusut gara-gara masuk tas," kata Reana sembari menyerahkan kotak itu padaku.

"Lo loh ini apaan--"

Aku menatap kotak di tanganku dengan terpesona. Rasanya seperti tengah memegang kotak harta karun. Atau bom atom karena jantungku berdebar heboh sekarang.

"Kado ultah lo kocak, pakek nanya," kata Dewa. "Udah, met ultah, nggak usah nyanyi Happy Birthday ya gue malu, lo udah gede juga."

"Bentar, bentaaar!" seruku. "Apaan tiba-tiba met ultah gitu! Enak aja jelasin dulu!"

"Lah bukannya Eka udah jelasin ke elo ya, grup itu kan buat--"

Tok tok tok!

"Misi, kamar Reana yang ini kan? Ini Eka."

***

Dewa memaksaku buat bicara berdua dengan Eka di teras belakang rumah Reana. "Sumpah kami nggak bakal nguping atau ngintip. Lo berdua harus kelarin masalah uhuk-uhuk kalian," kata Dewa tadi.

Masalah uhuk-uhuk apaan cobaaa!

Begitulah akhirnya aku duduk berdua dengan Eka. Di kursi panjang yang nggak begitu panjang karena diisi dua orang saja bahuku harus hampir bersentuhan dengan Eka. Dan aku gugup. Gugup luar biasa.

Aaah kenapa malah gugup Fifi? Ini kan cuma Eka? Emangnya kenapa kalau waktu itu aku kaget tiba-tiba dicium Eka? Ngapain malu coba, kan yang aku lakukan dengan Miki jauh lebih memalukan daripada sekedar ciuman?

Soalnya yaa soalnya aku sadar ciuman Eka waktu itu tulus! Dan aku malah nggak ngasih balasan ke cowok ini aaa! Aku jadi nggak enak ke dia.

"Santai aja Fi," celetuk Eka.

Hello, Fifi! 21+ [End]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang