39. Anak Baik

1.8K 57 0
                                        

"Miki keluar dulu ya Nak, Mama mau ngomong berdua sama Fifi," kata Tante Citra.

Aku pengen bilang JANGAN KELUAR LO TEMENIN GUE PLEASE!

Tapi nggak berani. Akhirnya Miki keluar dari kamar rawat Tante Citra bersama dengan toples biskuit kejunya. Aku cuma bisa cemberut memandang punggung Miki sampai akhirnya pintu kamar rawat ditutup dan tersisa hanya aku bersama Tante Citra.

Oh enggak, aku nggak takut sama Tante Citra. Bukan begitu sih tapi ... tapiii! Gini ya, aku memang pernah bilang kalau Miki itu berbakti ke mamanya ... artinya Miki nggak pernah menolak keinginan Tante Citra.

Gue cuma nurutin maunya Mama gimana.

Setelah bertahun-tahun berteman dengan Miki, aku tau kalau ... it's simply like that. Cowok itu cuma nurut ke mamanya karena ... gimana kalau ternyata ini permintaan terakhir? Gimana kalau ternyata besok Mama sakit dan nggak pernah kembali?

Miki mengatakan itu--kapan ya? Lima tahun lalu? Delapan tahun lalu? Seingatku kami masih kelas lima SD waktu Miki menyuarakan pertanyaan gelisah itu. Waktu itu cuma aku dan Miki, kami baru berteman dengan Dewa dan yang lainnya saat masuk SMP.

"Fifi duduk sini deh," pinta Tante Citra.

Aku mengangguk lalu berpindah duduk di pinggir kasur, memunggungi Tante Citra.

"Loh nggak mau hadap-hadapan sama Tante? Padahal Tante kangen banget loh sama kamu, sudah tiga tahun nggak ketemu langsung. Tante cuma bisa lihat kamu di postingannya Karenina," keluh Tante Citra di belakangku.

Rasanya tiba-tiba telapak tanganku dingin. Namun, rasa panas menjalari leherku lalu turun ke dada. Aku tanpa sadar menahan napas, dadaku sesak.

"Bukannya Tante mau ngomong soal Nayula?" tanyaku.

"Tante bohong, sebenarnya Tante cuma mau ngomong berdua sama Fifi. Fifi marah ya sama Tante? Maaf ya Sayang, waktu itu Tante marahin kamu soalnya ngajak Miki pacaran. Tante nyesel marahin kamu kayak gitu sampai bikin kamu salah paham," sambung Tante Citra dengan nada yang lebih lembut.

Dadaku naik turun. Enggak, enggak, enggak sialan. Jangan, jangan please jangan! Jangan nangis!

"Waktu itu Tante marahnya terlalu keras ya? Fifi marah sama Tante sampai nggak mau ketemu selama tiga tahun ini? Fifi pasti kecewa soalnya Tante waktu itu nyuruh putusin Miki tapi ngelarang kamu bilang ke Miki soal ini."

Buru-buru kugelengkan kepala dengan cepat. Tapi aku nggak berani membuka mulut.

"Kalau gitu sini dong lihat ke Tante, Tante beneran kangen banget sama Fifi," pinta Tante Citra.

Nggak bisa, nggak bisa. Aku nggak bisa bergerak. Aku duduk membeku dan sesak di pinggir kasur itu.

Aku nggak bisa bohong ke Tante Citra.

Aku memang marah.

Kulangkahkan kaki turun dari kasur itu dan langsung balik badan menghadap Tante Citra. Wanita itu menatapku dengan tatapan keibuan tapi juga tegang, sikap orang dewasa yang siap mendengarkan luapan emosi.

"Kenapa dilarang? Kenapa nggak boleh? Nggak cuma sesederhana karena kami masih SMA kan? Kalau memang alasannya cuma itu, terus kenapa Tante repot-repot bikin perjodohan yang nggak perlu buat Miki? Pasti alasannya lebih dari itu kan?" tanyaku.

Semua pertanyaan itu mengalir begitu saja, semua pertanyaan yang selama tiga tahun ini kutahan.

"Pasti ... pasti karena Tante sadar aku bukan anak baik-baik kan? Pasti karena Tante nggak mau Miki terlalu berhubungan sama orang munafik dan nggak baik kayak aku."

Hello, Fifi! 21+ [End]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang