30. Imut Seperti Tahu

2.3K 69 1
                                        

"Beneran cewek di video itu bukan kamu kaaan?! Ya kan bukan kan? Berarti semua itu cuma hoax? Ya ampun muka kamu cuma diedit kan?! Fitznina jawaaaab!" adalah semburan pertama yang Yanda lontarkan padaku setelah aku berusaha keras buat lari dari cowok itu.

"G," kataku dengan gigi terkatup.

"Cius?" tanya Yanda. Dahinya berkerut serius.

Beberapa menit lalu aku didorong paksa ke sudut kampus oleh Yanda. Sekarang kedua tangan cowok itu menahan pundakku sementara ubun-ubunnya menempel ke tembok. Singkat kata, aku mendongak sementara muka Yanda menunduk tepat di atas mukaku. Seandainya ini Miki pasti udah ku ... aduh!

"Ada cabe di gigi lo," celetukku tanpa pikir panjang.

"Ha? Masa!?" seru Yanda dan cowok itu langsung menutup mulut. Bebaslah aku!

Aku segera berlari kabur tapi nggak berselang lama Yanda sudah menyambarku dari belakang lagi.

"Apaan sih looo! Nyebelin amat dari tadi ngejar-ngejar! Gue udah berusaha buat sabar hadapin lo soalnya Pak Edru udah bantuin gue," kataku ke Yanda. "Lepasin!"

Cowok itu manyun, tapi nggak melepaskan cengkeramannya dari tas punggungku. "Klarifikasi dulu dong," gerutunya. "Apalagi seminggu ini aku nggak ketemu kamu sama sekali loh, kangen tau? Terus waktu tau kamu masuk kampus ternyata nggak jadi gara-gara tangan kamu luka ... eh! Iya juga ya itu tangan apa kabar?!"

Yanda yang manyun pura-pura sedih tiba-tiba kembali berekspresi panik.

"Baru sadar lo? Sakit kocak, mana gara-gara lo gue harus lari-larian nih! Salah lo!" seruku. Kuhempaskan tangan Yanda dari tasku lalu berjalan menjauh dengan kaki mengentak-ngentak. Memang paling benar menghadapi cowok ini tuh pakai jual muahaaal!

"Aaah Fitznina maaf dongg nggak niat gitu loh sumpah, jangan ngambek dong," rayu sembari mengekoriku di belakang.

Aku tetap keukeuh berjalan dramatis menuju ke parkiran. Sekarang sudah pukul tiga sore, ajaibnya nggak ada satupun mahasiswa menghampiriku buat sekadar "Halo, Fifi! Mau nanya nih soal video itu kamu ... soal Nayula itu juga ..."

Nggak ada! Huahahaha! Hari ini aku kuliah dengan damai, menyimak sambil duduk manis serta mencatat semua ocehan dosenku. Nggak ada tuh tiba-tiba batang hidung Nayula muncul buat memporak-porandakan hari nan cerah ini.

Cuma Yanda yang berani merecoki.

"Fitznina jangan cuekin aku dong!" seru Yanda tepat ketika kami sampai ke parkiran. Seruan cowok itu ternyata cukup keras dan perhatian orang-orang yang ada di parkiran, para mahasiswa yang ingin pulang setelah kelas siang, langsung tertarik pada kami. Yanda kembali memegang tasku dari belakang, dan lagi-lagi cowok itu mendekatkan wajah ke mukaku.

"Heh! Lo mundur deh! Dekat banget itu muka! Nggak usah nempel-nempel ke gue!" tegasku sembari mendorong kepala Yanda dengan dua tangan.

"Adaw-aw! Hati-hati itu jarinya mau nyolok mata ih!" seru Yanda.

Cowok itu meraih kedua tanganku lalu menahannya tapi jelas lebih hati-hati saat menahan tanganku yang sakit. Yanda yang sudah gemas akhirnya memaksa menempelkan dahi kami.

"Tapi beneran kan?" tanya Yanda kali ini benar-benar dengan muka serius. "Kamu ... nggak sampai berbuat sama cowok itu kan?"

Aku memang menduga kalau cowok ini bakal lebay tapi nggak kuduga sampai sengotot ini. Tapi nggak apa-apa sih.

Lagian itulah yang akan aku manfaatkan dari Yanda.

"Enggak!" seruku keras-keras. "Gue nggak ada hubungan apa-apa sama Miki! Kok lo nggak mau percaya sama gue sih?!"

Hello, Fifi! 21+ [End]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang