"Kenapa?" tanya Yanda. Kami duduk berhadapan di kursi dapur, dan kedua tangan Yanda masih menahan pundakku. "Kenapa sampai repot-repot nyebarin video itu? Bukannya terlalu bahaya buat kamu? Kalau pun kamu ngelakuin itu demi nunjukin kalau Mikhail dan kamu--"
"Iya, ini demi Miki," sergahku. Aku langsung berdiri tegak di hadapan Yanda. Kutatap dingin cowok itu. "Gue mau Miki jadi milik gue, dan gue bakal lakukan apa pun demi itu."
Yanda tanpa segan menatap balik mataku. Kedua sudut bibirnya tertarik tipis, sebuah senyum yang nggak tulus dan hampir menakutkan karena cowok itu seakan melihat langsung ke jiwaku.
"Pakai cara rendahan?" pancing Yanda.
Emosiku tersulut dan tanpa pikir panjang kulayangkan tangan ke pipinya.
PLAK!
Namun, Yanda nggak bergeming. Entah ia merasa sakit atau nggak, tapi telapak tanganku panas. Ia masih duduk tegap dengan senyum tipisnya. "Kamu yakin cuma itu alasannya, Fi? Kalau iya, entah kamu bucin akut atau udah gila. You down tooo bad for him."
"Gue nggak peduli orang lain mau lihat gue ini cewek murahan, lonte, atau apa pun, gue cuma peduli sama perasaan Miki," sahutku.
"Kayaknya nggak sesederhana itu deh," katanya riang. "Yaa dengan video itu kesebar, cewek-cewek lain kayak Nayula misalnya, jadi tau kalau ada sesuatu di antara kamu dan Miki. Miki nggak bakal dekat-dekat ke cewek lain selama skandal kalian masih hangat, buat menjaga citra baiknya. Kamu berhasil bikin lingkaran buat mengamankan hubungan kamu sama Miki. Tapi harganya terlalu mahal."
"Video itu udah dihapus," ketusku.
"Well, kamu nggak bodoh, kamu pasti udah tau kalau sekali video semacam itu kesebar bakal susah banget buat dibabat habis," sahut Yanda.
"Gue nggak peduli, tujuan gue udah tercapai dan semua itu bukan masalah lagi," kataku. Aku mendorong kursi lalu melangkah mundur dari Yanda. "Sekarang gue nggak ada urusan lagi sama lo, keluar."
Yanda mengabaikan omonganku. "Yakin alasannya cuma karena Miki? Bukan karena orang tua kamu--"
Kujambak rambut Yanda keras-keras, kukuku terasa menggores kulit kepalanya.
"ADAWW! AAW! BUSET JAMBAKNYA BENERAN!" teriaknya. "Aduh aaw Fitzninaaa sakiiit!"
"Dapur ini punya banyak pisau, Yanda, kalau lo nggak mau gue gorok leher lo sampai putus sebaiknya lo diam!" bentakku.
Cowok itu cemberut dan kelihatan benar-benar kesakitan. "Iih iya maaf deh kalau salah," katanya. "Minta maaf di atas materai nih kalau perlu huhu."
Akhirnya kulepaskan kepala Yanda sembari menoyornya. Mood-ku benar-benar jelek sekarang.
Cowok itu lalu berdiri, tangan mengelus-elus kepala. Yanda meringis kikuk padaku lalu memandang mangkuk salad buah. "Aku belum bisa nebak motif kamu yang sebenarnya tapi ... jangan pakai cara itu lagi. Bisa-bisa kalian berdua dikeluarkan dari kampus loh."
"Ya udah sih," kataku cuek.
Keluarin aja keluarin.
"Makasih buat salad buahnya, aku pamit dulu hehe kayaknya kamu butuh waktu buat sendiri," kata Yanda.
Sebelum mulutku menyolot cowok itu, ia berlari kabur dari dapur. Suara tawa Yanda bergema dari ruang tamu rumahku. Nggak berselang lama, suara motor Yanda meninggalkan pekarangan rumah terdengar.
Aku ... aku goblok.
"BANGKEEE!" umpatku keras-keras. "HAAARGHHH KENAPA MALAH KEPANCING?! Ha? Haa? Mulut ember inih!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Hello, Fifi! 21+ [End]
RomanceFifi ingin menjadi pacar ketua geng motor yang sudah lama ia puja, Miki. Namun, ternyata Miki sudah menjadi selingkuhan Nayula yang masih berpacaran dengan Yanda, si ketua geng musuh mereka. Demi mencegah kerusuhan antar geng motor, Fifi akhirnya di...
![Hello, Fifi! 21+ [End]](https://img.wattpad.com/cover/368284288-64-k635474.jpg)