Hujan baru saja reda, meninggalkan udara malam yang sejuk dan lembap di sekitar rumah besar itu. Cahaya lampu kristal di ruang tamu memantulkan kilauan lembut pada dinding-dinding marmer yang dingin dan mengkilap.
Choi Yoojung ,wanita berusia dua puluh delapan tahun itu tampak duduk sembari menyilangkan kakinya dengan santai di sofa hitam rumahnya.
Ia mengenakan gaun malam berwarna merah tua yang terbuat dari satin, cukup tipis hingga memperlihatkan siluet tubuhnya dengan samar.
Di tangannya, segelas anggur merah digenggam erat, sementara matanya sesekali melirik ke arah Lee Minho yang duduk di sudut ruangan, fokus pada laptop di pangkuannya.
Pria berusia empat puluh lima tahun itu, seorang duda dengan wajah tampan namun tegas, tampak tak terganggu oleh kehadiran Yoojung.
Pernikahan mereka telah berlangsung selama tiga bulan, tetapi tidak ada kehangatan di antara keduanya, hanya keseharian yang berjalan datar, tanpa sentuhan emosi sama sekali. Terlebih jarak usia mereka yang terlampau jauh,menambah jurang emosional yang cukup dalam.
Yoojung menghela napas kecil, lalu mengalihkan pandangannya pada Cha Eunwoo, putra Minho dari pernikahan sebelumnya.
Pemuda berusia dua puluh satu tahun itu duduk di kursi dekat perapian, headphone menempel di telinganya, dan matanya tertuju pada buku tebal yang ia pegang.
Wajahnya tampan dengan garis rahang yang tegas dan mata cokelat yang dalam, namun sikapnya sama dinginnya dengan sang ayah, tertutup dan sulit didekati.
Yoojung tersenyum tipis. Ada dorongan dalam dirinya, sisi liar yang selalu muncul saat ia merasa terjebak dalam kesunyian. Ia tidak suka diam, dan kehadiran Minho serta Eunwoo yang acuh membuatnya ingin mengusik ketenangan mereka.
"Minho," panggil Yoojung dengan nada yang sengaja dibuat lembut, "kapan kita berlibur? Aku mulai bosan di rumah ini."
Minho tidak mengangkat wajah dari layar laptopnya. "Aku sibuk", jawabnya singkat, suaranya datar tanpa nada ramah.
Yoojung memutar bola matanya, lalu berdiri dari sofa. Gaunnya bergoyang lembut mengikuti langkahnya, dan ia tahu Eunwoo meliriknya sekilas dari sudut mata. Dengan sengaja, ia berjalan melewati Eunwoo menuju dapur, langkahnya perlahan dan sedikit berlebihan.
"Kalau ayahmu tidak mau menemani, mungkin kamu yang harus melakukannya, Eunwoo," ucapnya dengan nada menggoda, disusul tawa kecil yang sengaja dilepaskan.
Eunwoo tidak menjawab. Matanya tetap tertuju pada buku, tetapi Yoojung memperhatikan jemarinya yang memegang halaman sedikit menegang. Ia tersenyum puas sebelum melanjutkan langkahnya ke dapur.
Di sana, ia mengambil sebatang permen lolipop dari toples di meja, memasukkannya ke mulut dengan gerakan santai, sambil memikirkan cara untuk membuat hari-hari di rumah ini lebih hidup. Bagi Yoojung, kesunyian adalah musuh, dan ia tidak akan membiarkan dirinya tenggelam di dalamnya.
*
Pernikahan antara Yoojung dan Minho bukanlah kisah cinta yang penuh gairah. Itu adalah perjanjian yang lahir dari kebutuhan masing-masing pihak. Bagi Minho, seorang CEO perusahaan teknologi ternama, Yoojung adalah solusi praktis-seorang istri yang dapat mempertahankan citranya di mata publik dan menjadi ibu tiri bagi Eunwoo.
Bagi Yoojung, yang pernah menjadi aktris dan influencer sebelum kariernya hancur akibat skandal, Minho adalah jaminan stabilitas finansial yang ia perlukan. Mereka menikah tanpa cinta, hanya dengan tanda tangan di atas kertas, dan kehidupan mereka berjalan seperti dua garis sejajar yang tidak pernah bersentuhan.
Eunwoo, bagaimanapun, adalah elemen yang tidak Yoojung perhitungkan sebelumnya. Pemuda itu memiliki daya tarik yang sulit diabaikan. Wajahnya sempurna, hampir seperti lukisan, dengan sikap dingin yang membuatnya tampak misterius.
KAMU SEDANG MEMBACA
Choi Yoojung Oneshot
FanfictionDipublish juga di Asianfanfics Choi Yoojung x Boy
