Adelia (1)

1.6K 118 9
                                        

Ini cerita udah MAINSTREAM banget guys wkwk, banyak penulis yang bikin cerita dengan tema yang sama. Tapi aku bercerita dengan cara ku sendiri, jadi jangan dituduh plagiat yaaa

Happy reading 😘

***

"Ma, please stop ngomong ke orang-orang kalo kalo Adel itu calonku," ucap seorang pria dengan kesal.

"Kenapa sih Yan, Adel itu cantik loh. Mama juga suka sama dia," Jawab Amira, Ibu Adrian tidak kalah kesal.

"Mama yang suka sama Adel tapi aku yang jadi korban,"

"Alay banget kamu, jadi korban apanya coba? Itu kamu malah beruntung dapat cewe cantik, baik pula. Apalagi Adel itu masih keluarga kita, kalo kamu nikah sama dia hubungan keluarga bisa makin dekat,"

"Yang benar aja. Adel itu masih SMA!" jawabnya tidak terima. Adrian semakin terlihat kesal karena ucapannya selalu dibantah ibunya.

"Aku ini udah 29, mama mau aku dikira pedofil? Lagian aku juga gak suka sama keluarganya, suka repotin orang. Mereka yang punya utang, tapi kita yang ikut pusing mikirin cara bayarnya."

"Astagfirullah Yan, kamu kalo ngomong tuh dijaga! Apa salahnya coba bantu saudara. Bisa aja suatu hari nanti kita yang kena musibah, kamu mau orang-orang ngatain kita suka ngerepotin? Mau kamu?" Jawab wanita paruh baya itu penuh emosi. Ia kesal sekali dengan omongan anaknya yang tanpa penyaring itu.

"Terserah mama mau ngomong apa, tapi aku tetap gak mau sama dia. Jadi stop nyebut Adel itu calon mantu mama."

Tanpa menunggu respons ibunya, Adrian langsung meninggalkan dapur. Tadi ia sengaja menyusul Amira ke dapur karena jengah dengan ucapan wanita itu yang terus-terusan menyebut Adel calon menantunya. Di rumahnya memang sedang ada arisan keluarga. Termasuk keluarga Adel juga ikut hadir karena ia saudara dari pihak ayahnya. Dan sepanjang acara berlangsung, Amira terus menggiring Adel ke sana kemari dan menyebutnya calon mantu.

Adrian benar-benar tidak menyukai Adel, wanita kelewat centil yang selalu menempelinya di setiap kesempatan. Apalagi ibunya sering menyebut Adel sebagai calon menantu membuat wanita itu semakin besar kepala. Dan juga keluarga Adel yang menurutnya bagai parasit di keluarganya.

Adrian sebenarnya sedikit kasihan dengan apa yang menimpa keluarga Adel. Toko kelontongan milik mereka baru saja terbakar dan hanya sedikit barang yang bisa diselamatkan. Toko itu terbilang besar dan cukup terkenal. Dan sebulan yang lalu toko itu terbakar tanpa sebab yang pasti. Modal yang mereka kumpulkan selama ini tidak bisa menutupi hutangnya pada bank. Terlebih lagi keluarga Adel baru saja membayar sewa ruko yang biayanya juga lumayan menurutnya.

Tapi semua rasa kasihan Adrian pupus saat melihat tingkah gadis itu yang tidak tahu malu. Kalau tidak ingat Adel adalah seorang wanita, ingin sekali Adrian meneriakinya sampai benar-benar sadar. Karena selama ini sudah jelas-jelas ia menolak gadis itu tapi masih saja menempelinya.

Adrian baru saja keluar kamar saat hari menjelang sore. Ia berjalan menuju dapur karena merasa haus. Tinggal beberapa orang saja yang masih berada di rumahnya. Termasuk Adel yang baru keluar dari wc dapur. Mata gadis itu terlihat sembab. Gadis itu meliriknya sekilas lalu berjalan menjauh. Kening Adrian mengerut melihat keanehan itu tapi ia tidak ingin mengambil pusing.

***

"Za, aku suka ngerepotin kamu ya?" Tanya Adel pada pria yang tengah memboncengnya. Pria dengan seragam SMA sama dengannya bernama Reza, adik dari Adrian.

"Ha? Apa?" Tanya pria itu karena suara Adel yang terdengar kurang jelas.

"Aku orangnya selalu ngerepotin ya," kali ini bukan sebuah pertanyaan.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Aug 05, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

The Short StoryCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang