10 - Percobaan Dalam Seminggu

13 7 9
                                    

***

"Aigoo ... Kau sungguh cantik dan sangat berbakat! Berhentilah memujiku yang masih pemula ini." Liane menutup bibirnya sewaktu bicara. Sesekali, ia tertawa tipis sesaat melontarkan kata-kata.

   Aksa memukul bahunya pelan, lalu ikut tertawa tipis seperti apa yang Liane lakukan. "Masa sih? Kau itu loh yang malahan berbakat. Padahal, baru saja join ke agensi ini, tapi, tak lama lagi kau akan segera debut menjadi model."

    Sejak pagi hari, Aksa maupun Liane asyik memperagakan akting Ankoku sewaktu menyamar menjadi perempuan di agensi model ternama.

   Lucian menonton tingkah keduanya yang tak ada habisnya meledek Ankoku. Pada kesempatan kali ini, dia tak ikut menistakannya, sebab, ada sejumlah hal yang harus ditangani. Walaupun begitu, ia turut senang lantaran kedua rekannya yang telah mewarisi bakatnya dalam menistakan orang.

   Sementara Ankoku yang tadinya rebahan di atas sofa seraya menonton berita, lantas menoleh ke arah Liane dan Aksa.

   Ia meraih handuk basah yang tergantung di sofa, melemparkannya ke arah kedua rekannya yang tak selesai-selesai menindasnya.

"Aish ... Kalian berdua ini, sungguh menyebalkan! Coba saja kalau bukan karena kecerobohan kalian! Aku takkan terlibat dalam hal-hal merepotkan seperti ini," keluh Ankoku meluapkan isi hatinya.

"Kami menyebalkan dari segi mana? Aku atau Liane tak ada yang menghinamu loh! Mengapa kau marah?" balas Aksa dengan entengnya.

"Tau deh! Kita cuma menirukan gaya bicaramu saat berakting sebagai wanita. Memangnya salah, ya?" sahut Liane membela diri.

   Ankoku berdecak kesal hingga membanting bantal sofa ke lantai. Memang, menghadapi orang yang jauh lebih muda darinya, cukup menyusahkan.

"Tapi, kalian telah melakukan hal itu hampir seminggu! Apa tak panas kupingku saat mendengar dialog kalian berdua yang berulang-ulang tiap harinya?" gertak Ankoku.

   Namun, kedua rekannya acuh tak acuh akan keluhannya, dan tetap saja melakukan hal yang sama.

    Lucian beranjak bangkit dari kursi, seusai mencari data seseorang melalui pc milik Aksa. Dia mengunjungi dapur untuk mengambil permen cokelat dan ice cream mint choco yang tersimpan di dalam kulkas.

    Lucian cergas mendatangi Ankoku selepas memperoleh ice cream mint choco dan permen cokelat kesayangannya. Kemudian, ia duduk di sebelah rekannya, dan menyerahkan mint choco yang berada di tangannya.

"Udah gak usah diambil hati. Mereka kan masih muda, wajar saja sering bertingkah jahil padamu yang sudah jompo," ujar Lucian sambil menepuk-nepuk punggung Ankoku.

   Ankoku menyantap ice cream mint choco, lalu menganggukkan kepala kala mendengar perkataan satu-satunya rekannya yang seumuran dengannya.

   Ia menatap Lucian, dan mengulas senyum simpul. "Makasih, ya. Cuma kau saja yang dapat memahami perasaan hati mungilku ini."

   Lucian menganggukkan kepalanya pelan sambil mengukir senyum. Ankoku kembali melahap ice cream mint choco-nya, untuk yang kedua kalinya.

   Kala ice cream mint choco baru saja mendarat di lidah, Lucian mengutarakan kata-kata. "Kuakui, penyamaranmu sebagai wanita, sangat menakjubkan. Bahkan, saat melihat dirimu yang sekarang, aku tidak merasa sedang bersama seorang pria."

Player of Law Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang