7. Early Bird

34 6 0
                                        

Berkah hadir di waktu pagi. Itu petuah yang Rina yakini. Makanya ia suka bangun pagi-pagi sekali. Dini hari adalah jatah manusia untuk beribadah. Tahajud di penghujung malam sebagai nafilah. Menyongsong Subuh begitu fajar merekah. Disambung bacaan Quran satu atau setengah surah.

Rina membuka pintu, menyambut dunia luar. Saat ini adalah salah satu waktu favorit Rina: waktu Duha! Matahari bertakhta seujung tombak. Sinar emasnya masih hangat, bak dekapan penuh rahmat. Kicau burung merdu membelai rungu. Rupanya burung-burung itu bertengger pada pohon cemara di depan. Embun mengucapkan salam perpisahan untuk daun. Sementara fotosintesis kembali menggeser posisi respirasi sebagai aktivitas yang dominan. Sekaranglah udara sedang segar-segarnya.

Rina menghela napas dalam-dalam.

Pasokan udara segar mengalir ke paru-paru gadis itu. Lihatlah, si mahasiswa baru sudah berpakaian lengkap. Konon, jurusan pendidikan kerap dilabeli 'si paling rapi'. Pasalnya, tak akan ditemukan mahasiswa pendidikan pergi kuliah sekadar memakai kaus atau jaket. Kemeja adalah setelan minimal dan batik adalah kostum paling aman. Wajar, namanya juga calon guru. Begitu pun Rina dengan kemeja marun, rok hitam, dan kerudung panjang berwarna senada. Tak lupa ransel yang memuat buku dan alat tulis sebagai bekal. Ia siap menjalani hari pertama kegiatan perkuliahan semester gasal.

Mata kuliah pertama dijadwalkan pukul tujuh. Mahasiswa semester satu belum dibebaskan menyusun rencana studi dan sepertinya kelas pagi sengaja diberikan untuk mahasiswa baru. Tidak masalah, Rina suka waktu pagi. Gadis itu segera memasang sepatu pantofel hitamnya. Setelah mengunci pintu dan mengucap bismillahi tawakkaltu, ia beranjak keluar.

Akan tetapi, ternyata penyuka pagi bukan hanya Rina. Gerbang rumah di depan terbuka dan tampak seorang laki-laki menuntun motornya. Pengemudi ojol yang mengantar Rina pekan lalu.

"Pagi, Mbak," sapa si pengemudi ketika pandangan mereka bertemu. Senyum ramah terpatri di wajahnya yang dibingkai helm.

"I- iya, Mas." Rina merespons canggung, dengan sedikit anggukan. Ia tidak terbiasa beramah-tamah dengan orang asing. Kalau dipikir-pikir, orang di depannya bukan orang asing, sih. Mereka bertetangga. Keterlaluan kalau Rina tidak kenal tetangganya sendiri.

"Mbaknya ... yang waktu itu saya jemput dari kampus, ya?" tanyanya lagi. Dari caranya bicara, Rina bisa mendengar logat Jawa yang kental.

"Iya, hehe."

"Sekarang mau berangkat kuliah, Mbak? Mau sekalian saya antar? Kebetulan tujuan saya searah," tawar pengemudi yang sudah duduk di atas motornya itu.

Tentu saja Rina menolak. Aneh rasanya menerima uluran dari orang yang belum terlalu dikenalnya. Namun, pertanyaan yang disampaikan dengan sopan dan gestur yang menunjukkan ewuh-pakewuh itu membuat Rina merasa berkewajiban menjawabnya dengan sopan pula.

"Oh, ndak papa, Mas. Ini saya mau naik angkot," jawabnya disertai seulas senyum. "Monggo duluan saja, Mas," katanya mempersilakan.

"Ya sudah kalau begitu. Saya duluan, ya, Mbak," pamit si pengendara motor sebelum meninggalkan Rina.

Diam-diam, Rina menyesal menolak tawaran itu.

Mengandalkan angkutan kota sebagai transportasi ke kampus bukan pilihan terbaik. Murah, sih. Namun, waktu yang terbuang untuk menunggu angkot lewat, saat-saat sopir berhenti sejenak menunggu penumpang, dan laju transportasi roda empat dibanding kepadatan jalanan tentu perlu diperhitungkan.

Ah, Rina berusaha mengusir jauh-jauh kata 'andai' dari benaknya. Membonceng cowok tetangga sebelah tidak terasa seperti perbuatan yang tepat. Toh, siapa yang tahu maksud mas-mas itu benar-benar menawarkan tumpangan atau cuma basa-basi. Atau jangan-jangan, beliau menganggap Rina sebagai customer dan mengenakan tarif sesuai aplikasi? Ah, sudahlah.

Yang penting, Rina sudah sampai di sini, di gedung FMIPA. Bermodal membaca petunjuk yang tersebar di sepanjang gedung dan kecerdasan spasialnya yang terbatas, gadis itu akhirnya sampai ke kelas. Mengetahui ia bukan orang pertama yang datang, dihembuskannya napas kecewa. Padahal, Rina selalu suka jadi yang pertama mengakrabi kursi-kursi kosong dan papan tulis bersih, berpuas-puas di kelas yang luas. Sayang sekali.

Yah, setidaknya, kursi di baris kedua belum ditempati. Gadis rantau itu bertanya-tanya apakah Meutia ada di kelas yang sama. Sepertinya tidak.

Pukul tujuh, pria paruh baya memasuki kelas sambil menenteng buku Kalkulus. Kelas yang semula riuh berangsur senyap setelah beliau meminta semua orang untuk fokus. Rina suka Matematika. Sejak di sekolah menengah, ia gemar bermain logika dan mencari kaitan di balik rumus-rumus. Pun berkat pengalamannya ikut OSN sampai tingkat provinsi, ia sempat mencicipi sisi Matematika yang berbeda. Sekarang, gadis 19 tahun itu bertanya-tanya, apakah di bangku kuliah, ia akan menghadapi 'Matematika yang sama' atau justru melihat sisi yang lain lagi dari Matematika?

"Adakah yang mau mencoba menjawab?"

Dosen di depan melempar pertanyaan pertama setelah sebelumnya memberi pengantar dan menunjukkan silabus. Tertulis di papan, persamaan lingkaran dalam koordinat kartesius. Mereka diminta mencari persamaan garis singgung apabila gradiennya diketahui. Tampak mudah, bukan? Bukankah materi ini telah mereka pelajari di SMA? Sekadar menggunakan rumus, bukan?

Rina melirik kertas berisi coret-coretannya. Ia sudah menemukan persamaan garis singgung yang dimaksud. Masalahnya, gadis pemikir itu sangsi apakah rumus itu legal di kelas ini. Karena mencoba tak ada salahnya, Rina mengangkat tangan.

"Ya, silakan." Sang dosen tersenyum semringah tetapi juga terasa ganjil.

Sepertinya ... Rina akan mendapat jawaban dari pertanyaannya hari ini.

-o0o-

Author's Notes

Tim early bird, ngacung!! 

Atau adakah yang anak Matematika 👀? Tentu saja cerita ini tidak berfokus pada materi kuliah. Tapi, saya juga nggak mau kuliah mereka cuma jadi tempelan. Yah, mari kita lihat gimana jurusan kuliah berkorelasi dengan karakter seseorang. 

Salam, Hna_13

Panggil Aku Dik SajaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang