"Segera daftar sidang, ya, Nak Dipta."
Telinga Dipta menegang. Ia tidak salah dengar, 'kan? Laki-laki itu menegakkan posisi duduknya, menatap Bu Rita yang membalikkan lembaran skripsi versi terbaru—setelah revisi yang kesekian kali. Setelah membubuhkan beberapa coretan, wanita paruh baya itu mengembalikan bundelan skripsi pada Dipta.
"Saya sudah boleh daftar sidang, Bu?" Pemuda berkumis tipis itu memastikan.
"Ya. Skripsi Nak Dipta sudah layak diujikan. Hasil penelitiannya sudah ada, penulisannya sudah cukup lengkap. Tinggal nanti memasukkan saran dari dosen penguji." Bu Rita menautkan kedua tangan, bertumpu di atas meja. "Makanya segera daftar. Sudah susah payah bikin skripsi, jangan sampai malah terlewat urusan administrasi."
Dipta buru-buru mengangguk khidmat. "Baik, Bu."
"Ya, sudah, begitu saja. Bimbingan selanjutnya, saya harap powerpoint untuk sidang sudah ada. Biar saya bisa kasih masukan sekalian latihan kalau memungkinkan."
Perkataan beliau menutup sesi bimbingan siang ini. Seraya mengucapkan terima kasih, Dipta beranjak dari duduknya. Dibungkukkannya tubuh jangkungnya saat beringsut keluar, mempertahankan sikap sopan. Bu Rita sempat pula menepuk lengan pemuda itu, memberi kata semangat.
Keluar dari gedung tempat ruang dosen berada, angin segar—baik secara harfiah maupun kiasan—menerpa rambutnya yang panjang. Ia ingin bersorak, berteriak, berjingkrak-jingkrak, menunjukkan semarak hatinya pada dunia. Namun, ini masih di wilayah kampus sehingga ia menahan diri untuk tidak bereaksi berlebihan. Hanya sebersit senyum terbit di bawah kumis tipisnya. Akhirnya pemuda itu bisa menghela napas lega.
-o0o-
Dipta menggulir layar ponsel yang membuka salah satu media sosial. Bukan medsos tempat orang mengunggah gambar atau video singkat—ia sudah muak melihat orang-orang pamer pencapaian—melainkan medsos tempat berkomunikasi. Sayangnya, percakapan di dalamnya—mau itu teman, grup angkatan, grup ormawa, maupun grup-grup lain—bisa dikatakan sudah mati.
Tadinya, mahasiswa tingkat akhir itu berniat mengabarkan jadwal sidangnya kepada satu atau dua orang kawan. Namun, teman-temannya mungkin sudah meninggalkan Semarang. Lagipula, ia sudah lama tidak menghubungi mereka. Nyaris lost contact. Merupakan hal konyol untuk tiba-tiba membuka kembali ruang percakapan. Yang ada, ia dikira mau meminjam uang.
Pemuda jangkung itu merebahkan diri di atas kasur. Netranya menatap lampu yang menggantung pada langit-langit kamar. Nyalanya redup. Seperti tatapan mata Dipta. Ridwan Dwi Pradipta, menjelang usia 25, bertahun-tahun mengejar kelulusan dan menjadi saksi bahwa satu-persatu temannya menghilang.
Jika ada yang bertanya mengapa Dipta tidak menghubungi keluarganya ... hm, bagaimana anak tengah itu menjelaskannya? Tentu, ia akan mengabari mereka untuk meminta doa restu. Sebatas itu. Yang pasti, orang tuanya tidak akan jauh-jauh menyeberang ke pulau Jawa untuk menonton jalannya sidang. Pencapaian kakak laki-lakinya sudah cukup membuat bangga dan adik perempuannya lebih butuh diperhatikan.
Pemuda itu memejamkan mata dan menggunakan lengan untuk menghalangi cahaya. Berniat istirahat sejenak, tetapi tahu-tahu sudah masuk waktu Isya. Seruan untuk sembahyang berkumandang, dengan lembut menyapa gendang telinga, menelusup ke relung kalbu, menghadirkan tenang. Benar, Dipta masih punya support system Mahabesar, satu-satunya tempat bersandar, yang atas kehendak-Nya urusan sukar menjadi lancar.
Selepas menunaikan Isya, cowok kalong itu mulai bekerja. Diseduhnya kopi. Ia sudah bertekad untuk begadang sampai pagi. Malam ini, Dipta harus membuat salindia presentasi. Ia juga perlu mempelajari skripsi mulai latar belakang sampai kesimpulan. Jangka waktu pengerjaan yang panjang membuatnya melupakan sebagian detail. Jangan sampai nanti ia tidak bisa menjawab pertanyaan dari penguji dan dituduh memakai joki.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kuliah, Kerja, Nganggur
Genel Kurgu[Periode II Lengkap] Sebelumnya berjudul, "Panggil Aku Dik Saja." Sebagai mahasiswa, Seno kerap mengalami masalah gara-gara: terlalu aktif berorganisasi, terlalu bebas bergaul, dan terlalu sering terbawa perasaan untuk ukuran seorang laki-laki. Menj...
