#story10
Akan terbit.
PART MASIH LENGKAP!!
Hutang sebesar 200 juta yang di tinggalkan oleh ayah Varsha, membuat Varsha harus membanting tulang untuk mencari uang. Segala pekerjaan dia lakukan, tapi hanya cukup untuk membayar bunganya saja. Rentenir...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Suara ketukan pintu terdengar, Baskara yang tengah sibuk berkutat dengan berkas di meja kerjanya mengalihkan pandangan ke arah pintu. Terlihat Dinda-sekretaris Baskara, memasuki ruangan dengan bunyi hak sepatu setipis pensil itu mengiringi langkah kakinya. Dinda melangkah dengan penuh percaya diri, tubuhnya tegap, sama sekali tidak menundukkan kepalanya ketika bertatap mata dengan Baskara.
Baskara menatap penampilan sekretarisnya yang cukup berani memakai rok di atas lutut dengan sedikit belahan di sisi kiri dan kanan. Satu kancing baju yang Dinda kenakan juga terbuka di bagian atasnya, seperti sengaja memperlihatkan belahan dadanya. Baskara mendengus di dalam hati, sepertinya kejadian semalam membuat kepercayaan diri sekretarisnya itu meningkat drastis.
Baskara menganggukkan kepalanya, tidak membalas sapaan dari Dinda. "Ada apa, Dinda?"
Dinda menaruh berkas yang berada di pangkuannya ke atas meja Baskara, senyuman di bibirnya selalu dia perlihatkan. "Ada berkas yang belum Anda bubuhi tanda tangan, Pak. Ini laporan dari tim pemasaran yang kemarin Saya terima, dan belum sempat Bapak tanda tangan karena kejadian semalam." Pipi Dinda bersemu merah saat mengatakan kejadian semalam.
Baskara mengambil berkas itu, membukanya untuk mengecek isi dari berkas yang harus dia tanda tangan. Baskara memperhatikan berkas itu dengan saksama, pandangannya bergerak atas bawah mengikuti tulisan yang dia baca. Setelah di rasa sesuai, dan tidak ada kesalahan, Baskara membubuhi tanda tangannya di bagian depan berkas.
"Saya harap kau tidak mengungkit kejadian semalam." Baskara mengembalikan laporan itu kepada Dinda. "Sebelum melakukannya, Saya sudah mengingatkanmu untuk tidak bawa perasaan karena Saya melakukannya bukan karena menyukaimu. Saya hanya butuh seseorang untuk menemani Saya tidur."
Dinda menganggukkan kepalanya. Semalam, dirinya menemani Baskara tidur, bukan hanya tidur biasa, mereka berhubungan seksual. Hubungan yang tidak seharusnya dilakukan oleh atasan dengan sekretarisnya. Dinda yang menginginkannya, dia sudah menaruh rasa kepada atasannya itu sejak lama. Ketika melihat kesempatan, Dinda tentu tidak menyia-nyiakannya, dia menyerahkan tubuhnya kepada Baskara, memuaskan nafsu atasannya itu.
Tidak ada paksaan, Dinda yang mengajak Baskara melakukannya. Baskara yang hanya laki-laki normal, tentu menerima ajakan Dinda dengan mudah, tapi Baskara mengingatkan jika dirinya melakukan itu bukan karena dia menyukai Dinda. Baskara juga menekankan jika dia tidak akan melakukannya jika Dinda menaruh rasa padanya.
"Saya tidak akan mengungkitnya, Pak. Saya melakukannya karena memang Saya mau. Kalau Bapak butuh teman tidur, Bapak bisa menemui Saya kapan saja," ucap Dinda. Kemudian, melangkahkan kakinya keluar ruangan Baskara.
Baskara berdecih. Dia tidak akan mau memakai Dinda lagi, cukup sekali. Dia tidak mau berhubungan dengan perempuan yang sama berulang kali. Baskara tahu jika Dinda menyukainya, tapi dia berpura-pura tidak tahu karena tidak ingin membuat Dinda semakin berharap. Akan tetapi, yang mereka lakukan semalam sudah membuat Dinda merasa menerima lampu hijau dari Baskara. Terbukti dengan Dinda yang tampak lebih percaya diri hari ini.