#story10
Akan terbit.
PART MASIH LENGKAP!!
Hutang sebesar 200 juta yang di tinggalkan oleh ayah Varsha, membuat Varsha harus membanting tulang untuk mencari uang. Segala pekerjaan dia lakukan, tapi hanya cukup untuk membayar bunganya saja. Rentenir...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Benar saja. Besoknya, rentenir itu kembali mendatangi Varsha. Bukan mendatangi kontrakannya, melainkan ke tempat di mana Varsha bekerja paruh waktu. Varsha yang tengah bekerja sebagai pencuci piring di sebuah restoran harus terpaksa keluar karena anak buah rentenir itu membuat keributan di restoran. Varsha di pecat dari pekerjaan paruh waktunya, di anggap sudah menyebabkan kekacauan di restoran yang kebetulan tengah ramai pengunjung.
Varsha menatap tajam ke arah perempuan yang bersandar ke kap mobil, perempuan itu tengah menyulut rokoknya. “Kenapa kau membuat keributan di tempatku bekerja?”
Perempuan itu mengembuskan asap rokok ke wajah Varsha, seakan senang saat melihat Varsha terbatuk-batuk oleh ulahnya itu. “Kau melupakan janjimu padaku, gadis kecil?”
“Aku pasti akan membayarnya, tapi tidak sekarang.”
Perempuan itu membuang puntung rokoknya sembarangan, berdiri tegap di depan Varsha. “Aku sudah memberimu waktu tambahan dua bulan untuk membayar hutangmu. Aku rasa, aku sudah terlalu baik padamu, membiarkanmu seenaknya saja selama lima tahun ini. Aku hanya kasihan karena kau di tinggalkan kedua orang tuamu. Sepertinya, aku tidak bisa membiarkanmu berbuat sesukamu lagi.”
“Aku berjanji padamu, aku akan membayarnya."
Rentenir itu menggeleng. “Tidak. Aku sudah tidak percaya dengan janjimu. Aku harusnya menyeretmu jadi pelacur dari lama.”
Perempuan itu menggerakkan dagunya kepada kedua anak buahnya, memberi isyarat untuk memegangi Varsha. Kedua preman itu langsung paham, memegangi kedua tangan Varsha.
“LEPASKAN!” teriak Varsha, memberontak, namun itu malah membuat kedua tangannya terasa sakit. “BAJINGAN! LEPASKAN AKU! APA KALIAN TULI! BRENGSEK!”
PLAK.. Rentenir itu menampar Varsha, kemudian menarik rambut Varsha. “Kau terlalu berisik! Kau ingin aku berbuat kasar padamu, hah?! Aku sudah begitu sabar menghadapi gadis kecil sepertimu.”
Varsha meringis, menahan sakit pada rambutnya yang di tarik begitu kuat. “Aku berjanji padamu, aku akan membayarnya.”
“Kau sudah sering berjanji padaku. Kali ini, aku tidak akan membiarkanmu bebas.” Mata perempuan itu menatap tubuh Varsha. “Kau akan laku keras jika bekerja sebagai pelacur.”
Varsha meludahi wajah perempuan itu, menatapnya tajam. “Aku tidak sudi menjadi pelacur!”
Perempuan itu tersenyum, mengusap wajahnya yang terkena air liur Varsha. “Kau cukup pemberani, jalang!” Rambut Varsha di tarik lagi, lebih kuat dari sebelumnya. “Bawa dia ke mobil!”
“TIDAK! LEPASKAN, BRENGSEK!” Varsha terus memberontak, mencoba menahan tubuhnya yang di tarik masuk ke mobil. Varsha memegangi pintu mobil, tapi usaha itu sia-sia. Dirinya dengan mudah di seret untuk masuk.
“Semakin kau memberontak, akan semakin banyak luka yang kau dapatkan,” ucap perempuan itu, melirik Varsha yang di pegangi oleh salah satu anak buahnya di kursi belakang. Sementara anak buah yang satu lagi menyetir dengan perempuan itu duduk di kursi sebelah kemudi.