#story10
Akan terbit.
PART MASIH LENGKAP!!
Hutang sebesar 200 juta yang di tinggalkan oleh ayah Varsha, membuat Varsha harus membanting tulang untuk mencari uang. Segala pekerjaan dia lakukan, tapi hanya cukup untuk membayar bunganya saja. Rentenir...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Keheningan mengisi meja makan di sebuah restoran yang ada di hotel di mana Baskara dan Varsha akan menyelenggarakan pernikahan. Empat orang yang berada di meja itu sedang menyantap makan malam masing-masing, belum membuka suara sedari mereka bertatap muka. Varsha melirik ke arah kedua orang tua Baskara yang duduk di kursi di hadapannya. Ya, kini Varsha sedang makan malam bersama keluarga Baskara lagi, bedanya mereka makan di restoran yang ada di hotel.
Wijaya menatap ke arah Veni, sedikit menyikut lengan istrinya itu. Veni yang di sikut seperti itu menatap Wijaya tajam. “Kau jangan gengsi,” bisik Wijaya di telinga Veni.
Baskara menaruh kedua sendoknya di atas piring dengan posisi menyilang, pertanda dirinya sudah selesai makan. Tangan Baskara beralih mengambil tisu, mengelap sudut bibirnya. “Kau sudah selesai, Varsha?” tanyanya, melirik Varsha yang makan dengan wajah di tundukkan.
Varsha mengangkat kepalanya, menatap Baskara. “Aku sudah selesai.”
Baskara mengernyitkan dahinya, melirik makanan di piring Varsha yang masih sangat banyak. Baskara yakin jika Varsha baru memakan makanannya beberapa suap saja. “Kau sudah kenyang?”
Varsha menganggukkan kepalanya, lebih tepatnya dia merasa canggung jika harus makan semeja dengan Veni. Pertemuan terakhir mereka sedikit tidak mengenakkan karena Varsha menampar Baskara di depan Veni.
Baskara mengangguk. “Ya sudah, kita bisa balik ke kamar.”
“Aku ingin meminta maaf padamu, Varsha,” ucap Veni cepat, menatap ke arah Varsha dan Baskara yang sudah berdiri dari kursinya.
Sedari tadi Wijaya menyikut Veni adalah untuk menyuruhnya mengatakan permintaan maaf kepada Varsha. Veni merasa bersalah karena sudah bersikap tidak sepatutnya kepada calon menantunya—perempuan yang di pilih oleh Baskara untuk dijadikan istri. Veni juga sudah meminta maaf kepada Baskara dengan cara baik, dan dia menyetujui pernikahan Baskara dan Varsha.
Varsha balik menatap Veni, menarik bibirnya untuk membentuk sebuah senyuman. “Kau tidak perlu meminta maaf. Aku tidak masalah dengan semuanya, kau hanya menguji kelayakanku menjadi istri Baskara. Aku tahu kalau aku masih kurang dari kata layak, aku tidak bisa membuat kue kesukaan Baskara, dan aku lemah dari berbagai aspek.”
Veni menggelengkan kepalanya. “Tidak masalah, semuanya bisa dikerjakan oleh pembantu. Uang Baskara banyak, dan kau bisa menyewa pembantu untuk mengurus rumah.”
Varsha tersenyum. Veni masih mengingat ucapannya waktu itu ternyata. Padahal dia mengatakan itu dengan maksud ingin melawan Veni, memperlihatkan ketidaksopanannya kepada Veni. “Aku akan belajar nantinya.”
“Kau ingin duduk dulu di sini?” tanya Baskara. Sepertinya ada yang perlu di perbincangkan lebih lanjut oleh Varsha dan Mamanya.
“Apa kau sudah selesai berbicara, Ma?” tanya Wijaya.
Veni menganggukkan kepalanya. “Kau pasti lelah, kau butuh istirahat. Kegiatanmu besok akan sangat padat. Aku hanya ingin meminta maaf perihal yang terjadi di kantor Baskara dengan Clara.”