Follow akun wattpad aku yaa
Follow Instagram aku juga : rinlaif

****
“Aku minta di bayar di muka,” ucap Varsha, menatap Baskara. Tidak ada ekspresi terkejut sama sekali di wajah Baskara, laki-laki itu tampak santai. Varsha mengalihkan pandangannya dari Baskara ketika tatapan mereka bertemu.
Bersamaan dengan itu, pelayan kafe datang membawakan kopi pesanan Baskara. “Terima kasih,” ucap Baskara kepada pelayan.
Baskara langsung meneguk kopinya. Saat kopi itu mengalir di perutnya, lambungnya terasa perih. Wajar saja, dia belum makan sama sekali, dan malah meminum kopi pahit.
Varsha memperhatikan mimik wajah Baskara yang tampak biasa saja meminum kopi sepahit itu. “Lambungmu baik-baik saja di isi kopi saat kosong?” tanyanya penasaran.
Baskara menaruh gelasnya di meja, menganggukkan kepala. “Aku sudah biasa meminumnya. Semuanya hanya perlu terbiasa, jika sudah terbiasa, kau akan merasa biasa saja. Kau hanya seperti melakukan rutinitas sehari-hari, seperti aku yang harus minum kopi setiap hari.”
Baskara tidak perlu menjelaskan sedetail itu kepada Varsha yang notabene-nya orang yang baru dia kenal. “Kau mendengar yang aku ucapkan tadi?” tanya Varsha.
Baskara tampak berpikir sejenak. “Masalah kopi dan lambung?” tanyanya, mengangkat alis sebelah.
Varsha mendengus kesal. Baru beberapa menit yang lalu dia mengatakannya dan Baskara tidak ingat. Apa laki-laki itu tidak fokus dengan pembicaraan di antara mereka?
Baskara tersenyum kecil melihat wajah kesal Varsha. “Aku mendengarnya. Kau ingin aku membayarmu di muka. Lina juga sudah menjelaskannya padaku.”
Varsha mengangguk. “Bagus. Aku tidak perlu menjelaskan ulang.”
“Iya, sudah cukup jelas. Lina juga memberikan data dirimu padaku.”
Setelah pertemuan dengan Lina terakhir kali, Lina mengirimkan data diri singkat tentang Varsha kepadanya. Hanya data umum yang tidak terlalu rahasia, seperti tanggal lahir, nama lengkap, tinggi dan berat badan yang menurut Baskara dia tidak perlu tahu itu.
“Kapan kau bisa membayarku?” tanya Varsha. Sedikit mendesak memang, tapi tenggat waktu membayar hutangnya tinggal seminggu lagi. Varsha butuh uangnya cepat.
“Aku bisa saja membayarmu sekarang juga, tapi,” Baskara menggantung ucapannya, menatap Varsha menyelidik. Matanya sangat ingin menembus ke balik baju yang dikenakan oleh Varsha, penasaran dengan isi di dalamnya.
Varsha yang mengerti tatapan Baskara, menutupi bagian dadanya dengan tangan. “Kau jangan kurang ajar padaku! Aku tahu isi otak kotormu itu!”
Baskara terkekeh. “Aku tidak bermaksud kurang ajar. Aku hanya sedikit penasaran.”
KAMU SEDANG MEMBACA
BAYAR DI MUKA (Sudah Revisi)
Romance#story10 Akan terbit. PART MASIH LENGKAP!! Hutang sebesar 200 juta yang di tinggalkan oleh ayah Varsha, membuat Varsha harus membanting tulang untuk mencari uang. Segala pekerjaan dia lakukan, tapi hanya cukup untuk membayar bunganya saja. Rentenir...
