BAB 6

13.1K 407 1
                                        

Jangan lupa vote yaa

Baskara memfokuskan dirinya dengan berkas yang berada di atas meja, tidak memedulikan kehadiran Veni-Mamanya dan Clara yang sudah berada di ruangan Baskara sejak setengah jam yang lalu. Kedua perempuan itu duduk di sofa yang berada di dalam ruangan dengan dua gelas minuman yang di suguhkan oleh Dinda sebelumnya.

"Kau akan tetap bekerja dan tidak peduli dengan kehadiranku, Bas?" tanya Veni, mulai geram dengan tingkah anaknya yang terus sibuk dengan pekerjaannya. Tidak berniat menyapanya sama sekali.

Baskara masih tidak menghiraukan Veni, dia tetap memfokuskan dirinya dengan berkas di tangannya. Dia tahu jika maksud kedatangan Veni ke sini hanya untuk membujuknya menerima perjodohan dengan Clara. Dan Baskara sudah muak mendengar segala bujukan Veni.

"Baskara!" tegur Veni, menatap Baskara kesal.

Baskara menarik matanya menatap Veni. "Aku akan mengunjungimu, Ma. Kau tidak perlu datang ke kantorku dan membuat keributan."

"Kau bilang aku membuat keributan?! Kau mengatakan itu kepada Mamamu?"

Baskara berdecih. Veni tampak begitu dramatis. Jika tidak keributan yang di perbuat oleh Veni, lalu ini apa? Veni datang ke kantornya, mengganggu pekerjaannya.

"Mama, tenang." Clara menenangkan Veni, mengusap punggung Veni.

"Mama tidak tahu jika anak Mama satu-satunya lebih peduli dengan pekerjaannya dari pada perempuan yang sudah melahirkannya." Veni memasang wajah sedih.

Baskara mendengus. Dengan malas dirinya bangkit dari kursi, mendekati sofa- duduk di single sofa. Baskara menatap malas ke arah Veni. "Apa yang ingin Mama katakan?"

Veni tersenyum dalam hati, menatap ke arah Baskara. Mau bagaimana pun, Baskara tidak akan tega melihat ibunya bersedih. "Aku hanya ingin kau menikah, Bas. Umurmu sudah 30 tahun, dan kau masih belum berniat menikah."

Benar saja. Veni hanya terus membicarakan pernikahan dengannya. Apa setiap orang harus menikah? Tidak, menikah itu tidak wajib, Baskara tidak harus menikah. "Aku akan menikah."

Veni tersenyum, begitu juga dengan Clara. Kedua perempuan itu terlihat begitu senang mendengar keputusan Baskara.

"Akhirnya kau setuju juga, Bas," ucap Clara, tersenyum senang.

Veni menatap Clara yang duduk di sampingnya. "Bilang pada orang tuamu, suruh mereka ke rumah agar kita bisa membicarakan tentang pernikahan kalian."

Clara menganggukkan kepalanya dengan penuh semangat.

Baskara tersenyum miring. "Kata siapa aku akan menikah dengan Clara?"

Perlahan senyum di bibir Veni dan Clara luntur. Veni menatap Baskara dengan dahi berkerut. "Apa maksudmu, Bas?"

BAYAR DI MUKA (Sudah Revisi)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang