BAB 16

11.9K 366 7
                                        

Jangan lupa vote!

Follow Instagram dan tiktok: rinlaif

Baskara menatap ke arah Varsha yang tertidur di kursi sebelah kemudi, tubuh perempuan itu Baskara tutupi dengan menggunakan jasnya. Sudah hampir dua jam lamanya Varsha tertidur. Tidur perempuan itu tampak begitu pulas seperti orang yang belum tidur selama berhari-hari. Baskara mengetuk-ngetukkan jarinya di setir mobil. Mobilnya sudah terparkir tidak juah dari Secret.

Sejak satu jam yang lalu, mobil Baskara terparkir di sana, tapi Baskara belum membangunkan Varsha, memilih membiarkan perempuan itu melepaskan kantuknya. Merasa bosan, Baskara menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, mengangkat kedua tangannya, lalu ditaruh di belakang kepala membentuk siku-siku. Baskara menunggu dengan santai, menatap lurus ke depan. Tampak jika Secret sudah tutup dan lampunya mati. Jelas saja, sekarang sudah lewat tengah malam.

Tubuh Varsha bergerak, mengerjap-ngerjapkan matanya. Perlahan mata perempuan itu terbuka sempurna. Tangannya bergerak menutup mulutnya yang menguap. Dia masih mengantuk.

“Kau sudah bangun?” tanya Baskara, menatap Varsha.

Varsha menoleh, menganggukkan kepalanya. Dia beralih menatap jas Baskara yang menutupi tubuh bagian atasnya. “Berapa lama aku tertidur?”

“Lumayan lama, lebih dari dua jam.”

“Benarkah?” tanya Varsha terkejut, di balas dengan anggukkan oleh Baskara. “Kau harusnya membangunkanku.” Varsha mengambil jas Baskara, mengembalikannya kepada laki-laki itu. “Terima kasih sudah meminjamkan jasmu.”

Baskara mengambil jasnya, mengedikkan bahu. “Tidak masalah. Aku hanya tidak ingin tergoda melihat tubuhmu.”

Varsha mendengus kesal. Dia memilih mengabaikan Baskara, menarik matanya menatap ke depan. “Kau mengantarkanku ke Secret?

“Aku tidak tahu rumahmu di mana, aku hanya tahu tempat ini karena kau pernah minta di antar ke sini.”

Varsha mengangguk. “Iya, tidak masalah. Aku juga biasa menginap di Secret.

Baskara menghadapkan tubuhnya ke kursi belakang, mengambil sesuatu yang ada di kursi belakang. Sebelumnya, dia mampir ke apotek untuk membeli ice bag untuk mengompres kaki Varsha, dan juga perban elastis.

Baskara menatap Varsha. “Biar aku bantu mengompres kakimu."

Varsha mengernyit bingung. “Biar nanti aku kompres sendiri.”

Baskara menggelengkan kepalanya. “Aku sudah membeli alat kompres di apotek, sayang jika tidak terpakai. Mana? Angkat kakimu.” Baskara memegangi kaki kanan Varsha, mengangkat kaki perempuan itu untuk naik ke atas pahanya.

“Posisi ini tidak nyaman bagiku,” ucap Varsha. Tangannya menutup bagian sela pahanya, bajunya tersingkap karena satu kaki yang di angkat.

Baskara melirik paha mulus Varsha yang terlihat begitu jelas, dan selangkangan perempuan itu juga terlihat, tetapi berusaha di tutupi dengan tangan oleh Varsha. Baskara beralih mengambil jasnya tadi, menutupi bagian paha Varsha dengan jas. “Jika kau tutup pakai ini, aku tidak akan bisa melihat celana dalammu.”

BAYAR DI MUKA (Sudah Revisi)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang