Jangan lupa vote!

Perpeloncoan dari calon mertuanya sudah di mulai. Beberapa hari setelah makan malam itu, Veni menghubungi Varsha, menyuruh perempuan itu untuk datang ke rumahnya pukul 7 pagi. Hanya pesan singkat yang Varsha terima dari nomor baru, mengaku sebagai Mama Baskara. Sudah jelas jika itu nomor Veni, dia mendapatkan nomor Varsha dari Baskara.
+628**********
Datang ke rumah besok pagi, pukul 7, teng!
_Mama Baskara_
Begitulah pesan yang Varsha terima tadi malam. Sekarang, Varsha sudah berada di rumah orang tua Baskara, tanpa Baskara tentunya. Varsha sampai di depan rumah pukul 7 lewat 10 menit. Telat? Iya, Varsha tidak bisa menghindari variabel tak terduga seperti jalanan macet, apalagi dirinya ke sana dengan menaiki angkutan umum.
"Ibu sudah menunggu di ruang tamu," ucap salah satu pelayan, mengantarkan Varsha ke ruang tamu di mana Veni berada.
Varsha melihat Veni yang duduk di ruang tamu, sudah berpakaian rapi. Veni menatap ke arah Varsha yang baru datang, kemudian menatap jam tangannya. "Kau telat."
"Maafkan aku, tadi aku ke sini menai__"
"Aku tidak mau mendengarkan alasanmu. Mau kau pergi ke sini naik apa, aku tidak peduli. Yang jelas kau telat, berarti kau bukan orang yang disiplin. Bagaimana kau akan mengurus anakku nanti? Dia butuh istri yang bisa menyiapkan bajunya, dan sarapannya pagi hari sebelum berangkat bekerja."
"Ada pembantu. Uang Baskara banyak, bukan tugasku membuatkan sarapan untuknya."
Veni terdiam mendengar jawaban Varsha. Wajahnya berubah merah padam, menahan amarah yang bergejolak di dalam hati. "Kau.." Veni tidak bisa berkata-kata lagi. Lancang sekali perempuan pilihan Baskara ini.
Suara tawa terdengar, Wijaya turun dari tangga dengan kondisi masih memakai baju tidur. "Calon menantu kita tidak salah, Ma. Kau juga tidak pernah menyiapkan makanan untukku, semuanya dilakukan oleh pembantu."
Veni menatap Wijaya memperingati. "Kau diam saja, Wijaya! Biar aku yang menguji calon istri Baskara."
Wijaya berdiri di depan Varsha, mencibirkan bibirnya. "Dengarkan saja, kau hanya perlu menyiapkan telinga. Jika tidak sanggup, kau bisa menutup telingamu dari pada telingamu berdarah," guraunya.
Varsha tersenyum menanggapi ucapan Wijaya. "Aku sudah menyiapkan telinga, hati dan pikiranku."
"Kau sudah membawa bekal ternyata." Wijaya beralih menduduki sofa di sebelah Veni. "Duduk, Varsha," ajaknya. "Kau jangan berdiri terus, nanti kau bisa kalah di medan perang."
Varsha mengangguk, memilih duduk di sofa yang berseberangan dengan Veni dan Wijaya. Dia tidak tahu untuk apa Veni menyuruhnya datang ke rumah pagi-pagi sekali. Jadi, Varsha tunggu saja apa yang ingin dilakukan oleh calon mertuanya itu. Ralat. Calon mertua pura-pura.
KAMU SEDANG MEMBACA
BAYAR DI MUKA (Sudah Revisi)
Romance#story10 Akan terbit. PART MASIH LENGKAP!! Hutang sebesar 200 juta yang di tinggalkan oleh ayah Varsha, membuat Varsha harus membanting tulang untuk mencari uang. Segala pekerjaan dia lakukan, tapi hanya cukup untuk membayar bunganya saja. Rentenir...
