#story10
Akan terbit.
PART MASIH LENGKAP!!
Hutang sebesar 200 juta yang di tinggalkan oleh ayah Varsha, membuat Varsha harus membanting tulang untuk mencari uang. Segala pekerjaan dia lakukan, tapi hanya cukup untuk membayar bunganya saja. Rentenir...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Aku membayar sebagian dari hutang ayahku.” Varsha melemparkan amplop coklat ke meja rentenir yang meminjamkan uang kepada ayahnya.
Rentenir itu tersenyum, mematikan rokoknya dengan menekan ujungnya ke asbak yang ada di meja. Kemudian, dia mengambil amplop yang Varsha lempar, mengeluarkan segepok uang seratus ribu itu, lalu memasukkannya ke mesin penghitung uang. Selagi mesin itu menghitung uang yang berjumlah sangat banyak itu, perempuan itu melirik Varsha. “Dari mana kau mendapatkan uang ini?”
“Kau tidak perlu tahu.”
Rentenir itu tersenyum remeh. “Kau tidak menjual dirimu bukan?”
“Jaga ucapanmu!” Varsha menatap perempuan itu marah. “Aku tidak akan menjual diriku!”
Rentenir itu mengangguk-anggukkan kepalanya, masih menatap Varsha remeh. Semua uang selesai di hitung, perempuan itu memasukkan uangnya ke dalam laci meja. “Ini baru seperempat dari hutangmu. Bagaimana kau akan melunasi sisanya? Waktumu tinggal sebulan lagi. Apa kau yakin bisa mendapatkan 150 juta dalam waktu sebulan? Ini saja kau hanya dapat 50 juta dalam sebulan. Bulan depan kau harus mengumpulkan tiga kali lipat dari ini.”
“Kau tidak perlu khawatir. Aku pasti akan membayarmu sesuai janjiku.”
Varsha masih mempertahankan wajah menantangnya, padahal di dalam hati sudah ketar-ketir. Bagaimana caranya mencari uang sebanyak 150 juta dalam sebulan? Uang yang baru saja dia kasih ke rentenir itu adalah uang yang di pinjamkan oleh Lina kepadanya.
Varsha melangkahkan kakinya keluar dari ruangan rentenir itu. Saat Varsha keluar, dia melihat dua orang preman yang rajin mendatanginya setiap hari. Tatapan sengit Varsha berikan kepada dua preman itu. Setelah itu, Varsha berlalu, meninggalkan kantor lintah darat yang memeras uang dari orang sedang kesusahan itu.
Memang yang meminjam ke rentenir yang bersalah, tapi ada orang yang meminjam karena memang butuh. Bukan hanya ayah Varsha yang suka berjudi saja, ada ibu-ibu yang memang butuh untuk kebutuhan sehari-hari.
Dengan tatapan seperti malaikat, rentenir mengulurkan tangannya kepada orang yang membutuhkan, mengatakan kata-kata manis demi membujuk orang untuk meminjam padanya.
Orang yang berhasil terbujuk rayuan maut rentenir tidak sadar jika dirinya sedang di tarik ke lubang kesengsaraan. Rentenir itu akan memberikan bunga pinjaman yang begitu tinggi, orang yang meminjam tidak bisa apa-apa selain harus membayar karena sudah terlanjur memakai uangnya. Itulah hebatnya tipu daya seorang lintah darat. Dia akan menghisap darah orang yang dia tempeli tanpa disadari oleh orang yang bersangkutan.
Varsha menghampiri Lina yang menunggunya di bawah, sahabatnya itu menemaninya karena Varsha membawa uang yang cukup banyak. “Sudah selesai?” tanya Lina.
Varsha menganggukkan kepalanya, naik ke atas motor Lina. “Apa belum ada laki-laki yang mau menyewa jasaku?”
Varsha sudah memberikan data dirinya kepada Lina, berikut dengan fotonya. Foto yang dia ambil saat itu juga, di bantu oleh Lina. Apa fotonya terlalu buruk sampai tidak ada yang berniat memakai jasanya?