#story10
Akan terbit.
PART MASIH LENGKAP!!
Hutang sebesar 200 juta yang di tinggalkan oleh ayah Varsha, membuat Varsha harus membanting tulang untuk mencari uang. Segala pekerjaan dia lakukan, tapi hanya cukup untuk membayar bunganya saja. Rentenir...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Mobil Baskara masuk ke rumah besar yang pagarnya di bukakan oleh satpam. Varsha sempat terperangah saat melihat betapa megahnya rumah orang tua Baskara. Pantas saja laki-laki itu mampu membayarnya mahal jika rumah orang tuanya seperti ini. Baskara pasti berasal dari keluarga yang sangat kaya. Bukan hanya bagian depan rumah yang Varsha kagumi, mereka juga langsung di sambut oleh dua orang pelayan perempuan yang memakai baju seragam. Varsha sudah merasa berada di kerajaan saja.
Varsha turun dari mobil ketika di bukakan pintu oleh salah satu pelayan. Baju Varsha sudah berganti dengan dress panjang semata kaki berwarna maroon, dengan belahan di satu sisi sampai ke paha. Bukan Varsha yang memilih baju itu, melainkan Baskara. Pilihan Varsha selalu dikatakan jelek oleh laki-laki itu, dan Varsha berakhir memakai baju yang Baskara pilihkan.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Bukan hanya bajunya yang berganti, Varsha juga memakai high heels setinggi 10 cm dengan hak runcing. Varsha yang tidak terbiasa mengenakan sendal setinggi itu sedikit kesusahan untuk berjalan. Dia biasa memakai sendal datar yang bisa dia bawa berlari. Sedangkan yang kini dia pakai, jangan kan untuk berlari, untuk berjalan saja Varsha harus pelan-pelan karena takut terjatuh.
Rambut Varsha juga sudah di tata dan wajahnya sudah memakai make up tipis. Baskara membawanya ke salon sebelum ke rumah orang tuanya. Sekarang, penampilan Varsha sudah tampak seperti perempuan berkelas. Varsha tersenyum kepada pelayan yang membukakan pintu mobil untuknya. Kemudian, dia berjalan dengan mengangkat dagu, cukup percaya diri.
Baru beberapa langkah Varsha berjalan, dia hampir terjatuh. Untung saja tangan Baskara sigap menahan pinggangnya. Varsha menatap ke arah Baskara, tersenyum. “Terima kasih.”
Jika saja Baskara tidak menahan pinggangnya, mungkin dia sudah terjatuh dan mempermalukan dirinya di depan pelayan di rumah itu. Varsha hanya belum terbiasa memakai highheels, dia perlu berlatih.
“Kakimu bisa keseleo jika tidak berhati-hati saat berjalan,” peringat Baskara, menghela tubuh Varsha untuk memasuki rumah. Tangan Baskara terus melingkar di pinggang Varsha dengan posesif.
Varsha menahan napasnya. Ini pertama kali tangan laki-laki memegang pinggangnya dengan mesra. Saat Varsha mengangkat kepalanya untuk menatap wajah Baskara sekilas, dia mendengus. Kenapa harus Baskara laki-laki yang memperlakukannya dengan mesra?