Para murid fokus menyimak Pak Pras yang sedang menjelaskan sebuah rumus. Suasana kelas nampak hening, hanya suara decit pelan ujung spidol beradu dengan papan tulis sesekali terdengar.
Semua nampak tenang dan terkendali di luar, kecuali mungkin isi dalam kepala Xavier yang tengah berperang dengan pikiran dan rasa penasarannya sendiri.
Sedari tadi dia masih sibuk memandangi Xena yang sedang mencatat setiap bait penjelasan Pak Pras.
Sikap Xena yang cuek sungguh membuat Xavier tertantang untuk menarik perhatiannya. Berbeda dari cewek-cewek lain yang terpukau setiap kali melihat ke arah Xavier. Xena justru acuh dan sama sekali tak pernah mengarahkan pandangannya pada Xavier. Seakan ia tak terlihat di mata gadis itu.
Bagaimana bisa gadis seperti Xena tak tergoda dengannya? Wajah blasteran, hidung mancung dengan bibir yang kecil terasa sempurna melukis wajahnya. Sementara cewek-cewek cantik di sekolah itu berebut untuk kenal dan ingin dekat dengan cowok baru pindahan dari Jakarta itu.
Xavier menulis sesuatu di kertas kecil. Dia melipatnya, kemudian meletakkan kertas tersebut di meja Xena.
Ekspresi Xena berubah masam, sebelum akhirnya bersedia dengan ogah-ogahan membuka kertas yang diberikan oleh Xavier.
'Mau bicara sebentar?' Tulisan di kertas itu terbaca.
Xena mengambil bolpoin kemudian menulis balasan 'Enggak.' di kertas yang sama dan langsung mengembalikan kertas tersebut pada Xavier.
Xavier tersenyum membacanya. Dia tau betul akan mendapat penolakan itu, namun masih terus iseng mendekati Xena.
Benarkah Xavier hanya iseng? Atau mungkin, dia betul-betul ingin mendekati Xena. Apapun itu, yang jelas Jonathan tidak menyukainya.
Sejak awal kemunculan Xavier, Jonathan yang duduk di belakang mereka diam-diam memperhatikan, tingkah cowok itu yang jelas-jelas berusaha mendekati Xena.
Jonathan mendekat ke tengah-tengah meja Xavier dan Xena. Dia mengebrakkan tangannya ke meja Xavier.
Xavier terperangah, mereka berdua saling menatap satu sama lain.
"Ada apa Jo...?" Tanya Pak Pras, ikut kaget.
Senyuman meremehkan terbentuk di sudut-sudut bibir Jonathan. "Gak pak, tadi ada nyamuk yang lewat depan Xavier. Sayang kalau muka gantengnya ini sampai digigit nyamuk." jawabnya enteng, sembari menatap Xavier ganas.
Terlihat percikan api cemburu mulai menyala dalam diri Jonathan. Sejak dulu, dia memang tidak pernah membiarkan satu laki-lakipun mendekati Xena.
Tingkah aneh Jonathan mau tak mau membuat Xavier berpikir, namun cowok itu tahu tempat dan lebih memilih tidak menanggapi.
Kenapa pula anak ini tiba-tiba ngegas? Apa wajar sahabat sampai segitunya? Atau, sebenernya ada sesuatu yang lain dalam diri Jonathan, yang membuatnya terperangkap dalam hubungan bertopeng sahabat?
**
Cowok ganteng, cowok ganteng.
Ahh, rasanya geli karena kata-kata itu terus terdengar di telinga Xena yang sedang berada di toilet. Beberapa siswi sedang membetulkan riasan mereka di wastafel sibuk bergosip tentang datangnya murid baru nan tampan. Mereka nampak asyik mematut diri bercermin sembari bersolek dan dengan hebohnya memuji-muji Xavier bak seorang artis.
Xena keluar dari bilik toilet, seketika gadis-gadis itu terdiam. Xena memasang wajah sinisnya kemudian menarik beberapa tisu yang tergantung di dekat gadis tadi.
"Kak Xena, cowok baru yang ganteng itu sekelas sama Kakak kan?" Salah satu gadis itu memberanikan diri bertanya pada Xena.
"Iya." jawabnya singkat sembari mengelap tangannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
XENA The Aggressive Friend ( End )
Historia CortaSudah tamat (belum revisi), masih banyak typo dan plot yang kurang tepat. Tapi sesi ke-dua cerita ini sudah publish dengan judul "Xena Love Hate Reletionship" --- Xena seorang gadis miskin yang mengalami philophobia, tiba- tiba menjadi agresif hanya...
