⊹ A LIFE UNVEILED : EAS ⊹

16K 755 15
                                        

Hening

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Hening. Beberapa detik yang lalu ruang makan masih ribut karena tingkah absurd Kanaza. Tapi sekarang justru sunyi.

Kanaza berdiri pelan dari kursinya, roti terakhir di tangannya habis dalam satu gigitan sebelum dia narik hoodie nya sedikit keatas.

“Gw kenyang.”

“Kanaza, tunggu─” Belum sempat Aurelia menyelesaikan kalimatnya, Kanaza sudah berbalik, bersiap ninggalin ruang makan yang ngebuat perasaan nya sedikit sesak.

Sebelum sempat melangkah, Raine menahan tangannya, “Ruang medis.”

“Ga.” Ketusnya sembari berusaha melepaskan genggaman yang erat dari tangannya.

“Kanaza.”

“Ogah.” Dengan sekuat tenaga, Kanaza akhirnya bisa menyentakkan genggaman erat Raine.

“Kanaza.”

“Apasih! Manggil nama gw melulu, fans gw lu?.” Sewot Kanaza dengan melirik sinis Raine.

“Keruang medis, Kanaza. Kamu perlu diperiksa.” Dengan sabar dan lembut Raine berucap, tapi beda lagi kalo diperdengaran Kanaza, dia mah ngira si Raine ini lagi neken suaranya.

“Nanti.”

“Nanti kapan, Kanaza?.” Nah, ini nada baru ditekan oleh Raine, udah emosi banget dia tuh.

Kanaza melirik Raine sekilas, habis tuh langsung melangkah kan kaki keluar ruang makan menuju tangga, “Tunggu pendarahan dikepala gw selesai.”

“MANA BISA SEPERTI ITU, KANAZA!!” Kali ini yang bersuara nyonya Arvendra─ Nyxavelle Seraphie Arvendra, yang sudah kepalang emosi dengan Kanaza yang terus-menerus menolak buat ke ruang medis atau seenggaknya ya diperiksa.

Kanaza pura-pura ga dengar teriakan sang mommy (?), dia terus jalan tanpa memperdulikan panggilan demi panggilan dari belakangnya. Kanaza terus jalan menaiki tangga demi tangga buat menuju ke kamarnya, dia harus sesegera mungkin mencari informasi.

Kanaza sedikit panik, hanya sedikit, jika memang dia masuk ke pertengahan cerita, maka dia ga punya banyak waktu buat bersantai, ya bisa aja sih cuma dia mau ini semua cepat selesai.

Klik.

Pintu kamar terbuka, Kanaza langsung masuk, nutup lalu langsung memutar kunci.

Kliik.

Kanaza menghembuskan napas panjang “Gilek, ngurusin bacotan mereka bikin cape, njir.” Rutuknya. Kanaza memastikan terlebih dahulu apakah pintu benar-benar sudah terkunci, karena mau gimanapun dia harus waspada. Setelah memastikan, dia langsung berbalik dan mulai memeriksa seluruh isi kamar.

“Hmm, dimana kotak P3K?.” Matanya meliar, mancari tempat dimana kira-kira P3K itu disimpan. Dia memang santai saat mengetahui bahwa dia terluka, tapi bukan berarti dia mau darah netes terus sampe besok, kan bisa-bisa dia kehabisan darah yak, ribet ntar.

A LIFE UNVEILEDCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang