: 083108976845
__________________________________________________
Kini Kanagra berpamitan kepada seluruh anggota Rexalio's. Sarapan telah usai sejak beberapa saat lalu-sempat terselip sedikit kegaduhan, namun tak seorang pun benar-benar menggubrisnya.
Terlebih Kanagra. Ia telah lama terbiasa dengan tingkah sepupunya itu─ drama semacam itu baginya tak lebih dari rutinitas harian. Maka tak mengherankan bila wajahnya tetap tenang, seolah tak terjadi apa-apa.
Usai berpamitan, Kanagra bersiap berangkat ke sekolah. Kepergiannya sempat tertunda oleh perdebatan panjang-atau lebih tepatnya, adu kehendak di antara para lelaki Rexalio's-tentang siapa yang berhak mengantarnya. Perdebatan itu berlangsung terlalu lama, hingga akhirnya Kanagra yang kelelahan memilih jalan singkat─ meminta Karina, sang ibu, untuk mengantarnya.
Supir pribadinya tengah izin pulang kampung karena ibunya sakit, dan Kanagra sama sekali tak mempermasalahkannya. Ia bahkan sanggup berangkat sendiri-sebab mengemudi bukanlah perkara asing baginya.
Di kehidupan lamanya, Kanagra adalah pembalap profesional. Lintasan dan kecepatan adalah dunianya; kemenangan telah menjadi kebiasaan. Tak ada kesukaran yang benar-benar ia rasakan kala itu. Ia sempat berpikir untuk menapaki jalan yang sama di kehidupan ini, mengira takkan ada tangan yang sudi menanggung kebutuhannya.
Namun dugaan itu keliru. Keluarga Rexalio justru berbanding terbalik dari ingatan lama Kanagra. Mereka yang seharusnya acuh, kini berubah menjadi amat melindungi-terlalu melindungi, bahkan. Ia diperlakukan bak bayi rapuh. Awalnya terasa janggal, sedikit menggelikan, namun perlahan Kanagra belajar menyesuaikan diri dengan kasih yang datang mendadak itu.
─
Mobil Karina kini telah berhenti di halaman sekolah. Kanagra masih duduk di dalam, berpamitan dengan ibunya.
"Mama, Kana berangkat," ucapnya lembut, lalu mengecup kedua pipi Karina-sebuah kebiasaan baru yang kini melekat erat dalam kesehariannya.
Karina mengangguk, lalu memeluknya erat, seakan enggan melepas. Ada kekhawatiran yang tak tersamar di matanya-takut akan pandangan orang lain, takut akan luka lama terulang. Ia ingin melindungi Kanagra dari dunia, namun lebih takut kehilangan hatinya.
"Jaga dirimu baik-baik," ucap Karina lirih. "Kalau ada yang menyakitimu, katakan pada Mama."
Kanagra mengangguk pelan. Karina mengecup keningnya lama, mengusap rambutnya penuh kasih, sebelum akhirnya berkata, "Pergilah. Kakak dan abangmu sudah menunggu."
Kanagra menuruti, mencium pipi Karina sekali lagi, lalu keluar dari mobil.
Seisi halaman sekolah seketika terdiam. Pandangan tertuju pada mobil mewah itu sejak tadi, menunggu dengan rasa ingin tahu yang tertahan. Nafas seolah terhenti ketika sesosok kaki melangkah keluar, disusul seluruh sosok Kanagra yang kini berdiri di hadapan mereka.
Ia menatap bangunan sekolah di depannya, lalu sekeliling-tatapan-tatapan asing yang mengarah padanya, masing-masing membawa arti berbeda.
Dan dalam keheningan itu, Kanagra berdiri tenang, seolah tak menyadari bahwa sejak langkah pertamanya turun dari mobil, segalanya telah berubah.
"KYAAA!! ADA DEGEM WOIII!!"
"GILEK GILEK IMUT BANGET COKK!!"
"KARUNG MANA KARUNG!"
"Buat apa anjir elu karung"
"Ya buat culik tuh degem lah, emang lu gak mao?"
"Gilak lu, tapi gas lah!"
KAMU SEDANG MEMBACA
A LIFE UNVEILED
Fantasía[SEDANG ROMBAK ALUR] Sebelum Rombak Alur : Transmigrasi Kana Setelah Rombak Alur : A Life Unveiled Seorang agen rahasia elit ISA bernama Kanava Kael Draxon tewas dalam misi dan terbangun di tubuh Kanaza Elvior Arvendra, antagonis dalam novel romanc...
