❍⌇─➭ WELCOME TO ⌗MY STORY 𓏲࣪ ๑ ˚ ͙۪۪̥◌ ✎꒱
__________________________________________
"Abang, kakak!"
Seruan itu meluncur ringan dari bibir Kanagra saat matanya menangkap keempat saudaranya. Ia segera melepaskan pelukan yang sedari tadi mengurungnya, lalu berlari kecil menghampiri mereka, langkahnya tergesa namun penuh suka cita.
Kanagra mendongakkan kepala, menatap wajah-wajah yang menjulang tinggi di hadapannya. Dengan tinggi badan hanya seratus lima puluh empat sentimeter, ia tampak begitu mungil di antara keempat saudara titannya.
Keturunan Rexalio memang dikenal memiliki postur luar biasa-tak satu pun dari mereka yang bertubuh di bawah seratus tujuh puluh sentimeter, bahkan para perempuannya sekalipun.
Kanagra adalah satu-satunya pengecualian, anomali yang justru membuatnya kian menawan.
Keempatnya menatap Kanagra dengan sorot mata yang sama: gemas. Terlampau gemas.
Tanpa banyak kata, Alvaro menggendong Kanagra dengan mudah, mengaitkan tubuh kecil itu ke badannya layaknya koala yang enggan melepaskan batang pohon.
Berat Kanagra nyaris tak terasa-ringan, seolah ia memang diciptakan untuk berada dalam pelukan.
"Baby sama siapa?" tanyanya datar, namun sorot matanya bergeser ke arah Clarissa-tajam dan penuh selidik.
Clarissa membalas tatapan itu tanpa gentar, sama datarnya. Ia memang demikian; hangat hanya pada mereka yang ia pedulikan. Selebihnya, ia menyimpan wajah dingin yang tak mudah ditembus siapa pun.
"Kana tadi sama Ona!" jawab Kanagra riang, suaranya berbinar penuh kebanggaan.
Hari itu terasa istimewa baginya. Untuk pertama kalinya, ia memiliki seseorang yang bersedia berdiri di sisinya.
Selama ini, anak-anak di kelas hanya menatapnya dengan kebencian-iri, jijik, dengki, dan ejekan menjadi santapan hariannya. Tak ada yang ingin berteman dengannya. Tak seorang pun, kecuali Clarissa.
"Ona?" Vira mengulang pelan.
Tatapannya beralih pada Clarissa, menelusuri sosok itu dari ujung kepala hingga kaki, seolah hendak membedah niat di balik keberadaannya.
Ia tak ingin Kanagra dikelilingi oleh orang-orang yang sekadar memanfaatkan atau menyimpan maksud tersembunyi.
"Gue."
Jawaban singkat itu keluar dari Clarissa tanpa ragu. Ia sadar sepenuhnya bahwa tatapan Vira adalah bentuk kewaspadaan-dan ia tak keberatan. Justru dari sana ia tahu, keempat Rexalio itu telah berubah. Mereka kini menjaga Kanagra dengan sepenuh jiwa.
Sejenak, udara dipenuhi keheningan.
Dua pasang mata saling bertaut-tajam, dingin, tak bergeming. Tak ada rasa gentar di antara mereka. Namun kebisuan itu segera terputus saat Clarissa memalingkan wajahnya lebih dulu.
"Ine, ayo ke kantin." Nada suaranya melunak ketika ia menatap Kanagra. Ia melangkah mendekat, lalu mengusap perlahan surai hitam legam milik Kanagra-sentuhan yang penuh kehati-hatian dan perhatian.
"Ayooo!"
Antusiasme Kanagra sontak mencuri fokus keempat saudaranya. Tatapan tajam yang tadi mengarah pada Clarissa kini sirna, digantikan senyum-senyum samar penuh gemas. Wajah Kanagra yang berseri membuatnya tampak kian mungil, kian menggemaskan.
Tawa kecil pun terlepas.
KAMU SEDANG MEMBACA
A LIFE UNVEILED
Fantasy[SEDANG ROMBAK ALUR] Sebelum Rombak Alur : Transmigrasi Kana Setelah Rombak Alur : A Life Unveiled Seorang agen rahasia elit ISA bernama Kanava Kael Draxon tewas dalam misi dan terbangun di tubuh Kanaza Elvior Arvendra, antagonis dalam novel romanc...
