Kanagra tersenyum tipis. Pertemuan itu telah usai-dan seperti semua hal yang indah, ia tak ditakdirkan untuk bertahan lama.
________________________________________
Kanagra-atau Alex, sebagaimana jiwa itu kini dikenal-akhirnya kembali dari dunia yang tak ia kenali namanya. Sebuah erangan lirih lolos dari bibir pemuda itu, beriringan dengan bunyi kenop pintu yang diputar perlahan.
"Eungh..." Kelopak matanya bergerak ragu, silau oleh cahaya yang merambat masuk. Ia mengerjap pelan, hingga penglihatannya menangkap sosok yang telah berdiri di hadapannya.
"Eungh... Kak Jo...?" Jonson tersenyum tipis. Wajah bantal Tuan Kecilnya-polos dan sedikit linglung-selalu berhasil meluluhkan kesabarannya.
"Ya, Tuan Kecil," jawabnya lembut.
Tanpa banyak kata, Jonson mengangkat tubuh Kanagra ke dalam gendongan dan melangkah menuju kamar mandi. "Ugh... mau ke mana...?" gumam Kanagra setengah sadar.
Jonson melirik ke bawah, menahan tawa kecil. "Bangunlah sedikit, Tuan Kecil."
"Unghh..." Kanagra mengangguk kecil, entah sadar atau tidak. Di kamar mandi, Jonson menghadap wastafel. Ia membasahi tangan, berniat menyegarkan wajah Kanagra yang masih tenggelam dalam kantuk. Namun ketika cubitan kecil di pipi gembul itu tak membuahkan hasil, ia menarik napas pendek.
"Maafkan saya."
Byurr!
Air dingin menyentuh wajah Kanagra. "Umph-pleh!"
Mata Kanagra terbuka lebar seketika. Jonson terkekeh, tak mampu menahan diri. Ekspresi kaget itu-lagi-lagi-terlampau menggemaskan.
Kanagra mendongak, menangkap sosok Jonson yang sedang menertawakannya. Seketika ia memasang tatapan setajam mungkin, seolah hendak "membunuh".
Jonson terdiam... lalu tertawa lebih keras.
Bukan menakutkan-justru sebaliknya. "Matanya jangan dibulatkan begitu, Tuan Kecil," ujar Jonson di sela tawa. "Saya bisa jatuh cinta dengan kelucuan mata anda, Tuan kecil."
"Ih! Kak Jo!" protes Kanagra, merona kesal. "Jangan ketawa!" Ia meronta dalam gendongan.
"Turunin!"
"Eh-Tuan Kecil!" Jonson refleks mengeratkan pegangan. "Baik-baik, akan saya turunkan tapi diam dulu! Anda bisa jatuh nanti, Tuan Kecil!" Kanagra berhenti sejenak, menatap Jonson penuh curiga.
"Beneran diturunin?"
"Beneran," jawab Jonson jujur. "Asal Tuan Kecil diam." Mata Kanagra berbinar. "Oke!" Jonson perlahan menurunkannya-namun sebelum kaki itu benar-benar menapak, Kanagra kembali terangkat.
"Eh?! Kak Jo!" Jonson melangkah keluar kamar mandi, seolah tak mendengar protes itu. Tujuannya jelas: makan malam.
"Kak Jo!!!" Jonson tetap berjalan. Jika keluarga besar tak menghendaki Kanagra duduk bersama, ia siap membawa Tuan Kecilnya makan dengan para pelayan dan pengawal. Tatapan sinis, jijik, atau benci-semua itu lebih baik ia terima sendiri, asal Kanagra aman.
Namun tiba-tiba- "DUK!"
Jonson terhenti, napasnya tertahan. "Aduh... Tuan Kecil..." Kanagra menendang tepat pada "masa depan" Jonson.
Ia menahan suara, menurunkan Kanagra dengan sangat hati-hati, lalu duduk sebentar, satu tangan menahan diri, satu lagi memastikan Tuan Kecilnya aman. "Kak Jo?" tanya Kanagra polos. "Kak Jo kenapa?"
Jonson memaksa senyum, wajahnya sedikit pucat. "Ti-tidak apa-apa, Tuan Kecil..."
Sementara Kanagra menatapnya dengan wajah suci-yang sama sekali tak mencerminkan pelaku kejahatan barusan.
KAMU SEDANG MEMBACA
A LIFE UNVEILED
Fantasy[SEDANG ROMBAK ALUR] Sebelum Rombak Alur : Transmigrasi Kana Setelah Rombak Alur : A Life Unveiled Seorang agen rahasia elit ISA bernama Kanava Kael Draxon tewas dalam misi dan terbangun di tubuh Kanaza Elvior Arvendra, antagonis dalam novel romanc...
