: 083108976845
_______________________________________________
Beberapa hari telah berlalu, dan pagi itu menjadi hari di mana Kanagra kembali menjejakkan kaki ke sekolah setelah sekian lama absen dari dunia itu.
Jam dinding baru saja menunjukkan pukul lima lewat tiga puluh satu menit. Namun Kanagra telah rapi dengan seragam sekolah yang melekat di tubuh mungilnya. Di hadapan meja belajar, ia merapikan perlengkapan yang akan dibawanya-buku, alat tulis, semuanya tersusun tenang, seolah ia sedang menyiapkan dirinya untuk sebuah awal yang baru.
Sebenarnya Bi Anna telah menawarkan diri untuk menyiapkan segalanya. Namun Kanagra menolaknya dengan sopan. Katanya, ia ingin mencoba melakukannya sendiri-sekadar merasakan pengalaman yang mungkin tak akan terulang.
[Selamat pagi, Tuan ˃ 𖥦 ˂.]
Kanagra melirik ke samping, ke arah hologram kecil yang melayang setia di sisinya.
"Pagi juga, Puky," balasnya ringan.
[Bagaimana perasaan Tuan hari ini?.]
"Biasa aja," jawab Kanagra singkat. Ia menutup ritsleting tas sekolahnya, lalu melangkah menuju balkon kamar. Udara pagi menyentuh wajahnya saat ia duduk di kursi yang tersedia, menatap langit yang masih pucat.
[Hm... masa biasa saja? ᯣ_ᯣ.]
Kanagra menoleh dengan tatapan datar. "Terus gue harus gimana? Melompat kegirangan?" katanya lirih, nyaris malas. Puky terdiam sejenak sebelum kembali bersuara.
[Engga gitu Tuan, Maksudku tuh... bukannya ini seharusnya membuat Tuan bersemangat?.]
"Bersemangat buat apa?" Kanagra mengernyit. "Ga ada yang istimewa."
[Tuan lupa? Semua tokoh penting bersekolah di Orchid's High School (¬_¬).]
Ucapan Puky membuat Kanagra terdiam. Sejenak kemudian, ia terkekeh kecil sambil menggaruk tengkuknya. "Ah... iya. Gue lupa."
Puky hanya bisa menghela napas panjang. Betapa anehnya Tuannya-pelupa akan hal penting, namun tajam pada hal-hal remeh.
[Tapi... kenapa Tuan udah siap sepagi ini?.]
Kali ini, sorot mata Kanagra berubah. "Karena gue mau lihat mereka," katanya jujur. "Para tokoh yang selama ini hanya ada di halaman cerita." Puky mendengus kecil.
[Tadi katanya biasa saja.]
"Diam," balas Kanagra santai. "Ini tuh beda." Ia tersenyum samar. Penampilannya hari itu sederhana-rapi tanpa berlebihan. Tak mencolok, namun justru terasa alami. Tidak lagi seperti Kanagra yang dahulu.
Percakapan mereka sempat berbelok ke arah yang tak penting, hingga akhirnya Kanagra mengusap pelipisnya. Raut wajahnya sedikit berubah.
"Ky... kenapa akhir-akhir ini kepala gue sering sakit?" tanyanya pelan. Puky langsung mendekat.
[Sistem tidak menemukan kelainan, Tuan. Kemungkinan hanya kelelahan biasa.]
Kanagra menghela napas dan memejamkan mata sesaat, lalu beranjak merebahkan diri di ranjang kecilnya.
[... Gimana kalau Tuan ga usah masuk aja hari ini?.] Kanagra tertawa pelan. Ia membuka mata dan menatap hologram di hadapannya.
"Khawatir?" Beonya dengan wajah yang tampak sangat tengil.
[Ga lah, Puky hanya menjalankan fungsi.] Namun nadanya tak sepenuhnya datar.
"Tenang aja," ujar Kanagra sambil bangkit kembali. "Gue tetap akan berangkat."
[Tapi-]
"Ssst." Kanagra tersenyum kecil. "Hari ini, hari dimulainya cerita, bukan? Love More, Clara... dan gue ga berniat membiarkannya berjalan seperti seharusnya." Puky terdiam, lalu bergumam pelan.
[Benar juga... Puky hampir lupa.] Kanagra terkekeh.
"Pelupa juga, lu." Ia baru saja hendak melangkah keluar kamar ketika-
Ceklek.
Ucapan Kanagra terhenti seketika ketika kenop pintu berputar dan daun pintu terbuka tanpa ketukan. Ia tersentak kecil, lalu menoleh cepat ke arah sosok yang masuk begitu saja ke dalam kamarnya.
"Baby." Suara itu begitu dikenalnya. Kanagra menatap polos pria yang melangkah mendekat-sepupu laki-lakinya sendiri.
"Kenapa, Abang?" tanyanya pelan, mendongakkan kepala saat sosok itu telah berdiri tepat di hadapannya.
"Ayo turun," ucapnya singkat.
Belum sempat Kanagra bereaksi, tubuh mungilnya telah terangkat dan terkurung dalam gendongan ala koala.
"Eh-Abang! Turunin! Kana belum ambil tas!" protes Kanagra, memberontak kecil dalam pelukan itu.
Pria tersebut adalah Gergo Graham Rexalio, putra kedua dari Grabiel dan Karina. Baru saja menamatkan pendidikannya, ia kini meniti kejayaan melalui perusahaan rintisan miliknya-GR. Enterprises, sebuah perusahaan teknologi dan konsultasi yang perlahan namun pasti mulai dikenal luas berkat kepiawaiannya.
Gergo mengeratkan gendongannya ketika Kanagra meronta, takut bocah itu terlepas dan terluka. "Kana, diam," ucapnya datar.
Kanagra menatapnya sesaat-namun kembali memberontak kecil, hingga kesabaran Gergo runtuh.
"KANAGRA!" Tubuh kecil itu tersentak. Seketika ia terdiam, menunduk, tak berani lagi menatap mata tajam di hadapannya.
"Sialan... berani banget dia bentak gue." Kanagra memaki dalam diam, menahan gejolak kesal yang berdesir di dadanya. Bukan karena ia tak terbiasa dibentak-Alex jauh lebih kuat dari sekadar hardikan semacam itu-namun tubuh yang kini ia huni bukanlah tubuh miliknya yang dahulu.
Tubuh ini rapuh. Begitu suara keras itu menggema, mata beningnya seketika dipenuhi air, bahunya bergetar tanpa mampu dicegah, dan rona merah menjalari wajah mungilnya. Reaksi yang terlalu jujur, terlalu lembut, seolah tubuh ini menolak segala bentuk kekasaran.
Alex ingin mengutuk kelemahan itu. Namun di balik kejengkelan, pikirannya berkelindan tenang. Justru karena tubuh ini lemah-terlalu mudah goyah, terlalu mudah disayangi-segala rencana yang telah ia susun akan berjalan lebih lancar.
Diposisi Gergo, ia membeku. Ia bukan orang yang mudah terpancing emosi-namun entah mengapa, setiap kali menyangkut Kanagra, kendalinya seolah melemah.
"Ka-Kana... maaf," ucapnya lirih. "Abang terbawa emosi."
Namun Kanagra tetap menunduk, jemarinya menggenggam ujung seragamnya erat.
"Baby..." Gergo mengangkat dagu Kanagra dengan dua jari, memaksanya menatap ke atas. Ia tertegun.
Mata bulat itu telah berkaca-kaca-bening, rapuh, dan penuh ketakutan. Rasa bersalah menyesak dadanya. Mengapa ia baru menyadari betapa lembut dan rentannya Kanagra selama ini?
"Hik-" Isakan kecil pecah. Air mata mengalir membasahi pipi chubby itu. Gergo segera mengusapnya dengan ibu jari, lalu meletakkan Kanagra di atas meja belajar setelah menyingkirkan barang-barang di sana.
"Hei... kenapa menangis, hm?" tanyanya lembut.
Kanagra menggeleng, menunduk lagi. Ia menggigit bibirnya, menahan suara yang ingin keluar. Namun tubuh tak pandai berbohong-bahunya bergetar, dadanya naik turun dalam isak yang tertahan. Melihat itu, Gergo semakin panik.
Ia kembali mengangkat Kanagra, mendekapnya erat, menimang perlahan seperti bayi kecil.
"Ssh... maaf," bisiknya di dekat telinga Kanagra. "Maaf sudah membentakmu." Tubuh Kanagra sedikit tersentak, namun perlahan tangisnya mereda. Ia hanya terisak kecil, menatap Gergo dengan pandangan sayu.
Gergo tersenyum kecil-lalu tanpa sadar memberikan kedua pipi Kanagra kecupan yang bertubi-tubi dengan gemas.
"Haha-Abang! Geli!" Kanagra tertawa kecil, tubuhnya meronta ringan.
"Oke, oke," Gergo tertawa pelan.
"Abang berhenti." Ia kembali menggendong Kanagra, meraih tas sekolah yang tergeletak tak jauh dari sana, lalu melangkah keluar kamar dengan bocah itu bersandar tenang di dada bidangnya.
-Tbc
Revisi : 11 Jan 26
KAMU SEDANG MEMBACA
A LIFE UNVEILED
Fantasia[SEDANG ROMBAK ALUR] Sebelum Rombak Alur : Transmigrasi Kana Setelah Rombak Alur : A Life Unveiled Seorang agen rahasia elit ISA bernama Kanava Kael Draxon tewas dalam misi dan terbangun di tubuh Kanaza Elvior Arvendra, antagonis dalam novel romanc...
