06. The beginning of the problem

13.8K 702 10
                                        

Hari itu, meskipun waktu terasa berjalan lambat, kedekatan mereka bertiga terasa semakin hangat—sebuah harmoni kecil yang menenangkan hati Kanagra setelah minggu-minggu penuh rasa canggung, malu, dan haru.

_________________________________________

Setelah selesai membereskan seluruh barang milik Kanagra, mereka bertiga meninggalkan rumah sakit. Kanagra berada nyaman dalam gendongan Jonson, tubuh mungilnya tertunduk santai di dada bidang pria itu. Bi Anna membawa koper serta perlengkapan Kanagra, langkahnya sigap namun tenang. Sementara Jonson, hanya membawa tas berisi barang pribadinya, tetap menjaga sikap waspada namun lembut.

Keberadaan Jonson di rumah sakit bukanlah tanpa alasan. Ia menginap untuk memastikan Tuan Kecilnya tetap nyaman, tidak merasa kesepian, atau terbebani oleh ketidakmampuan Bi Anna menemani sepenuhnya. Bi Anna sendiri, sebagai Kepala Pelayan Rumah Tangga di mansion Tuan William, tak bisa berlama-lama di rumah sakit. Ia memiliki tanggung jawab besar: memasak, membersihkan, dan merapikan kamar-kamar milik para atasan mereka.

Meskipun secara teori ada banyak pelayan yang bisa membantu, aturan di mansion sangat ketat. Tuan Gibran, tuan besar keluarga Rexalio’s, melarang sembarang pelayan masuk ke kamar anggota keluarganya. Hanya Bi Anna yang diizinkan, karena ia satu-satunya yang dipercaya untuk merapikan dan menjaga kamar para atasan. Tidak seorang pun boleh memasuki kamar mereka tanpa izin—aturan yang ketat itu menunjukkan betapa pentingnya kepercayaan dalam keluarga Rexalio’s, sekaligus membebani Bi Anna dengan tanggung jawab yang besar.

Di tengah semua itu, Kanagra tetap nyaman berada dalam gendongan Jonson, sesekali menatap Bi Anna dengan mata yang berbinar lembut. Hari itu, perjalanan pulang ke mansion terasa tenang namun sarat dengan perasaan—antara rasa lega, penasaran, dan sedikit gelisah akan dunia yang menanti di rumah mereka.


.

.

.

Kanagra menundukkan kepalanya, menyelusupkan wajahnya di cekungan leher Jonson, rasa malu membara dalam dada. Dirinya, meski telah menginjak usia enam belas tahun, merasa kikuk karena harus digendong seperti seorang anak kecil. Betapa ironisnya—tubuhnya yang sudah dewasa namun jiwa kecilnya tak mampu menolak kenyamanan yang diberikan oleh Jonson.

"Ungg… Kak Jo…" bisik Kanagra, suaranya lembut, nyaris tak terdengar oleh siapa pun selain Jonson. Karena jarak mulut Kanagra yang dekat dengan telinga Jonson, setiap kata terselipkan getar hati yang lembut, yang membuat bulu kuduk Jonson meremang.

"I-iya, Tuan Kecil?" jawab Jonson, suaranya sedikit gagap, berusaha menahan gemetar yang menyerang dari sentuhan dan nafas Kanagra di lehernya.

"Turunin…" ujar Kanagra dengan nada setengah memberontak, mencoba melepaskan diri dari gendongan. Namun kekuatan Jonson jauh melampaui Kanagra, membuatnya kewalahan. Setiap usaha menurunkan diri berakhir dengan kelelahan, dan akhirnya Kanagra terdiam, tubuhnya menyandar pasrah.

"Sudah, Tuan Kecil diam saja," ucap Jonson dengan lembut, nada suaranya mengandung ketenangan sekaligus kekuatan yang mampu menenangkan gelisah Kanagra. Mendengar itu, Kanagra terdiam sepenuhnya, menyerah pada gendongan yang kokoh. Ia kelelahan, napasnya berat, akibat energi yang terkuras habis saat ia berusaha memberontak keluar dari ruang rawatnya.

Dalam keheningan itu, hanya ada suara napas mereka berdua—Kanagra yang lelah, dan Jonson yang tenang namun waspada, menjaga Tuan Kecilnya dengan sepenuh hati.

A LIFE UNVEILEDCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang