08. Hope?

13.7K 618 23
                                        

Bi Anna yang telah menyeduh susu untuk Kanagra segera melangkah kecil menghampiri Jonson. Di dalam gendongannya, Kanagra masih menangis keras—isakan yang membuat Jonson kewalahan, namun tetap ia ayun tubuh kecil itu dengan sabar, seolah takut satu gerakan keliru akan melukai hatinya.
Sejak tadi, beberapa anggota keluarga Rexalio memperhatikan tanpa berkata apa-apa. Ada rasa ganjil yang menyusup ke benak mereka—sejenis gemas yang tak biasa. Entah sejak kapan, Kanagra tampak berbeda. Lebih lembut. Lebih rapuh. Dan entah mengapa… sulit untuk diabaikan.

“Jo.” Jonson menoleh saat namanya dipanggil. Napasnya terhela lega ketika melihat botol di tangan Bi Anna. Benda itu—yang selalu menjadi penenang bagi Tuan Kecilnya, bahkan saat perasaan Kanagra tak menentu.

“Ini,” ucap Bi Anna singkat. Jonson menerimanya dengan hati-hati, lalu menyentuhkan dot silikon itu ke bibir mungil Kanagra. Seperti naluri yang telah lama terpatri, Kanagra langsung menghisapnya dengan rakus. Tangis itu perlahan reda.

Kelopak mata Kanagra merapat, tubuh kecilnya mengendur dalam pelukan Jonson. Meski belum sepenuhnya terlelap, isakan samar masih terdengar, memecah kesunyian ruangan yang mendadak terasa terlalu sunyi.
Mereka terdiam.

Usia Kanagra seharusnya telah melewati masa itu—namun pemandangan pipi gembul yang bergerak naik-turun mengikuti hisapan dot justru menimbulkan rasa asing di dada mereka. Aneh─namun menggemaskan. Dorongan kecil untuk mencubit atau mencium pipi itu tertahan oleh ego yang selama ini menjadi dinding kokoh. Namun tidak semua tatapan memuat kehangatan.

Isabella menatap Kanagra dengan kebencian yang tak sepenuhnya tersembunyi. Ia tak suka melihat perhatian keluarga itu tertuju pada sosok yang seharusnya tak berarti apa-apa. Dalam pikirannya, mereka hanya boleh memandang dirinya—bukan Kanagra.
Sayangnya, kebencian itu tertangkap oleh sepasang mata lain.

Sebuah smirk tipis terukir. Kecurigaan yang selama ini disimpan akhirnya menemukan bentuk. Kini ia tahu—apa yang Isabella sembunyikan selama ini.

Sementara itu, Bi Anna dan Jonson menghela napas lega. Kanagra akhirnya tertidur.
“Jo,” bisik Bi Anna, “pindahkan Tuan Kecil ke kamarnya. Tidak baik membiarkan beliau tidur seperti ini.” Jonson mengangguk. Ia membenarkan posisi Kanagra, memastikan tubuh kecil itu nyaman sebelum melangkah.

“Mari, Bi.” Mereka berjalan berdampingan menuju lift khusus para pekerja mansion. Namun langkah itu terhenti. “Tunggu.” Suara bariton itu tak mungkin keliru. William Rexalio Swiss. Ayah dari Kanagra.

Putra bungsu dari Gibran Rexalio Ashar—pemimpin lama Noir Familia, organisasi yang namanya ditakuti di dunia bawah maupun dunia bisnis. Darah bangsawan mengalir kental dalam diri William, sebagaimana dalam diri ayahnya. Kini, dialah yang memegang tampuk kekuasaan Noir Familia, menggantikan sang pendiri.

Tak ada yang berani mengusik keluarga Rexalio. Namun, selalu ada mereka yang diam-diam berharap melihat keluarga ini runtuh.

Di sisi Gibran, pernah berdiri Silvia Zlas Rexalio—wanita yang dulu dikenal sebagai mata-mata tunggal, pengumpul rahasia yang bekerja dalam senyap. Kini, ia memilih kehidupan lain, meninggalkan dunia kelam demi keluarga, membangun namanya sebagai perancang busana dengan tangannya sendiri.
Dan kini, William berdiri di hadapan mereka.
Dengan tatapan yang tak menampakkan isi hatinya.

Kini, rumah mode itu telah menjelma menjadi nama besar yang menjangkau banyak penjuru dunia. Cabangnya berdiri di berbagai negeri, dan tak ada satu pun mata yang asing terhadap rancangan busana yang lahir dari tangannya. Setiap karya yang ia luncurkan selalu menjadi perbincangan, menyebar bagai api di musim kering—habis terjual dalam sekejap, seakan dunia enggan menunggu lebih lama.

Itulah sebabnya nama Rexalio berdiri di puncak, disegani sekaligus ditakuti. Bukan hanya oleh kalangan bisnis, melainkan oleh bangsa-bangsa lain yang memahami betul arti kekuasaan keluarga itu. Tak seorang pun berani mengusik ketenteraman Rexalio, sebab satu kesalahan kecil saja cukup untuk menyeret seluruh garis keturunan menuju kehancuran yang tak bersisa.

A LIFE UNVEILEDCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang