Ia tampak sempurna. Dan memang begitulah keluarga Rexalio—sempurna dalam rupa.
Hanya satu yang kurang dari mereka. Kejernihan hati untuk berpikir dengan benar.
───────────────────────────
“Dia tidak akan ikut denganmu, Jonson.”
S
uara itu jatuh berat, dingin, dan penuh tekanan. Tatapan tajam yang diarahkan kepada Jonson membuat bulu kuduk sang pengawal berdiri. Bukan hanya Jonson—para penjaga, pelayan yang berlalu-lalang, bahkan seluruh anggota keluarga Rexalio turut terdiam, heran oleh sikap sang pria.
Di manakah sosok yang sebelumnya selalu acuh, dingin, dan seolah tak peduli akan apa pun?
Di manakah pria yang tadi hanya berdiam diri ketika Jonson hampir membawa Kanagra ke belakang?
“Ada apa denganmu, Agra?” Silvia akhirnya bersuara. Aura tak mengenakkan yang terpancar dari cucu ketiganya membuat naluri seorang nenek terusik. Namun pertanyaannya tak mendapatkan jawaban.
Sosok yang dipanggil Agra—atau bernama lengkap ZIOS ZREAGRA REXALIO, putra sulung dari William Rexalio Swiss—tetap membisu, tatapannya tak lepas dari Kanagra.
“Pergilah,” ucap Zreagra singkat. “Biarkan dia di sini.”
“Ba—baik, Tuan Muda.” Jonson segera berdiri dari posisi jongkoknya. Ia menatap Kanagra sejenak, berpamitan dengan senyum tipis sebelum membungkuk sopan kepada seluruh keluarga Rexalio, lalu beranjak pergi.
“Tck… atmosfernya makin nggak enak,” Gumam Kanagra dalam hati dengan nada julid.
Namun wajah yang ia perlihatkan sungguh berbanding terbalik—polos, lugu, dan nyaris terlalu manis untuk suasana setegang ini. Tatapannya menyapu satu per satu anggota keluarga yang kini menatapnya dengan sorot mata yang tak dapat ia tafsirkan.
Kanagra menundukkan kepala, menghindari tatapan tajam Zreagra—kakak sulung dari pemilik tubuh yang kini ia tempati.
“Angkat kepalamu, Kanagra Caine Rexalio.”
Nama lengkap itu diucapkan dengan tekanan dingin, membuat Kanagra—atau setidaknya aktingnya—semakin gemetar. Ia perlahan mendongak.
Degg’.
Seakan tersambar petir, gejolak aneh merambat di dada seluruh anggota keluarga Rexalio. Tatapan polos itu—lugu, bersih, tanpa kepura-puraan—menghantam mereka tanpa ampun.
Perasaan apa ini?
Pertanyaan itu bergaung serempak dalam batin mereka. Sebuah rasa asing, yang tak pernah mereka rasakan—bahkan pada Isabella, yang selama ini mereka anggap sebagai bungsu keluarga.
Dulu, setiap kali melihat Kanagra, yang ada hanyalah jijik, benci, dan keinginan meremukkan mentalnya. Namun kini—semua itu seakan lenyap, digantikan dorongan aneh untuk melindungi, menyayangi, bahkan memanjakannya.
“Mereka kenapa sih?” Batin Kanagra dengan percaya diri yang nyeleneh. “Terkesima sama ketampanan gue, ya?” Padahal raut wajahnya justru tampak kebingungan dan sayu—seperti anak anjing yang menunggu untuk dipeluk.
Kombinasi yang justru membuat mereka semakin terjerat dalam pesonanya.
Namun dari sisi lain meja, sepasang mata menatap Kanagra dengan kebencian pekat.
Isabella.
Anak pungut yang diadopsi Karina dari panti asuhan miliknya sendiri.
Ia membenci Kanagra. Membenci bagaimana seluruh perhatian yang seharusnya miliknya kini beralih pada bocah sialan itu. Dalam benaknya, ia telah menyusun rencana—perlahan, kejam, dan menyenangkan.
Membunuhnya?
KAMU SEDANG MEMBACA
A LIFE UNVEILED
Fantasy[SEDANG ROMBAK ALUR] Sebelum Rombak Alur : Transmigrasi Kana Setelah Rombak Alur : A Life Unveiled Seorang agen rahasia elit ISA bernama Kanava Kael Draxon tewas dalam misi dan terbangun di tubuh Kanaza Elvior Arvendra, antagonis dalam novel romanc...
