Happy Reading semuaaaa~
...
👶👶👶
Sungguh, attalariick bingung dengan para saudaranya yang menurutnya sangat aneh, bagaimana tidak aneh, ia di perlakukan layaknya bayi yang lemah, kemana-mana digendong, di mandikan, kalau mau makan di suapi bubur, bahkan ia minum susu di dot. Ugh sungguh menurut jiwa juan itu sangat menggelikan, tapi kenapa ia tak pernah menolak dan selalu menuruti mereka?
Sudah tiga minggu lebih ia berada di didunia ini entah ini dunia nyata atau sekedar fantasi, ia pun tak tahu. Dirinya tak pernah bertemu dengan ke dua orang tua si pemilik raga yang ia tempati, ingin bertanya tapi takut.
Selama itu juga ia tak pernah keluar dari mansion, paling jauh ya halaman mansion, ia juga tak tahu kenapa ia bisa di jaga dengan ketat oleh para saudaranya. Lamunannya bubar karena pandangannya menangkap se ekor kucing yang berkeliaran di halaman belakang mansion.
"Kucing." attalariick menunjuk hewan berbulu oren itu.
"Kenapa? Suka?" tanya Albert, yah sekarang attalariick lagi bersantai dengan adiknya itu, dengan ia yang di pangku oleh sang adik, sungguh bukan mencerminkan sebagai kakak adik yang benar.
"Hum." attalariick mengangguk semangat kala di tanya begitu, ia suka kucing, tapi juga dejavu saat melihat hewan itu, ia akan teringat kematiannya.
"Tapi takut." attalariick memeluk badan sang adik dengan wajah yang ia benamkan pada dada Albert.
"Kenapa takut? Tadi katanya suka."
Attalariick menggeleng pelan, bahkan tubuhnya sudah gemetar, mengetahui bahwa sosok yang ada di pangkuannya ketakutan, Albert berdiri dari duduknya dengan attalariick yang berada di gendongannya.
"Masuk yah, angin malam gak baik buat adek."
Attalariick cemberut saat mendengar Albert memanggilnya adek, "kok adek sih, kan atta abangnya bukan adeknya al." gerutunya kesal.
Albert hanya terkekeh mendengarnya, "kan kamu kecil, juga masa abang di gendong adek sih?" godanya pada attalariick yang menatap sengit ke arahnya dengan mata yang sudah berkaca-kaca, ingat attalariick itu cengeng.
"Hiks jahat." attalariick segera menyembunyikan wajahnya di leher sang adik, sedangkan si pelaku yang membuat attalariick menangis sudah tertawa, rasanya sangat menyenangkan mengerjai kakaknya sampai menangis.
"Hiks, gak usah hiks ketawa." attalariick memukul punggung Albert dengan sekuat tenaga, mampu membuat sang empu meringis kesakitan, walaupun ia hanya bercanda, ayolah tangan attalariick itu kecil, pukulan seperti itu tak ada apa-apanya di bandingkan badannya yang besar.
"Eh kenapa adek nangis?"
Albert melirik pada axel yang tiba-tiba datang entah dari mana, "lo kan yang bikin adek nangis." tudingnya penuh curiga pada saudara bungsunya itu.
"Iya, soalnya adek lucu kalo nangis." jawabnya jujur yang di akhiri dengan kekehan ringan.
Axel langsung merebut attalariick dari gendongan Albert, membuat sang empu melotot tajam.
"Adek udah ya jangan nangis lagi, biar abang ax hukum dia nanti." axel mengelus punggung kecil sang adik, attalariick pun hanya mengangguk saja.
"Bang—hmmpp"
Arsel membekap mulut Albert yang siap mengeluarkan kata-kata aesthetic nya, "eitss, gak boleh ngumpat masih ada atta di sini."
Albert menyingkirkan tangan arsel yang berada di antara mulut dan hidungnya, "bau jigong tangan lo, abis cebok yah."
Arsel melotot tak Terima di katakan begitu dia, "sembarangan." sinisnya tajam, kelakuan mereka berdua mengundang tawa kecil dari attalariick.
"Yuk ah dek, kita ke kamar aja." axel berlalu begitu saja, meninggalkan dia human yang menatap punggung axel dengan tajam.
"Sialan emang si bang ax, sekarang kan giliran gue tidur sama adek." gerutu Albert dan pergi tanpa berpamitan pada arsel.
"Njir lah, gue sendirian."
👶👶👶
Axel menidurkan attalariick di kasur king sizenya, lalu ia mengambil botol dot yang berisi susu dan di berikan nya pada sang adik, ia memang sudah menyiapkan susu.
Ini sih yang membuat attalariick heran pada dirinya sendiri, dia ini udah besar, tapi kenapa malah meminum susu dalam botol dot? Lebih herannya lagi, kenapa ia tak menolak? Malahan ia sangat menikmatinya karena menurutnya itu enak.
Mata attalariick mulai memejam seiring dengan puk pukan lembut di bokongnya, siapa lagi pelakunya kalau bukan axel, ia menahan gemas agar tidar mencium atau mencubit pipi sang adik mengingat attalariick yang sudah memejamkan matanya.
"Tidur nyenyak adek, terus begini yah."
👶👶👶
Attalariick memandang tiga saudaranya yang sudah berseragam rapi, dan tiga lainnya memakai jas kantor, tunggu kalau di ingat-ingat, ia kan masih 16 tahun, berarti ia juga sekolah dong.
"Abang, kenapa atta enggak sekolah?" tanya attalariick pada althair, karena memang posisinya ia sedang di pangku oleh althair.
Pertanyaan itu mengundang tatapan dingin dari para saudaranya yang lain.
"Kan adek belum sembuh total, jadi masih belum bisa masuk." jawab althair seraya menyuapi attalariick dengan bubur bayi.
Attalariick tersenyum mendengar itu, berarti ia akan bersekolah lagi dong, bukannya ia semangat untuk belajar, tapi ia semangat untuk melihat dunia luar, ia sungguh bosan berada di mansion terus, ia ingin sekali melihat dunia ini, apakah sama atau berbeda dengan dunianya dulu, kalau sama, ia akan mencari bundanya, harus.
"Yuk semangat lagi makannya, emangnya adek mikirin apa?"
"Hehe, adek gak sabar buat sekolah." jawabannya riang.
Setelah mereka semua selesai sarapan, saatnya mereka semua berangkat, dan harus meningggalkan attalariick di mansion dengan pengasuh.
"Adek jangan sedih yah, nanti abang dan abang yang lainnya bakal bawain adek oleh-oleh, gimana?"
Attalariick mengangguk semangat mendengar tawaran menggiurkan dari arsel, lalu mereka ber-6 mencium attalariick sebelum pergi, dan kini attalariick tinggal di mansion bersama ken dan biba si pengasuh bayi besar ini selama di tinggal oleh para saudaranya.
👶👶👶
Sorry say kalau upnya agak lama, sedikit pula.
Nanti aku usahain aku upnya banyak.
Yuk semangatin aku☺

KAMU SEDANG MEMBACA
ADEEEEKK
RandomTiba-tiba memiliki 6 saudara? Padahal seingatnya ia anak tunggal Mana mereka protektif lagi penasaran? yuk langsung baca aja